Di Balik Label “Air Sehat”: Transformasi Perumda Bitung dan Ujian Konsistensi Layanan

 



LUGAS | BITUNG — Penghargaan “Air Sehat” tingkat Sulawesi Utara yang diterima Perumda Air Minum Kota Bitung menempatkan nama Alfred Salindeho di garis depan panggung. Namun, di balik seremoni dan tepuk tangan, ada proses panjang yang tak selalu terlihat: pembenahan sistem, pengetatan standar, hingga tekanan menjaga kualitas layanan di tengah keterbatasan infrastruktur.

Pengakuan itu diserahkan dalam forum komunikasi eksekutif provinsi. Di hadapan kepala daerah dan jajaran perangkatnya, Perumda Bitung dinilai memenuhi kriteria kualitas air layak konsumsi berdasarkan parameter kesehatan yang ditetapkan tim penilai. Indikatornya mencakup pengolahan, distribusi, hingga konsistensi mutu di tingkat pelanggan.

Bagi Alfred, label “Air Sehat” bukan sekadar capaian administratif. Ia menyebutnya sebagai titik uji berikutnya.

Status ‘Air Sehat’ bukan sekadar label. Ini tanggung jawab besar untuk memastikan air yang sampai ke masyarakat benar-benar aman dan layak konsumsi setiap saat,” ujar Alfred usai menerima penghargaan.

Dalam dua tahun terakhir, manajemen Perumda disebut melakukan pengetatan SOP—mulai dari kontrol kualitas di instalasi pengolahan, peningkatan frekuensi uji laboratorium, hingga perbaikan jaringan distribusi yang rentan kebocoran. Langkah-langkah itu diklaim berkontribusi pada stabilitas mutu air di sejumlah wilayah layanan.

Namun, pekerjaan belum selesai. Kota Bitung menghadapi tantangan klasik: pertumbuhan penduduk, tekanan terhadap sumber air baku, serta jaringan pipa yang tidak merata. Di sejumlah titik, keluhan pelanggan tentang tekanan air dan kontinuitas distribusi masih muncul.

Pemerintah kota melihat capaian ini sebagai sinyal perbaikan tata kelola. Hengky Honandar menilai sinergi antar-unit dalam Perumda mulai menunjukkan arah yang lebih profesional.

“Kami mengapresiasi kerja tim Perumda. Peningkatan kualitas layanan harus terus dijaga, karena dampaknya langsung dirasakan masyarakat,” kata Hengky.

Di internal perusahaan, Alfred menekankan faktor manusia sebagai penentu. Ia menyebut kerja teknis di lapangan—operator instalasi, petugas jaringan, hingga tim uji kualitas—sebagai tulang punggung capaian.

“Penghargaan ini milik seluruh tim. Kami tidak boleh cepat puas. Tantangan ke depan justru lebih kompleks,” ujarnya.

Ke depan, Perumda menargetkan penguatan teknologi pengolahan dan pemantauan kualitas secara real-time, sekaligus memperluas cakupan layanan. Agenda ini menuntut konsistensi anggaran, disiplin operasional, dan transparansi kinerja—tiga hal yang sering menjadi titik lemah banyak perusahaan air daerah.

Penghargaan “Air Sehat” memberi legitimasi awal. Tapi ujian sesungguhnya ada pada keberlanjutan: apakah standar itu bisa dipertahankan di seluruh jaringan, setiap hari, hingga ke keran rumah pelanggan. Di titik itulah, prestasi berhenti menjadi seremoni dan berubah menjadi tanggung jawab publik.

0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1