LUGAS | BITUNG - Di tengah sunyinya kawasan pelabuhan saat para nelayan beristirahat, ancaman itu diduga datang tanpa suara. Satu demi satu mesin tempel yang menjadi nyawa perahu nelayan dilaporkan hilang. Bagi para pencari ikan, kehilangan mesin bukan sekadar kerugian materi, tetapi terputusnya alat untuk menjemput penghasilan keluarga.
Salah satu kasus yang berhasil diungkap terjadi di kawasan Pelabuhan Perikani Bitung. Mesin tempel Yamaha 15 PK milik seorang nelayan bernama Aminudin dilaporkan hilang pada dini hari, 9 Juni 2026. Dari titik inilah aparat Polsek Aertembaga mulai menyusun potongan-potongan informasi untuk mencari jejak pelaku.
Penyelidikan yang dilakukan aparat membawa polisi pada pengamanan tiga pria berinisial J.G.D.B., P.R., dan R.S. Ketiganya diduga memiliki peran berbeda dalam rangkaian peristiwa tersebut.
Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, salah satu terduga pelaku diduga membawa perahu korban keluar dari lokasi tambatan menuju kawasan Pantai Lipi, Tandurusa. Di lokasi itulah dua terduga lainnya diduga melepas mesin tempel yang terpasang di perahu sebelum mesin tersebut berpindah tangan melalui seorang perantara kepada pembeli di wilayah Tombariri.
Namun pengungkapan kasus ini belum menutup seluruh cerita. Di balik satu mesin yang hilang, muncul pertanyaan yang lebih besar: apakah pencurian mesin tempel yang selama ini dikeluhkan sejumlah nelayan merupakan aksi spontan atau ada pola kejahatan yang bekerja secara terencana dan menyasar kawasan pesisir.
Aparat menemukan dua unit mesin tempel, yakni Yamaha 15 PK dan Hidea 15 PK, yang kini menjadi bagian dari pendalaman penyidik. Keberadaan barang bukti tambahan tersebut membuka ruang penyelidikan terhadap kemungkinan adanya kasus-kasus lain yang memiliki pola serupa.
Kapolsek Aertembaga AKP Denny Tampenawas menegaskan bahwa pengungkapan perkara ini merupakan respons atas keresahan masyarakat, terutama nelayan yang sangat bergantung pada mesin tempel untuk menjalankan aktivitas mencari nafkah.
Bagi warga pesisir, kasus ini menjadi pengingat bahwa keamanan di area tambatan perahu masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Sementara bagi penyidik, pengamanan tiga terduga pelaku bukanlah garis akhir, melainkan awal untuk menelusuri lebih jauh apakah masih ada mata rantai lain di balik hilangnya mesin-mesin tempel yang selama ini menghantui para nelayan Bitung.
Penyelidikan kini bergerak ke tahap berikutnya: menelusuri kemungkinan jaringan, pola pergerakan barang hasil kejahatan, serta keterkaitan dengan laporan kehilangan lain yang pernah muncul di kawasan pesisir.
