LUGAS |TALIABU — Paguyuban Sedulur Jawa Taliabu (SJT) berencana menggelar kembali pertemuan rutin anggota pada malam 1 Muharam 1448 Hijriah atau bertepatan dengan 16 Juni 2026. Agenda tersebut menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali kegiatan paguyuban yang sempat vakum selama sekitar dua tahun.
Gagasan tersebut mengemuka dalam pertemuan pengurus dan anggota yang berlangsung di Saung Kebun Air Minggu, Desa Kilong, Minggu (31/5/2026) malam. Dalam pertemuan itu, para pengurus membahas perkembangan organisasi sekaligus pentingnya menjaga kebersamaan warga Jawa yang merantau di Pulau Taliabu.
Salah seorang pengurus SJT, Sumpono, mengatakan meskipun kegiatan rutin sempat terhenti, paguyuban tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.
“Pada Hari Raya Idul Adha kemarin, Paguyuban SJT juga menyembelih satu ekor sapi hasil patungan anggota,” ujar Sumpono.
Menurut dia, komunikasi antaranggota selama ini tetap terjalin dengan baik melalui grup WhatsApp. Sarana tersebut menjadi wadah untuk saling berbagi informasi dan menjaga hubungan kekeluargaan meski jarang bertemu secara langsung.
Hal senada disampaikan Fadli, anggota SJT asal Banyuwangi yang telah bergabung selama empat tahun terakhir. Ia mengaku keberadaan paguyuban memberikan rasa nyaman dan dukungan moral bagi perantau yang hidup jauh dari kampung halaman.
“Meski jarang bertatap muka, saya tetap aktif di grup. Dengan adanya paguyuban ini, saya merasa tidak sendiri di tanah rantau karena memiliki saudara yang selalu siap membantu,” kata Fadli.
Ia menuturkan, manfaat kebersamaan dalam paguyuban kerap dirasakan dalam situasi sehari-hari. Saat menghadapi kendala di perjalanan, terutama pada malam hari, anggota dapat saling menghubungi dan meminta bantuan kepada sesama sedulur.
“Kalau sedang bertugas malam lalu mengalami masalah, seperti ban bocor atau kendala lainnya, kita bisa menghubungi anggota paguyuban. Kehadiran mereka membuat kita merasa lebih tenang,” ujarnya.
Fadli berharap rencana pertemuan pada malam Satu Suro nanti dapat segera terwujud dan menjadi momentum mempererat hubungan antaranggota. Selain memperkuat rasa kekeluargaan, kegiatan tersebut diharapkan menjaga semangat guyub, rukun, dan saling peduli di tengah kehidupan perantauan.
Bagi anggota SJT, kebersamaan bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan juga ruang untuk saling menguatkan. Di tengah jarak yang memisahkan dari kampung halaman dan leluhur, paguyuban menjadi pengingat bahwa mereka tetap memiliki keluarga yang siap hadir saat dibutuhkan.
Laporan: Sumpono | Editor: Mahar Prastowo
