![]() |
| Partisipasi FKDM Kelurahan Kebon Pala, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur dalam pilah sampah. Berkolaborasi dengan PPSU selaku operator Bank Sampah Kelurahan Kebon Pala. |
Ada tulisan tangan sederhana di beberapa karung itu: FKDM Kebon Pala. Tulisan yang mungkin tampak biasa. Namun sesungguhnya menyimpan pesan penting tentang perubahan cara pandang terhadap sampah di Jakarta.
Hampir setiap hari Jakarta memproduksi ribuan ton sampah. Sebagian besar berakhir di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Gunungan sampah terus meninggi. Persoalannya bukan hanya soal volume, tetapi juga kebiasaan masyarakat yang masih mencampur seluruh jenis sampah dalam satu kantong hitam besar.
Akan tetapi, di tengah persoalan klasik itu, muncul gerakan-gerakan kecil dari lingkungan masyarakat. Salah satunya dilakukan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kelurahan Kebon Pala, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur.
Mereka bukan petugas kebersihan. Bukan pula pengelola bank sampah profesional. Namun mereka memilih ikut turun tangan memberi contoh.
Rupanya amanat itu datang langsung dari Camat Makasar, Dimas Prayudi. Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan bahwa aparatur wilayah yang melekat pada pemerintahan dan unsur masyarakat harus menjadi teladan dalam pelaksanaan Instruksi Gubernur DKI Jakarta No. 5 Tahun 2026 tentang pemilahan sampah dari sumber.
Bagi Dimas, persoalan sampah tidak mungkin selesai hanya dengan mengandalkan petugas PPSU atau truk pengangkut sampah. Kuncinya ada pada perubahan perilaku masyarakat.
“Setiap orang bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkannya sendiri.”
Kalimat itu sederhana. Tetapi justru di situlah inti revolusi pengelolaan sampah modern.
Pilah sampah bukan sekadar memindahkan sampah dari rumah ke TPS. Bukan pula sekadar mengumpulkan lalu menunggu diangkut truk. Pemilahan berarti memisahkan sejak awal antara sampah organik, anorganik, dan residu.
Botol plastik dipisahkan. Kardus dipisahkan. Gelas air mineral dipisahkan. Sisa makanan juga dipisahkan.
Karena ketika semuanya tercampur, sampah kehilangan nilainya.
Namun ketika dipilah, sampah berubah menjadi sumber ekonomi.
Rangkaian karung yang dikumpulkan FKDM Kebon Pala itu membuktikan satu hal: sampah plastik masih memiliki harga. Kardus masih bisa dijual. Botol air mineral masih dicari pengepul. Bahkan minyak jelantah pun kini memiliki pasar tersendiri.
Di banyak bank sampah Jakarta, sampah anorganik sudah diperlakukan layaknya tabungan. Warga menabung botol plastik, kardus, besi bekas, hingga aluminium. Nilainya dicatat. Setelah terkumpul, hasilnya dapat diuangkan.
Konsep ini perlahan mengubah cara masyarakat memandang sampah.
Dari barang kotor menjadi aset.
Dari beban menjadi nilai ekonomi.
Apalagi sampah organik. Selama ini jenis sampah inilah yang paling banyak menyumbang bau, lindi, dan gas metana di tempat pembuangan akhir. Padahal jika dipisahkan, sampah organik justru paling mudah dimanfaatkan.
Sisa sayur dan makanan dapat diolah menjadi kompos. Bisa pula menjadi pakan maggot black soldier fly yang kini mulai banyak dikembangkan di berbagai wilayah Jakarta.
Maggot memiliki nilai ekonomi tinggi. Ia dapat menjadi pakan ikan, unggas, bahkan membantu mengurangi volume sampah organik secara signifikan.
Siklusnya menjadi lebih sehat:
sampah berkurang, lingkungan lebih bersih, ekonomi masyarakat bergerak.
Sebab itu, langkah FKDM Kebon Pala sesungguhnya bukan perkara besar-kecilnya jumlah sampah yang dikumpulkan. Nilai terbesarnya justru terletak pada keteladanan sosial.
Di tengah budaya masyarakat yang masih terbiasa “buang lalu selesai”, FKDM mencoba menghadirkan pesan berbeda:
bahwa tanggung jawab tidak berhenti ketika sampah keluar dari pintu rumah.
Karung-karung putih itu menjadi simbol bahwa perubahan harus dimulai dari lingkungan terkecil:
Dari rumah.
Dari RT.
Dari komunitas.
Dan dari individu.
Tidak mudah memang mengubah kebiasaan warga kota. Kesibukan membuat banyak orang memilih cara praktis: semua sampah dimasukkan ke satu kantong. Padahal, proses pemilahan hanya membutuhkan sedikit tambahan kesadaran.
Satu wadah untuk organik.
Satu wadah untuk plastik dan kardus.
Satu wadah untuk residu.
Sederhana. Tetapi dampaknya besar.
Ketika sampah dipilah dari sumber, biaya pengangkutan bisa berkurang. Beban TPST menurun. Lingkungan menjadi lebih sehat. Dan ekonomi sirkular mulai tumbuh di masyarakat.
Oleh karena itu, gerakan seperti yang dilakukan FKDM Kebon Pala perlu dipandang bukan sebagai kegiatan seremonial semata. Ini adalah bagian dari pendidikan sosial lingkungan hidup.
Masyarakat sering menunggu pemerintah bekerja. Padahal urusan sampah adalah urusan bersama.
Pemerintah membuat regulasi.
Petugas mengangkut.
Namun masyarakatlah yang menentukan apakah sampah itu akan menjadi masalah atau justru menjadi manfaat.
Wajah lelaki yang mengangkat karung besar dalam foto-foto itu mungkin tampak biasa. Tidak memakai jas. Tidak berdiri di podium. Tidak pula berpidato panjang tentang lingkungan.
Tetapi justru dari langkah-langkah sederhana seperti itulah perubahan kota sering dimulai.
Dari tangan yang mau memilah sampahnya sendiri.
Dari warga yang mau memberi contoh.
Dan dari kesadaran bahwa bumi yang bersih bukan diwariskan oleh pemerintah kepada rakyat, melainkan dijaga bersama oleh setiap orang yang hidup di atasnya.
Essai ini ditulis sebagai bagian dari partisipasi penyadaran publik dalam pilah sampah.
