Tentang Anak-anak Kita yang Kehilangan Dunia Nyata

Wakil Wali Kota Jakarta Timur, Kusmanto. 


Essai Mahar Prastowo 

Catatan dari sebuah sore di Kebon Pala

Sore itu tidak istimewa. Tidak ada gedung besar. Tidak ada protokol berlapis. Hanya sebuah kafe, Lo Cafe, di Jalan Cakrawala, Kebon Pala, dengan lampu gantung temaram dan dinding hijau yang dihiasi tanaman rambat.

Tapi justru di tempat sederhana itu, kegelisahan besar tentang masa depan anak-anak dibicarakan.

Di depan ruangan, spanduk putih terbentang: Halal Bihalal & Peringatan Hari Kartini FKKS Jakarta Timur. Di bawahnya, sebuah meja panjang. Di atas meja itu hanya ada air mineral, buah, dan beberapa berkas.

Tidak mewah. Tapi cukup.

Di tengahnya berdiri Wakil Wali Kota Jakarta Timur, Kusmanto. Seragam cokelatnya rapi. Tangannya memegang mikrofon. Sesekali terangkat, menegaskan kata.

Ia tidak membaca teks.

Ia berbicara seperti orang tua.

“Saya lihat sekarang… anak-anak kalau ketemu orang, bingung.”

Kalimat itu jatuh pelan. Tapi berat.

Ia berhenti sebentar. Menatap ke depan.

“Kalau HP-nya diambil… seperti kehilangan kendali.”

Tidak ada yang menyanggah.

Karena semua di ruangan itu tahu: itu bukan opini. Itu kenyataan.



Di sampingnya duduk camat Makasar Dimas Prayudi, lurah kelurahan Kebon Pala Dian Eka Harianti, dan ketua FKKS Jakarta Timur Syamsul Bahri bersama Sekum Lusiawati. Tak jauh dari jajaran itu, hadir pula unsur pemerintah daerah lainnya, termasuk Ari Budi Yuswanto dari Kesbangpol Jakarta Timur. 

Mereka tidak banyak bicara. Lebih banyak mengangguk.

Barangkali karena yang disampaikan memang tidak perlu diperdebatkan.

Semua pernah melihatnya:
anak pintar… tapi tidak percaya diri.
anak cerdas… tapi canggung di depan orang.



“Kita ini dulu,” lanjut Kusmanto, “kalau Hari Kartini… repot.”

Beberapa tersenyum.

“Bikin lomba. Pakai baju adat. Latihan tari. Puisi.”

Ia menghela napas.

“Sekarang?”

Tidak ada yang menjawab. Jawabannya terlalu jelas:
anak-anak sekarang lebih sering diam—di depan layar.


Di situlah peran Forum Komunikasi Komite Sekolah (FKKS) tiba-tiba terasa penting.

Bukan lagi sekadar forum orang tua dan sekolah.
Bukan hanya tempat rapat dan koordinasi.

Tapi—meminjam suasana sore itu—sebuah jembatan yang mulai retak.

Jembatan antara anak dan dunia nyata.

FKKS diminta tidak berhenti di administrasi. Tidak cukup hanya mengundang sekolah. Tidak cukup hanya menyusun agenda.

FKKS harus menciptakan panggung.

Panggung untuk anak-anak tampil.

“Tari kreasi Nusantara… seperti yang pernah kita buat se-Jabodetabek,” kata Kusmanto.

“Puisi. Sajak. Hari Pahlawan. Hari Kartini. Pakai baju adat.”

Bukan sekadar lomba.

Itu cara mengembalikan anak ke ruang sosialnya.



Ada satu kegelisahan lain yang muncul—lebih dalam.

“Anak sekarang pintar… tapi tidak siap.”

Kalimat itu tidak panjang. Tapi cukup menjelaskan banyak hal.

Siap berbicara.
Siap tampil.
Siap gagal.
Siap berdiri tanpa layar.

Karena yang terjadi hari ini, kata Kusmanto, anak-anak terlalu bergantung pada gadget. Ketika harus tampil di depan orang, mereka kehilangan percaya diri.

Di titik itu, persoalan bukan lagi soal pendidikan formal.

Tapi pembinaan.

Dan pembinaan tidak bisa hanya dibebankan ke sekolah.

Orang tua harus hadir.
Komite sekolah harus bergerak.
Pemerintah tidak bisa sendiri.

“Harus kolaborasi lintas dinas,” katanya.

Kalimat sederhana. Tapi maknanya panjang.


Diskusi sore itu tidak sepenuhnya nyaman.

Dari peserta, muncul pertanyaan-pertanyaan yang terasa seperti riak kecil—tapi menyimpan gelombang:

Tentang kepedulian instansi.
Tentang dukungan terhadap prestasi anak.
Dan satu yang cukup sensitif: kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Tidak dibahas panjang.

Tapi cukup untuk menjadi pengingat:
program yang baik tetap butuh pengawasan yang serius.



Sore beranjak malam.

Lampu-lampu kecil mulai terasa hangat. Obrolan mulai mencair. Tapi satu hal tidak berubah:

kegelisahan itu masih ada.

Tentang anak-anak yang lebih akrab dengan layar daripada manusia.
Tentang sekolah yang kehilangan panggung kreativitas.
Tentang orang tua yang mulai tertinggal dari dunia anaknya sendiri.

Tapi dari ruangan kecil itu, setidaknya muncul satu arah:

anak-anak harus diberi ruang untuk tampil.
untuk bergerak.
untuk berbicara.
untuk belajar percaya diri—tanpa layar.

Dan FKKS, jika mau, bisa menjadi panggung itu.



Tidak ada deklarasi besar di akhir acara.

Tidak ada tepuk tangan panjang.

Hanya harapan sederhana:

semoga anak-anak Jakarta Timur tidak hanya tumbuh pintar,
tapi juga siap.

Siap berdiri.

Siap bicara.

Dan—yang paling penting—
siap menghadapi dunia nyata, tanpa harus selalu melihat layar terlebih dahulu.




0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1