Matnoor Tindoan Dorong Pengelolaan Sampah dari Sumber, Usulkan Petugas Bank Sampah di Setiap RW

 


LUGAS | Jakarta Timur – Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Matnoor Tindoan, mendorong perubahan paradigma pengelolaan sampah di Jakarta dari yang selama ini berorientasi pada hilir menjadi berbasis hulu atau sumber sampah. Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Sosialisasi Pelaksanaan Produk Hukum Daerah Nomor 2 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah yang digelar di RW 04 Kelurahan Kebon Pala, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, pada Senin (01/06/2026).

Dalam kegiatan yang merupakan bagian dari fungsi pengawasan DPRD terhadap pelaksanaan produk hukum daerah tersebut, Matnoor menegaskan bahwa persoalan sampah tidak dapat lagi diselesaikan hanya dengan mengandalkan pengangkutan dan pembuangan ke TPST Bantargebang.

Disampaikannya, Jakarta hanya dapat membuang sekitar 30 persen sampah ke TPST Bantargebang dan itupun hanya untuk sampah residu yang sudah tidak dapat diolah maupun didaur ulang.

"Kalau tidak melibatkan masyarakat, pemerintah tidak akan bisa menyelesaikan persoalan sampah. Penyelesaian sampah harus dimulai dari sumbernya, yaitu rumah tangga," ujar Matnoor di hadapan warga.

Ia menjelaskan bahwa sampah organik harus mulai diolah dari rumah tangga maupun lingkungan setempat, sedangkan sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi harus dipilah dan dikelola melalui bank sampah yang tersedia di setiap wilayah.

"Yang bisa dibuang ke Bantargebang hanya sampah residu. Sampah organik harus diolah dari rumah tangga, sementara sampah anorganik yang masih bisa dimanfaatkan harus dipilah melalui bank sampah," katanya.

Menurut Matnoor, tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah bukan terletak pada teknologi maupun sarana, melainkan perubahan perilaku masyarakat agar terbiasa memilah sampah sejak dari rumah.

"Yang paling sulit adalah mengubah kebiasaan kita dalam membuang sampah. Sebelum dibuang harus dipilah terlebih dahulu," ujarnya. 




Pemerintah Siapkan Sarana Pendukung

Untuk mendukung pelaksanaan pengelolaan sampah berbasis sumber, pemerintah daerah disebut tengah menyiapkan berbagai sarana dan prasarana pendukung, termasuk pengadaan wadah atau ember pemilahan sampah yang saat ini masih berproses sesuai mekanisme yang berlaku.

Selain itu, DPRD DKI Jakarta juga tengah membahas strategi percepatan pengelolaan sampah melalui pembentukan Panitia Khusus (Pansus) Sampah.

Dalam forum tersebut, Matnoor mengungkapkan bahwa pihaknya juga mengusulkan adanya petugas bank sampah di tingkat RT dan RW yang dapat memperoleh dukungan pembiayaan dari pemerintah daerah.

"Setiap RW harus memiliki bank sampah. Pemerintah sedang menyiapkan sarana dan prasarananya, dan kami juga mengusulkan adanya petugas bank sampah di tingkat RT dan RW yang dapat digaji pemerintah agar kegiatan pengelolaan sampah bisa berjalan secara berkelanjutan," jelasnya.

Meski sistem pengelolaan sampah akan berubah, ia memastikan layanan pengangkutan sampah tetap berjalan. Namun volume sampah yang dibawa ke tempat pemrosesan akhir akan terus dikurangi seiring meningkatnya pengolahan sampah di tingkat rumah tangga dan lingkungan.


Warga Siap Dukung Program Pengelolaan Sampah

Perwakilan RW 04, Ardian, menyatakan bahwa warga siap mendukung program pemerintah dalam pengelolaan sampah.

"Kami sudah melaksanakan program pemerintah dan siap menyukseskan program pengolahan sampah yang menjadi tema kegiatan hari ini," katanya.

Sementara itu, Ketua LMK RW 04, Iwenk Hambali, menyampaikan apresiasi atas perhatian Matnoor terhadap pembangunan di wilayah Kebon Pala. Menurutnya, berbagai usulan masyarakat yang disampaikan melalui kegiatan reses telah banyak direalisasikan.

Ia menyebut sejumlah bantuan yang telah diterima warga antara lain 14 meja pingpong dan enam unit pengeras suara yang dimanfaatkan untuk kegiatan masyarakat. Selain itu, pembangunan mushala, perbaikan saluran air, pengaspalan jalan, pembangunan fasilitas memasak bagi kader PKK di RT 13, hingga renovasi kantor RW 04 juga telah terlaksana.

"Saat pemilihan lalu Pak Matnoor memperoleh dukungan besar dari warga kami. Berbagai aspirasi yang kami sampaikan juga sudah banyak direalisasikan," ujarnya.


Aspirasi Warga dan Pembangunan Wilayah 



Dalam kesempatan tersebut, Matnoor juga menyoroti pentingnya peran anggota DPRD dalam mengawal aspirasi masyarakat agar dapat direalisasikan melalui program pembangunan pemerintah daerah.

Ia mencontohkan sejumlah pembangunan yang telah terealisasi di wilayah Kebon Pala, di antaranya pembangunan jembatan penghubung RW 05-09  yang sebelumnya berupa jembatan bambu dan kini dapat dilalui kendaraan roda empat. Selain itu, jembatan di RW 06 juga telah dibangun menjadi lebih baik sehingga memudahkan aktivitas warga.

Matnoor mengatakan bahwa dari 14 RT yang berada di RW 04, dirinya telah melakukan kegiatan sosialisasi, reses, dan dialog warga di 10 RT. Menurutnya, berbagai pembangunan yang telah terlaksana merupakan hasil dari aspirasi masyarakat yang disampaikan secara langsung kepada wakil rakyat.

"Enam bulan lalu kami datang ke RW 02 Kebon Pala. Alhamdulillah tahun ini usulan pembangunan saluran dan jalan sudah mulai direalisasikan. Aspirasi masyarakat memang lebih cepat terlaksana jika dikawal bersama," ujarnya. 



Dalam sesi dialog, warga juga menyampaikan sejumlah pertanyaan terkait pengelolaan sampah. Ade menanyakan ketersediaan lahan untuk fasilitas pemilahan sampah, sementara Tini meminta penjelasan mengenai pengolahan kompos serta menyampaikan kebutuhan sarana kegiatan warga berupa bangku plastik, tenda, dan terpal untuk RT 07.

Sementara itu, Ayung mempertanyakan apakah pengangkutan sampah tetap dilakukan apabila warga sudah melaksanakan pemilahan sampah dari rumah.

Menanggapi hal tersebut, Matnoor menjelaskan bahwa tugas Komisi D DPRD DKI Jakarta berfokus pada bidang pembangunan sehingga setiap program akan disesuaikan dengan skala prioritas kebutuhan masyarakat. Ia juga memastikan bahwa layanan pengangkutan sampah tetap tersedia meskipun volume sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir akan terus dikurangi.

Menutup kegiatan tersebut, Matnoor mengajak seluruh warga Kebon Pala untuk terlibat aktif dalam pembangunan lingkungan, khususnya dalam pengelolaan sampah berbasis sumber.

"Saya mengajak warga untuk berkontribusi demi pembangunan yang lebih baik di Kebon Pala. Pengelolaan sampah tidak bisa hanya dilakukan pemerintah, tetapi harus menjadi gerakan bersama masyarakat," pungkasnya.



Laporan : Muhammad Deni Suseno | Editor: Mahar Prastowo 





0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1