LUGAS | MANADO — Pengamatan hilal untuk penetapan awal 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah di Sulawesi Utara berlangsung di Gedung Pengamatan Hilal BMKG Sulawesi Utara, Jalan Harapan Nomor 42, Winangun, Kota Manado, Selasa (17/5) petang. Namun kondisi cuaca yang kurang mendukung menyebabkan hilal belum berhasil teramati dari titik pemantauan tersebut.
Kegiatan rukyatul hilal itu dilaksanakan Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Utara dengan melibatkan sejumlah unsur terkait, mulai dari Pengadilan Agama Manado, BMKG Sulawesi Utara, akademisi IAIN Manado, hingga organisasi kemasyarakatan Islam, termasuk DPW LDII Sulawesi Utara.
Pemantauan dipimpin Tim Pengamatan Hilal BMKG Sulawesi Utara di bawah koordinasi Tony Agus Wijaya. Meski pengamatan dilakukan menggunakan alat bantu teleskop astronomi, kondisi atmosfer dan tutupan awan membuat visibilitas hilal tidak optimal.
“Hingga akhir pengamatan, hilal belum dapat terlihat secara keseluruhan karena faktor cuaca yang kurang mendukung,” ujar salah satu petugas pengamatan di lokasi.
Hasil pengamatan kemudian dituangkan dalam berita acara resmi yang disahkan Hakim Pengadilan Agama Manado berdasarkan permohonan dari Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Utara. Proses tersebut menjadi bagian penting dalam mekanisme nasional penetapan kalender hijriah di Indonesia.
Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Sulawesi Utara, H. Samsudin Pulu, mengatakan hasil rukyat dari Manado tQetap memiliki posisi strategis karena menjadi bagian dari jaringan pengamatan nasional.
“Hasil pengamatan hari ini akan disampaikan kepada Tim Pengamatan Hilal di pusat karena lokasi pengamatan di Manado merupakan salah satu dari 88 titik pengamatan di seluruh Indonesia,” kata Samsudin.
Ia menjelaskan, data dari tiap daerah nantinya akan menjadi bahan pertimbangan dalam sidang isbat pemerintah untuk menentukan awal Dzulhijjah 1447 Hijriah.
“Sehingga hasil pengamatan di titik pengamatan di Manado menjadi salah satu rekomendasi penetapan tanggal 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah,” ujarnya.
Selain unsur pemerintah dan akademisi, Tim Rukyatul Hilal DPW LDII Sulawesi Utara turut mengikuti proses pemantauan tersebut. Empat anggota tim yang hadir masing-masing Isroil Suwito, Ustadz Fauzi Jamil, Ustadz Abdul Aziz, dan Ustadz Syahrul Bidulloh.
Pelaksanaan rukyatul hilal setiap menjelang bulan-bulan penting kalender Islam tidak hanya menjadi agenda astronomi keagamaan, tetapi juga memperlihatkan pola kolaborasi antara pemerintah, lembaga ilmiah, dan organisasi masyarakat dalam memastikan proses penetapan kalender hijriah berlangsung terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun syar’i.
