LUGAS | Wakatobi - Tradisi unik pencarian jodoh kembali semarak dalam Festival Kabuenga Wasinta Pulau Kapota 2026 yang digelar di Desa Kapota, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara, Minggu (5/4/2026). Festival ini menjadi magnet wisata budaya yang menghadirkan perpaduan antara tradisi leluhur, seni pertunjukan, dan interaksi sosial kaum muda.
Kabuenga merupakan tradisi khas masyarakat Pulau Kapota yang dikenal melalui simbol ayunan raksasa—pusat dari seluruh rangkaian ritual. Di ayunan inilah, para muda-mudi dipertemukan dalam suasana adat yang sarat makna, menjadikan festival ini bukan sekadar hiburan, melainkan ruang pertemuan yang berakar kuat pada nilai budaya.
Sejak pagi, masyarakat setempat mengenakan busana adat Wakatobi, menampilkan tarian dan nyanyian tradisional yang diwariskan turun-temurun. Suasana kian meriah ketika para pemuda dan pemudi mulai berinteraksi melalui serangkaian prosesi yang unik dan simbolis.
Tradisi Kabuenga diawali dengan doa bersama yang dipimpin tokoh adat sebagai bentuk permohonan keberkahan. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan ritual kadandio sarra, yakni arak-arakan mengelilingi lapangan sebanyak tiga kali, diikuti para tetua adat, kaum ibu, hingga barisan gadis di bagian belakang.
Puncak interaksi terjadi dalam tradisi jual beli minuman. Para gadis akan menawarkan minuman kepada pria yang disukai. Menariknya, para pria tidak diperkenankan menolak dan wajib membayar sebagai bentuk penghormatan. Tahapan ini menjadi simbol awal ketertarikan yang terjalin secara halus dalam bingkai adat.
Selanjutnya, dalam prosesi pasubui, para pria membalas dengan memberikan makanan atau barang kepada gadis pilihan mereka. Dari sinilah terlihat pasangan yang saling menyukai. Mereka yang telah menemukan kecocokan diperbolehkan menaiki ayunan Kabuenga di tengah arena, menjadi simbol ikatan yang mulai terjalin.
Menurut cerita masyarakat setempat, tradisi ini berakar dari legenda La Lili Alamu, putra mahkota Kerajaan Kambode di Kapota, yang memilih pasangan hidupnya melalui sayembara sarung. Kisah ini kemudian berkembang menjadi tradisi kolektif yang melibatkan seluruh pemuda desa.
Meski zaman telah berubah dan aplikasi kencan digital semakin populer, Kabuenga tetap bertahan sebagai kearifan lokal yang autentik. Tradisi ini bahkan menjadi momentum penting, terutama setelah Hari Raya Idul Fitri, ketika para perantau pulang kampung dan turut ambil bagian dalam ritual pencarian jodoh.
Tak hanya bagi mereka yang masih lajang, pasangan yang telah bertunangan pun diperbolehkan mengikuti Kabuenga sebagai bentuk pelestarian budaya, meski dengan tata cara berbeda.
Kini, Festival Kabuenga tidak hanya menjadi tradisi lokal, tetapi juga daya tarik wisata budaya Indonesia yang terus dipromosikan. Keunikan konsep “mencari jodoh secara adat” menjadikan festival ini sebagai pengalaman wisata yang tak ditemukan di tempat lain.
Bagi wisatawan yang ingin merasakan langsung suasana budaya yang hangat sekaligus unik, Pulau Kapota di Wakatobi menjadi destinasi yang layak dikunjungi—terutama pada momen libur Lebaran.
Laporan: Ibrahim Rudali| Editor: Mahar Prastowo

