Apel yang digelar menjelang malam takbiran itu turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Bitung, jajaran pejabat utama Polres Bitung, serta perwakilan Senkom Mitra Polri yang diwakili Wakil Ketua Senkom Mitra Polri Kota Bitung, Bones Alfari.
Wali Kota Bitung Hengky Honandar diwakili Asisten I Setda, Forsman Dandel.
Kabag Ops Polres Bitung AKP Novrianto Sadia,S.Sos., S.H.—mewakili Kapolres Bitung AKBP Albert Zai,S.I.K.,M.H.—menegaskan bahwa pengamanan malam takbiran bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia menyebut keterlibatan unsur masyarakat seperti Senkom sebagai bagian dari strategi memperkuat daya jangkau pengamanan di lapangan.
“Ini bukan hanya tugas TNI-Polri. Semua unsur harus solid, satu komando. Kegiatan masyarakat dengan massa besar seperti malam takbiran memiliki potensi kerawanan jika tidak dikelola bersama,” ujar Novrianto.
Kehadiran Senkom Mitra Polri, menurutnya, menjadi elemen penting dalam mendukung deteksi dini dan respons cepat di titik-titik rawan. Dengan estimasi peserta pawai mencapai 2.000 orang, aparat tak hanya dituntut hadir secara fisik, tetapi juga mampu membaca dinamika massa yang bergerak.
Di lapangan, peran Senkom tidak berhenti pada formalitas apel. Mereka ditempatkan bersama unsur pengamanan lain di sejumlah titik strategis, termasuk sepanjang rute pawai yang melintasi pusat keramaian kota—dari Patung Cakalang hingga kawasan Girian dan Pasar Girian.
Keterlibatan Senkom Mitra Polri bukan fenomena sesaat. Dalam beberapa tahun terakhir, organisasi ini secara konsisten dilibatkan dalam berbagai agenda pengamanan di Kota Bitung—mulai dari kegiatan keagamaan, operasi kepolisian, hingga pengamanan event publik berskala besar. Kolaborasi ini menjadi bagian dari pola sinergitas yang dibangun bersama TNI, Polri, dan pemerintah daerah dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) serta pemeliharaan keamanan (harkamtibmas).
Secara keseluruhan, pengamanan malam takbiran tahun ini melibatkan 23 pos pengamanan serta lima titik penebalan pasukan. Skema ini dirancang untuk menekan potensi kecelakaan lalu lintas, kemacetan, hingga gesekan antar kelompok.
Namun, di balik desain pengamanan yang terstruktur, tersimpan pekerjaan rumah yang lebih besar: membangun kembali kepercayaan publik. Selama beberapa tahun terakhir, isu keamanan di Bitung kerap mencuat, terutama dalam momentum yang melibatkan konsentrasi massa.
Ketika malam tiba dan takbir menggema, seluruh elemen yang hari ini berdiri dalam satu barisan akan diuji: apakah sinergi yang dibangun benar-benar solid, atau sekadar seremoni tahunan.
Bagi Kota Bitung, malam takbiran tahun ini bukan hanya soal menjaga tradisi. Ia adalah panggung pembuktian—bahwa keamanan bukan sekadar klaim, melainkan kerja bersama yang nyata.
