LUGAS | BITUNG — Aroma santan dan anyaman ketupat kembali memenuhi halaman rumah keluarga H. Ancu Baco dan Hj. Dewi Darise di Kelurahan Girian Indah, Sabtu (4/4/2026). Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan Hari Raya Ketupat digelar terbuka—menjadi titik temu antara tradisi keagamaan dan kebersamaan sosial lintas kalangan.
Di tengah suasana hangat itu, Camat Girian, Rukman Rasyid, S.Sos., hadir bersama jajaran lurah dan perangkat kecamatan. Kehadiran unsur pemerintah, TNI-Polri, hingga masyarakat umum memperlihatkan bahwa tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi juga ruang sosial yang hidup dan inklusif.
Sejumlah lurah turut hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya Lurah Girian Indah selaku tuan rumah wilayah, Sutoyo Usman, S.Sos., bersama Ibu Silfana Madjilu. Hadir pula Lurah Wangurer, Siti Mariam Lariha, S.ST., serta Lurah Weru Satu, Marlin Pratasis, S.Sos. Unsur kepolisian juga tampak melalui kehadiran Kapolsek Ranowulu, IPTU Teguh Pambudi. S.Sos, yang turut menyatu dalam suasana kebersamaan bersama warga.
Perayaan Ketupat di Girian Indah berakar pada praktik keagamaan yang dianut luas umat Muslim, yakni puasa enam hari di bulan Syawal. Tradisi ini merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa siapa yang berpuasa di bulan Ramadan lalu melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawal, maka pahalanya setara dengan puasa setahun penuh.
Namun di Bitung, tafsir atas ajaran itu menjelma menjadi ekspresi budaya: berbagi hidangan, membuka rumah, dan mempererat relasi sosial.
Dalam sambutannya, Camat Rukman Rasyid menyoroti konsistensi keluarga Baco–Darise dalam menjaga tradisi tersebut.
“Ini bukan sekadar acara makan bersama. Ini adalah bentuk nyata kepedulian sosial. Keluarga Batjo–Darise setiap tahun membuka pintu rumahnya dan berbagi kepada siapa saja tanpa sekat,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi keterbukaan acara yang tidak hanya dihadiri pejabat, tetapi juga masyarakat luas. Menurutnya, praktik seperti ini memperkuat kohesi sosial di tengah dinamika perkotaan.
Sementara itu, tuan rumah, Hj. Dewi Darise, menegaskan bahwa seluruh sajian yang disediakan semata-mata dilandasi rasa syukur.
“Apa yang kami siapkan hari ini adalah bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas rezeki yang diberikan selama ini. Kami hanya berharap bisa berbagi kebahagiaan dengan semua yang hadir,” katanya singkat.
Di tengah berbagai tantangan sosial-ekonomi, tradisi seperti ini menjadi pengingat bahwa solidaritas tidak selalu lahir dari kebijakan besar. Ia justru tumbuh dari ruang-ruang sederhana—seperti halaman rumah warga yang terbuka, dan sepiring ketupat yang dibagikan tanpa syarat.



