Essai Mahar Prastowo
Pagi belum terlalu siang di RW 04 Kebon Pala.
Para ibu duduk lesehan di lantai keramik hijau. Seragam merah muda dan jilbab hijau muda mendominasi halaman rumah warga yang dijadikan titik kumpul kegiatan grebek Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
Di tangan sebagian ibu-ibu itu ada kipas kecil. Ada pula senter dan botol air minum. Mereka adalah kader Jumantik—pasukan sunyi yang tiap pekan masuk gang, memeriksa bak mandi, melihat talang air, hingga memastikan tidak ada jentik nyamuk berkembang biak.
Di depan mereka berdiri seorang polisi.
Kompol Sumardi memegang mikrofon. Suaranya terdengar santai. Tidak seperti pidato formal upacara.
Ia tidak hanya bicara soal demam berdarah.
Ia bicara soal kampung.
Soal kepedulian.
Soal keamanan.
Dan soal kebiasaan warga Jakarta yang makin lama makin individualistis.
“Kalau ada orang baru di lingkungan, tegur. Sapa. Tanya baik-baik,” begitu pesan yang terus ia ulang dalam berbagai kesempatan.
Ia mengatakan keamanan lingkungan bukan hanya tugas polisi. Warga juga harus ikut menjaga wilayahnya sendiri.
Dalam bahasa Jawa, katanya, warga harus “open”.
Bukan ikut campur urusan orang secara berlebihan. Tetapi peduli terhadap lingkungan sekitar.
Karena menurutnya, banyak masalah muncul justru ketika warga sudah tidak saling mengenal.
Tetangga tidak tahu siapa yang tinggal di rumah sebelah.
Orang keluar-masuk gang tidak diperhatikan.
Anak nongkrong sampai dini hari dianggap biasa.
Motor tanpa pelat lalu-lalang tidak ada yang bertanya.
“Kalau warga saling peduli, biasanya orang yang punya niat jahat juga berpikir dua kali,” katanya.
Yang menarik, pesan itu disampaikan bukan di kantor polisi.
Bukan pula dalam forum resmi pemerintah.
Melainkan di tengah kegiatan PSN bersama ibu-ibu Jumantik.
Barangkali di situlah uniknya pendekatan Kapolsek Makasar itu.
Ia tampak memahami bahwa menjaga keamanan tidak selalu harus dimulai dengan patroli dan razia.
Kadang dimulai dari obrolan sederhana di halaman rumah warga.
Dari ibu-ibu yang setiap minggu berkeliling memeriksa jentik nyamuk.
Karena kader Jumantik sebenarnya bukan hanya penjaga kesehatan lingkungan.
Mereka juga penjaga denyut kampung.
Mereka tahu rumah mana yang kosong.
Tahu warga baru.
Tahu jika ada perubahan mencurigakan di lingkungan.
Jaringan sosial seperti itu, menurut Sumardi, justru menjadi kekuatan penting dalam menjaga keamanan wilayah.
Apalagi di kawasan padat seperti Makasar yang memiliki mobilitas tinggi dan berdekatan dengan banyak akses jalan utama.
Maka setiap bertemu warga—entah dalam ronda malam, rapat RT, pengajian, hingga kegiatan Jumantik—pesan yang ia bawa hampir selalu sama:
Jangan cuek dengan lingkungan sendiri.
Sebab keamanan kampung, pada akhirnya, bukan hanya dijaga polisi berseragam.
Tetapi juga oleh ibu-ibu yang hafal siapa saja penghuni gangnya sendiri.
(*)


