LUGAS | BITUNG — Setelah sempat vakum hampir dua dekade, tradisi halal bihalal yang dirangkai dengan peringatan Hari Raya Ketupat kembali dihidupkan oleh Keluarga Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Bitung. Kegiatan yang digelar dalam suasana Syawal 1447 Hijriah/2026 Masehi ini mengusung tema “Mempererat Silaturahmi dan Menjaga Persaudaraan dalam Semangat Pencak Silat.”
Momentum ini bukan sekadar seremoni. Ia menjadi titik balik bagi dunia pencak silat di Bitung yang selama kurang lebih 17 tahun kehilangan ruang konsolidasi lintas perguruan.
Ketua IPSI Kota Bitung, Randi Marwan, menegaskan kegiatan ini merupakan inisiatif bersama yang juga didorong oleh Badan Pencak Silat setempat untuk menghidupkan kembali tradisi lama yang sempat terhenti.
“Ini sebenarnya tradisi yang sudah lama, tapi kurang lebih 17 tahun tidak dilaksanakan. Di kepemimpinan yang baru ini, kami berkomitmen menghidupkan kembali semangat pencak silat sebagai bagian dari nilai kebudayaan dan persaudaraan,” ujarnya.
Ia menambahkan, ke depan kegiatan ini tidak hanya bersifat internal, tetapi akan dikembangkan menjadi ajang yang lebih besar dengan melibatkan peserta dari luar daerah.
“Tahun depan kami akan buat lebih besar. Tidak hanya dari Bitung, tapi juga mengundang tamu dari luar daerah. Ini bukan hanya soal tradisi, tapi juga prestasi,” katanya.
Di balik kepemimpinannya, Randi Marwan bukan sosok baru dalam dunia pencak silat. Ia merupakan mantan atlet berprestasi dari Persinas ASAD yang telah lama berkecimpung dalam pembinaan dan kompetisi. Sejak resmi menjabat sebagai Ketua IPSI Kota Bitung pada Mei 2025, ia langsung dihadapkan pada tantangan konsolidasi organisasi sekaligus peningkatan prestasi atlet.
Dalam waktu relatif singkat, hasilnya mulai terlihat. Di bawah komandonya, kontingen Bitung mampu menorehkan capaian signifikan dengan meraih juara umum kedua pada Kejuaraan Pengprov Sulawesi Utara 2025, serta juara umum ketiga pada ajang Porprov Manado 2025. Capaian ini menjadi indikator awal bahwa arah pembinaan yang dibangun mulai menemukan pijakan.
Dalam kegiatan tersebut, selain halal bihalal, juga digelar agenda pertandingan sebagai bagian dari pembinaan atlet. IPSI Bitung sendiri mencatat capaian positif, termasuk raihan juara umum kedua dalam ajang sebelumnya.
Sejumlah agenda penting juga telah disiapkan dalam kalender pembinaan atlet. Di antaranya seleksi Pra-PON yang dijadwalkan akhir November, seleksi POPNAS pada Oktober, serta keikutsertaan dalam kejuaraan di Bolaang Mongondow pada Juli mendatang. Sementara itu, agenda terdekat lainnya akan berlangsung di Solo sebagai bagian dari penguatan kompetisi atlet daerah.
Lebih dari sekadar ajang temu kangen, kegiatan ini juga memperlihatkan soliditas sembilan perguruan yang tergabung dalam IPSI Kota Bitung. Mereka adalah Persinas Asad, Tapak Suci, PSHT, Naga Merah, Panca Bela, Singa Putih, Petarung Ganda, Ababil, dan Halilintar. Kehadiran lintas perguruan ini mempertegas bahwa pencak silat di Bitung berdiri di atas semangat kolektif, bukan sekadar identitas masing-masing aliran.
Barisan perguruan tersebut hadir bersama para guru besar dan pelatih yang selama ini menjadi pilar pembinaan. Selain Randi Marwan, tampak pula Idrus Lareken, Feriyanto, Rahmad Tees, Roy Palakua, Zulkifli Dipang, Rusman Monoarfa, Ruslan Monoarfa, serta Heru Sungkono.
Pada perayaan kali ini, suasana tidak hanya diisi dengan seremoni formal. Atraksi para atlet muda hingga penampilan para jawara dan guru besar dari masing-masing perguruan menjadi magnet tersendiri. Demonstrasi teknik, kekuatan, hingga seni gerak silat dipertontonkan secara terbuka, seolah menegaskan bahwa tradisi ini hidup—bukan sekadar dikenang.
Di tengah dinamika olahraga yang kian kompetitif, langkah IPSI Bitung menghidupkan kembali tradisi ini menjadi sinyal penting. Bahwa pembinaan atlet tidak bisa dilepaskan dari akar budaya dan nilai kebersamaan. Tradisi, dalam hal ini, bukan sekadar warisan—melainkan fondasi untuk membangun prestasi.




