Uji Humanisme di Pos Lebaran: Wakapolresta Manado Sidak Titik Strategis Ops Ketupat

 



LUGAS | MANADO — Di tengah narasi besar soal “pelayanan humanis” yang terus digaungkan, Wakapolresta Manado, Eko Sisbiantoro, memilih menguji langsung implementasinya di lapangan. Selasa, 17 Maret 2026, ia menyambangi sejumlah pos Operasi Ketupat Samrat 2026—mulai dari pusat perbelanjaan hingga simpul transportasi publik yang dipadati warga jelang Idul Fitri.

Titik yang disasar bukan sembarang lokasi: Pos Pam MBW, Pos Pelayanan Terminal, Pos Pam Ketang Baru, Pos Pam Transmart, hingga Pos Pelayanan Bandara. Kawasan-kawasan ini dikenal sebagai episentrum mobilitas masyarakat—ruang di mana potensi gangguan keamanan dan kebutuhan pelayanan bertemu dalam intensitas tinggi.

Dalam peninjauan itu, sejumlah pejabat ditempatkan langsung di garis depan. Kompol Hesky Yohana Pasulu mengawal Pos Yan Terminal, AKP Budi Priyanto di Pos Pam Ketang Baru, AKP Djonli Adam Pangemanan di Pos Pam Transmart, serta AKP Jani I. Stefanus Ramoh di Pos Yan Bandara. Dukungan operasional diperkuat oleh IPTU Noviandi S. Hiola, IPTU J. Sihaloho, IPDA Marsudi, hingga IPDA Robinson Baiku.

Namun, pertanyaan yang mengemuka bukan sekadar soal distribusi personel—melainkan sejauh mana kehadiran aparat benar-benar dirasakan publik sebagai “pelayanan”, bukan sekadar “penjagaan”.

“Pelaksanaan tugas di lapangan harus mengedepankan sikap ramah, responsif, dan penuh kepedulian,” kata Eko di sela peninjauan. Ia menekankan bahwa masyarakat yang bepergian atau beraktivitas di pusat keramaian harus merasa aman—dan, lebih penting, terbantu.

Pernyataan itu menggarisbawahi perubahan pendekatan Polri dalam beberapa tahun terakhir: dari model represif ke pola pelayanan publik. Namun, dalam praktiknya, standar “humanis” kerap menjadi jargon yang diuji di titik-titik paling rawan—terminal, pusat belanja, dan bandara—di mana tekanan situasi sering kali tinggi dan serba cepat.

Wakapolresta juga mengingatkan pentingnya stamina dan kewaspadaan personel, sekaligus memperkuat koordinasi lintas instansi. Sebab, keberhasilan Operasi Ketupat tidak hanya bergantung pada jumlah aparat, tetapi pada kemampuan merespons situasi secara cepat dan terukur.

Peninjauan ini menjadi cermin awal kesiapan pengamanan Lebaran di Manado. Namun, seperti tahun-tahun sebelumnya, indikator sesungguhnya baru akan terlihat saat arus mudik mencapai puncak—ketika klaim “humanis” diuji oleh kepadatan, kelelahan, dan ekspektasi publik yang terus meningkat.

Di situlah pos pengamanan akan membuktikan dirinya: apakah benar menjadi ruang pelayanan yang hidup, atau sekadar titik formalitas dalam peta operasi tahunan.

0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1