LUGAS | BITUNG — Pengawasan Operasi Ketupat Samrat 2026 digelar di lingkungan Kepolisian Resor Bitung, Kamis (19/3/2026), dengan satu pesan utama: memastikan pelayanan kepolisian berjalan optimal dan humanis. Namun, di balik agenda formal tersebut, publik kerap menanti sejauh mana pengawasan benar-benar berdampak pada kualitas pelayanan di lapangan.
Tim pengawasan dari Kepolisian Daerah Sulawesi Utara melalui Inspektorat Pengawasan Daerah (Itwasda) tiba sekitar pukul 10.00 WITA dan langsung melakukan pemeriksaan di ruang operasi. Fokusnya mencakup kesiapan personel, kelengkapan administrasi, hingga sarana prasarana yang menjadi tulang punggung operasi pengamanan hari raya.
Dipimpin Auditor Kepolisian Madya Kombes Pol C. Bambang Harleyanto, tim disambut Kapolres Bitung AKBP Albert Zai bersama jajaran pejabat utama. Tanpa banyak seremoni, pemeriksaan berlanjut ke Posko Operasi dan kemudian bergerak ke Pos Pengamanan (Pos Pam) Girian—titik krusial yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Di lapangan, pengawasan tidak hanya memeriksa kehadiran personel, tetapi juga menilai kesiapan riil: apakah prosedur dijalankan, apakah fasilitas memadai, dan yang tak kalah penting, apakah pendekatan humanis benar-benar diterapkan.
“Kegiatan Wasops ini menjadi evaluasi sekaligus penguatan bagi kami agar pelaksanaan Operasi Ketupat berjalan maksimal,” ujar Kabag Ops AKP Novri Sadia. Ia menegaskan bahwa seluruh personel telah diarahkan untuk mengedepankan pendekatan persuasif dan responsif.
Pernyataan itu menjadi penting, mengingat Operasi Ketupat bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah wajah pelayanan kepolisian di momen sensitif—ketika mobilitas masyarakat meningkat dan potensi gangguan keamanan ikut menguat.
Pengawasan yang berlangsung hingga pukul 14.50 WITA itu ditutup tanpa catatan insiden berarti. Namun pertanyaan yang tersisa lebih mendasar: apakah hasil pengawasan akan berujung pada perbaikan konkret, atau hanya berhenti sebagai laporan administratif?
Di Bitung, jawabannya akan terlihat dalam beberapa hari ke depan—saat masyarakat benar-benar merasakan, apakah kehadiran polisi di lapangan sekadar terlihat, atau benar-benar melindungi.


