LUGAS | MANADO — Asap kebakaran memang telah lama padam di Kelurahan Kairagi Weru. Namun sisa-sisa arang, puing rumah, dan trauma warga masih berserakan di lapangan. Di tengah situasi itu, kehadiran Komando Daerah Maritim VIII (Kodaeral VIII) pada Rabu, 30 April 2026, menghadirkan respons cepat yang tak sekadar simbolik.
Dipimpin Wakil Komandan, mewakili Panglima yang dijabat Triesananto Suhendi, prajurit TNI AL turun langsung ke titik terdampak. Mereka tidak berdiri di garis komando, tetapi menyatu dengan warga—mengangkat puing, membersihkan sisa kebakaran, hingga menata ulang lingkungan yang porak-poranda.
Di lapangan, tak terlihat sekat antara seragam loreng dan pakaian harian warga. Aktivitas gotong royong berlangsung nyaris tanpa komando formal—sebuah respons yang lahir dari kebutuhan mendesak, bukan sekadar agenda seremonial.
“Fokus utama kami memastikan lingkungan kembali aman dan layak, sekaligus membantu masyarakat bangkit secepat mungkin,” ujar salah satu perwira di lokasi.
Tak berhenti pada pembersihan, satu langkah strategis juga diambil. Di halaman Graha Yos Sudarso, Markas Kodaeral VIII, didirikan posko bantuan yang difungsikan sebagai pusat koordinasi dan distribusi logistik. Posko ini menjadi titik temu antara kebutuhan warga dan aliran bantuan yang mulai berdatangan.
Kehadiran posko tersebut penting. Dalam banyak kasus bencana, distribusi bantuan kerap tersendat bukan karena minimnya logistik, melainkan lemahnya koordinasi. Di Kairagi Weru, celah itu coba ditutup sejak awal.
Sejumlah pejabat utama, para komandan satuan kerja, hingga personel Kodaeral VIII turut terlibat langsung dalam kegiatan ini. Mereka tidak hanya mengawasi, tetapi ikut bekerja di lapangan—sebuah pendekatan yang mempercepat proses pemulihan awal.
Meski demikian, pekerjaan besar belum selesai. Pembersihan hanyalah tahap awal dari proses panjang rehabilitasi. Warga masih menghadapi persoalan hunian, pemulihan ekonomi, hingga kepastian bantuan lanjutan.
Di titik ini, kehadiran TNI AL menjadi penting—bukan sebagai pengganti peran pemerintah sipil, tetapi sebagai penguat respons awal di tengah situasi darurat.
Peristiwa di Kairagi Weru sekali lagi menegaskan satu hal: dalam krisis, yang paling dibutuhkan bukan hanya kecepatan, tetapi kehadiran nyata di tengah rakyat.



