LUGAS - JAWA TENGAH, 20 Mei – Semangat menyatukan perantau masyarakat Piaman di wilayah Solo Raya dan Jawa Tengah menjadi titik awal lahirnya Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) di wilayah tersebut. Berangkat dari nilai kebersamaan, persaudaraan, serta filosofi Minangkabau “Urang awak bijak di rantau, paguno di kampuang”, para tokoh perantau Piaman mulai merintis sebuah wadah yang mampu mempererat silaturahim sesama perantau.
Tidak hanya itu, filosofi Minang “nan taserak dihimpun, nan jauh didakekkan, nan dakek dijadikan arek” turut menjadi landasan kuat lahirnya organisasi yang hingga kini menjadi rumah besar masyarakat Piaman di Solo Raya dan Jawa Tengah.
Momentum awal berdirinya PKDP Solo Raya bermula pada 15 Desember 2020, melalui pertemuan perdana tim inisiator di Resto SFA Klodran, Colomadu. Pertemuan sederhana tersebut menjadi tonggak sejarah lahirnya gagasan besar membangun organisasi PKDP Solo Raya.
PKDP Solo Raya kemudian hadir dengan semangat menyatukan badunsanak dari tujuh kabupaten/kota asal Piaman dalam satu rumah besar kebersamaan.
Filosofi “ciek niniak mamak, ciek pandam pakuburan, ciek surau” menjadi ruh perjuangan saat itu. Pilihan menyatukan masyarakat Piaman tujuh kabupaten/kota dalam wadah PKDP Solo Raya menjadi konsensus bersama agar persaudaraan tetap terjaga dan solid di tanah rantau.
“Supayo kito tetap basatu di rumah gadang PKDP Solo Raya,” demikian semangat yang terus dijaga hingga kini.
Tim inisiator yang menggagas berdirinya PKDP Solo Raya terdiri dari:
1. Herland Djamaris (Almarhum), yang kemudian mendapat gelar adat sebagai TK Bagindo Herland Djamaris
2. Familion
3. Yaldi
Selain tiga tokoh tersebut, terdapat sosok yang disebut memiliki peran besar sebagai orang tua sekaligus penguat berdirinya PKDP Solo Raya hingga lahirnya DPW PKDP Jawa Tengah, yakni Ganto Suaro, SE.
Ia dikenal sebagai figur yang konsisten mendorong penyatuan warga Piaman di perantauan agar tetap terhubung dalam nilai budaya, adat, serta tali persaudaraan kampung halaman.
Dari pertemuan awal tersebut kemudian diagendakan musyawarah yang lebih besar dengan melibatkan tokoh-tokoh serta perantau Piaman yang hadir saat itu.
Musyawarah berlangsung dengan semangat mufakat untuk menentukan kepengurusan awal PKDP Solo Raya.
Menariknya, forum saat itu justru memilih figur di luar tiga orang tim inisiator sebagai bentuk demokrasi organisasi dan semangat kebersamaan.
Forum akhirnya menginginkan Ganto Suaro, SE memimpin PKDP Solo Raya.
Awalnya, Ganto Suaro hanya bersedia menjalankan amanah selama satu tahun dengan konsep “sampai take off sajo”.
Makna take off yang dimaksud yakni sampai terbentuknya kepengurusan organisasi, tersusunnya data dasar anggota, serta lahirnya master plan organisasi melalui Rakerda pertama.
Namun dalam perjalanannya, niat pengunduran diri tersebut ditolak forum. Hingga kini, mayoritas anggota masih memberikan kepercayaan kepada dirinya untuk terus memimpin dan mengawal perjalanan organisasi.
Seiring waktu, PKDP tidak hanya menjadi organisasi kedaerahan, tetapi juga menjadi rumah bersama masyarakat Piaman dalam menjaga budaya, adat, silaturahim, dan semangat persatuan di perantauan.
Hingga hari ini, semangat yang dibangun sejak 15 Desember 2020 itu masih terus dijaga.
“Nan taserak dihimpun, nan jauh didakekkan, nan dakek dijadikan arek.”
Sebuah filosofi yang menjadi napas perjalanan PKDP Solo Raya hingga berkembang dan menjadi bagian penting lahirnya DPW PKDP Jawa Tengah. (Rizal PM)