Dari Kampus untuk Masa Depan: Mahasiswa Diajak Jauhi Tawuran, Miras dan Kekerasan Jalanan

 



LUGAS | BITUNG — Di tengah meningkatnya keresahan sosial akibat kenakalan remaja dan maraknya aksi kekerasan jalanan di Kota Bitung,  mulai memperkuat pendekatan preventif dengan menyasar lingkungan kampus.

Kamis petang, 7 Mei 2026, suasana aula kegiatan Expo UMKM 2026 di  tampak berbeda. Sekitar 150 mahasiswa mengikuti kuliah umum yang menghadirkan  sebagai narasumber utama dalam pembinaan karakter generasi muda.

Tim yang selama ini dikenal aktif melakukan patroli dan penindakan gangguan kamtibmas di wilayah Bitung itu kali ini tampil bukan dengan pendekatan represif, melainkan edukatif dan dialogis.

Ketua STIE Petra Bitung Ratna Taliupan bersama sejumlah dosen pendamping turut hadir dalam kegiatan tersebut. Di hadapan mahasiswa, Ka Team Tarsius Presisi, Aipda Angky Koagow, menyoroti berbagai persoalan sosial yang dinilai mulai mengancam masa depan generasi muda.

Mulai dari konsumsi minuman keras, aksi tawuran antar kelompok, penyalahgunaan lem ehabond, hingga penggunaan senjata tajam dan panah wayer menjadi perhatian serius aparat kepolisian.

“Mahasiswa harus memiliki karakter yang kuat, disiplin dan bertanggung jawab. Jangan sampai masa depan rusak hanya karena salah memilih pergaulan atau terlibat pelanggaran hukum,” ujar Angky dalam pemaparannya.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar lebih bijak menggunakan media sosial. Menurutnya, ruang digital saat ini kerap menjadi pemicu konflik, penyebaran provokasi, hingga ajang pamer kekerasan yang berujung pada tindak pidana.

Dalam forum yang berlangsung interaktif itu, mahasiswa diberi ruang berdiskusi langsung mengenai berbagai fenomena sosial yang mereka hadapi sehari-hari. Sejumlah peserta bahkan menanyakan dampak hukum terkait keterlibatan remaja dalam tawuran dan kepemilikan senjata tajam.

Sementara itu, Kasi Humas , AKP Abdul Natip Anggai, mengatakan pendekatan humanis menjadi strategi penting kepolisian dalam membangun kesadaran hukum di kalangan generasi muda.

Menurutnya, upaya menjaga keamanan tidak cukup hanya mengandalkan penindakan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan dunia pendidikan dan masyarakat.

“Mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan dan pelopor keamanan di lingkungan masing-masing. Pencegahan harus dimulai dari kesadaran bersama,” katanya.

Kegiatan ditutup dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Di tengah tantangan sosial yang terus berkembang, sinergi antara kampus dan kepolisian dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah generasi muda terjebak dalam lingkaran kekerasan dan kriminalitas.

0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1