![]() |
| Produk UMKM Sasirangan binaan Ny. Eka Agustina Pratiwi, anggota Persit Kartika Chandra Kirana Banjar, Kalimantan Selatan. Foto: Persit KCK Koorcab Pusziad |
Sebagai istri dari Kolonel Czi Burhannudin, Ny. Eka tidak hanya berperan sebagai pendamping prajurit, tetapi juga menjadi pelaku UMKM yang mengangkat warisan budaya daerah. Kecintaannya terhadap kain Sasirangan tumbuh dari latar belakang keluarga yang telah menekuni kerajinan tersebut sejak 1984 serta ketertarikannya pada keindahan motif yang sarat makna di setiap coraknya.
“Sejak kecil saya sudah melihat langsung bagaimana kain Sasirangan dibuat. Dari situ tumbuh kecintaan saya, apalagi setiap motif memiliki makna dan filosofi tersendiri,” ujar Ny. Eka.
Upaya yang dijalankan Ny. Eka mendapat dukungan penuh dari organisasi Persit Kartika Chandra Kirana melalui program “Persit Bisa 2” yang digagas Ketua Umum Persit Kartika Chandra Kirana, Ibu Uli Simanjuntak. Program ini menitikberatkan pada pemberdayaan anggota melalui pengembangan UMKM dan pelestarian kerajinan lokal.
Program Persit Bisa 2 yang akan diselenggarakan di Balai Kartini Jakarta Selatan pada bulan Mei mendatang ini juga bertujuan untuk mempromosikan dan memperkenalkan hasil karya para perkumpulan istri Prajurit TNI AD kepada masyarakat serta mengembangkan keterampilan dan kreativitas dalam berbagai bidang usaha yang dapat memperkuat perekonomian keluarga prajurit yang lebih baik dan sejahtera.
Dukungan juga terus mengalir dari jajaran Pembina dan Ketua Persit Kartika Chandra Kirana yang mendorong berkembangnya usaha Sasirangan Kayuh Baimbai.
Dalam proses produksinya, pembuatan kain Sasirangan membutuhkan ketekunan, ketelitian serta kesabaran tinggi. Setiap helai kain dijahit dengan teknik jelujur untuk membentuk motif, kemudian melalui proses pewarnaan alami yang menghasilkan warna khas dan mempesona.
“Proses membuat Sasirangan memang tidak instan. Butuh kesabaran dan ketelitian, tetapi dari situ justru lahir karya yang indah dan bernilai,” ungkapnya.
Hasil karya tersebut tidak hanya berupa kain, tetapi juga berkembang menjadi berbagai produk seperti tas, aksesoris, hingga busana pria dan wanita yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
Kisah ini menjadi gambaran nyata bagaimana Persit Kartika Chandra Kirana tidak hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi juga ruang tumbuh bagi kreativitas dan kemandirian anggotanya. Melalui UMKM Sasirangan, anggota Persit Kartika Chandra Kirana mampu berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga sekaligus melestarikan budaya bangsa.
Lebih dari sekadar kain, Sasirangan menjadi simbol harapan dan ketangguhan perempuan. Persit Kartika Chandra Kirana pun menunjukkan perannya sebagai motor penggerak perubahan, bahwa perempuan tidak hanya mendampingi, tetapi juga mampu berkarya dan memberi dampak nyata bagi masyarakat. (TJ)

.jpg)