Ketika FKKS JT Menyatukan Tiga Pilar Pendidikan di Cakung

 


LUGAS | EDITORIAL — Di tengah berbagai tantangan yang mengitari dunia pendidikan, mulai dari perundungan, tawuran pelajar, hingga tekanan sosial yang semakin kompleks, upaya memperkuat komunikasi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar.

Kesadaran itulah yang tampak dalam kegiatan Sinkronisasi Kepala Sekolah dan Komite Sekolah Kota Administrasi Jakarta Timur yang diselenggarakan Forum Komunikasi Komite Sekolah (FKKS) Jakarta Timur di Aula Kantor Kecamatan Cakung, Jumat (19/6/2026). 

Forum tersebut bukan sekadar agenda seremonial yang mempertemukan para pemangku kepentingan pendidikan. Lebih dari itu, Ketua Umum FKKS Jakarta Timur dan Sekjen, H. Syamsul Bahri dan Hj. Lusiawati selaku penanggung jawab kegiatan Roadshow, berharap kegiatan ini menjadi ruang bersama untuk menegaskan kembali bahwa keberhasilan pendidikan tidak pernah lahir dari kerja satu institusi semata.

Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Wali Kota Jakarta Timur Kusmanto, Kepala Suku Dinas Pendidikan Jakarta Timur Wilayah I Muhammad Fahmi, Kepala Suku Dinas Pendidikan Jakarta Timur Wilayah II Dr. Horale Tua Simanullang, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik DKI Jakarta Muhammad Matsani beserta Kasuban Kesbangpol Jakarta Timur Eliazer Hutapea, Camat Cakung H. Rohmat, para lurah se-Kecamatan Cakung, kepala sekolah, pengurus komite sekolah, serta berbagai mitra pendidikan.

Dalam konteks itulah, keberadaan komite sekolah menemukan relevansinya. Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 dan Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah, pendidikan merupakan urusan bersama yang menempatkan keluarga dan masyarakat sebagai bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran.

Ketua Umum FKKS Jakarta Timur H. Syamsul Bahri dalam sambutannya menegaskan komitmen organisasi yang dipimpinnya untuk tetap menjadi mitra strategis pendidikan yang independen dan berorientasi pada pelayanan sosial. Pernyataan tersebut penting karena kepercayaan publik terhadap lembaga pendukung pendidikan hanya dapat tumbuh apabila dibangun di atas integritas dan kemitraan yang sehat.

Namun, substansi paling penting dari forum ini sesungguhnya terletak pada pengakuan bersama terhadap tantangan yang sedang dihadapi generasi muda Jakarta Timur.

Wakil Wali Kota Jakarta Timur Kusmanto menyoroti masih terjadinya kasus perundungan dan tawuran pelajar. Persoalan ini bukan sekadar pelanggaran disiplin sekolah. Ia merupakan gejala sosial yang mencerminkan adanya ruang-ruang pembinaan yang belum sepenuhnya terisi oleh perhatian bersama.

Karena itu, penyelesaiannya tidak dapat dibebankan hanya kepada guru atau aparat pemerintah. Orang tua, sekolah, lingkungan sosial, organisasi masyarakat, hingga pemerintah daerah harus hadir dalam satu barisan yang sama.

Pendidikan pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang kemampuan membaca, menulis, atau berhitung. Pendidikan adalah proses membentuk karakter, empati, dan kemampuan hidup bersama dalam keberagaman. Ketika seorang anak terlibat tawuran atau menjadi pelaku perundungan, yang dipertaruhkan bukan hanya masa depannya, melainkan juga kualitas kehidupan sosial masyarakat di masa mendatang.

Menariknya, forum ini juga menghubungkan pendidikan dengan isu lingkungan hidup. Melalui sosialisasi Instruksi Gubernur tentang pemilahan sampah dari sumbernya, sekolah didorong menjadi pusat pembelajaran nilai-nilai keberlanjutan.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pendidikan modern tidak lagi terbatas pada ruang kelas. Kesadaran lingkungan, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap ruang hidup bersama kini menjadi bagian dari kompetensi yang harus ditanamkan sejak dini.

Paparan dari Suku Dinas Pendidikan, Kesbangpol DKI Jakarta, serta mitra pendidikan lainnya semakin memperkuat satu kesimpulan penting: mutu pendidikan tidak dapat ditingkatkan hanya melalui kebijakan administratif. Dibutuhkan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang anak.

Dari Cakung, sebuah pesan penting kembali ditegaskan. Generasi emas yang kerap menjadi cita-cita pembangunan nasional tidak akan lahir hanya dari ruang-ruang perencanaan. Generasi emas tumbuh dari keluarga yang peduli, sekolah yang terbuka, masyarakat yang mendukung, dan pemerintah yang hadir sebagai penggerak kolaborasi.

Sinkronisasi yang dilakukan FKKS Jakarta Timur menjadi pengingat bahwa pendidikan terbaik bukanlah hasil kerja individu, melainkan buah dari kesediaan banyak pihak untuk berjalan bersama. Di tengah tantangan zaman yang semakin rumit, kolaborasi itulah yang sesungguhnya menjadi modal sosial paling berharga bagi masa depan anak-anak Jakarta Timur.


Galeri:





















0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1