Hengky Honandar Serahkan Penghargaan di Kapolres Cup, Albert Zai Digelari “Bapak Perdamaian”

 



LUGAS | BITUNG — Panggung Kapolres Cup Sprint Race 100 Meter 2026, Sabtu (25/4/2026), tak hanya menjadi arena adu cepat para atlet. Di balik seremoni penyerahan hadiah, terselip momen simbolik yang memantik pertanyaan: penganugerahan gelar “Bapak Perdamaian Kota Bitung” kepada Kapolres Bitung, AKBP Albert Zai.

Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Wali Kota Bitung bersama unsur organisasi masyarakat adat dan keagamaan. Secara resmi, pemerintah menyebutnya sebagai bentuk pengakuan atas keberhasilan menjaga keamanan dan ketertiban. Namun, di tengah dinamika sosial yang belakangan mengemuka, pemberian gelar ini juga terbaca sebagai upaya mempertegas narasi stabilitas.

Wali Kota Bitung Hengky Honandar, S.E., dalam pernyataannya menegaskan, penghargaan tersebut bukan sekadar simbol seremonial.

“Pemerintah Kota Bitung memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Kapolres Bitung atas dedikasi, ketulusan, dan kerja kerasnya dalam menjaga stabilitas dan kedamaian di tengah masyarakat. Ini bukan hanya tentang keamanan, tetapi tentang menghadirkan rasa nyaman dan kepercayaan publik,” ujarnya.

Pernyataan itu menggarisbawahi satu hal: stabilitas menjadi prioritas utama pemerintah kota. Namun, sejumlah kalangan menilai, stabilitas yang ditonjolkan perlu diuji lebih jauh—apakah benar lahir dari kondisi sosial yang inklusif, atau hasil dari kontrol aparat yang efektif meredam gejolak.

Dalam catatan lapangan, pendekatan dialogis dan kolaboratif yang diklaim aparat memang kerap dikedepankan. Forum lintas agama, komunikasi dengan tokoh adat, hingga respons cepat terhadap konflik sosial menjadi bagian dari strategi. Tapi pertanyaannya, sejauh mana pendekatan itu menjangkau akar persoalan—ketimpangan sosial, konflik lahan, hingga gesekan antarwarga yang kerap berulang?

Penganugerahan ini, di satu sisi, memperlihatkan soliditas antara pemerintah, aparat, dan kelompok masyarakat. Namun di sisi lain, juga membuka ruang tafsir: apakah ini bentuk apresiasi murni, atau bagian dari konstruksi citra kolektif tentang “kota damai” yang ingin terus dijaga—apa pun dinamika di bawah permukaan.


0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1