![]() |
| Senja itu, siswa berhamburan rayakan kelulusan. |
LUGAS | Maybrat, Papua Barat Daya — Suasana haru dan penuh ketegangan mewarnai acara pelepasan dan perpisahan siswa kelas IX SMP Negeri 1 Aifat, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, Selasa (2/6/2026). Ratusan siswa dan orang tua sempat dibuat cemas ketika pihak sekolah mengumumkan bahwa ada dua peserta didik yang tidak lulus.
Ketegangan bermula saat operator sekolah, Ottong Safari, S.Pd., meminta para siswa dan orang tua menuju papan pengumuman yang dipasang di depan kantor sekolah.
"Orang tua wali dan siswa-siswi silakan datang melihat papan pengumuman di depan kantor sekolah. Angkatan ke-48 berjumlah 46 siswa-siswi, dan ada dua yang tidak lulus. Waktu melihat nomor diberikan lima menit," ujar Ottong di hadapan peserta acara.
Pernyataan itu sontak membuat ratusan siswa dan orang tua berhamburan menuju papan pengumuman. Sejumlah siswa, terutama siswi, tampak histeris dan cemas mencari nomor kelulusan mereka.
Namun suasana tegang itu berubah menjadi kegembiraan ketika seluruh peserta kembali ke aula. Pihak sekolah kemudian mengumumkan bahwa informasi mengenai dua siswa yang tidak lulus hanyalah bagian dari terapi psikologis untuk menguji kesiapan mental para siswa menjelang pengumuman hasil akhir.
Tangis haru pun pecah setelah diketahui seluruh siswa kelas IX dinyatakan lulus 100 persen.
Kepala SMP Negeri 1 Aifat, Apolos Taa, menjelaskan bahwa kejutan tersebut sengaja diberikan untuk memberikan pengalaman emosional sekaligus pelajaran berharga kepada para siswa.
"Kami memberikan terapi kepada siswa dan siswi dengan mengatakan ada dua orang yang tidak lulus. Padahal seluruh siswa lulus 100 persen," kata Apolos kepada Lugas di sela-sela acara.
Acara pelepasan yang dimulai sekitar pukul 15.00 WIT itu berlangsung hingga malam hari. Setelah prosesi resmi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan hiburan dan joget bersama yang diikuti para siswa, guru, dan orang tua dalam suasana penuh kegembiraan.
Ketua panitia pelepasan, Hendrawan Kosamah, mengatakan angkatan ke-48 mengusung tema kebersamaan dan kekeluargaan sebagai pesan utama bagi para lulusan yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Menurut Apolos, tema tersebut mencerminkan nilai-nilai yang ingin ditanamkan sekolah kepada peserta didik agar tetap menjaga persaudaraan dan solidaritas di tengah masyarakat.
"Kebersamaan dan kekeluargaan menyangkut hubungan antarsiswa sebagai satu keluarga dalam kehidupan bermasyarakat," ujarnya.
Apolos juga mengingatkan bahwa SMP Negeri 1 Aifat merupakan salah satu sekolah pertama yang berdiri di Kabupaten Maybrat. Dalam perjalanan panjangnya, sekolah tersebut pernah menghadapi berbagai tantangan, termasuk penurunan jumlah peserta didik pada masa penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
"Dari tahun ke tahun jumlah siswa kadang naik dan kadang turun. Namun puji Tuhan kondisinya semakin membaik," katanya.
Di akhir acara, Apolos berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih terhadap sarana pendidikan di sekolah tersebut. Ia menilai sejumlah fasilitas, terutama bangunan sekolah, sudah membutuhkan perbaikan.
"Kami berharap pemerintah daerah dapat membantu penunjang pendidikan, terutama gedung sekolah yang sudah tidak layak," ujarnya.
Pelepasan siswa kelas IX tahun ajaran 2025/2026 itu tidak hanya menjadi penanda berakhirnya masa belajar di SMP, tetapi juga menjadi momen yang mempererat ikatan emosional antara siswa, guru, dan orang tua di lingkungan SMP Negeri 1 Aifat.
Laporan: Sopian Hadi Santoso| Editor: Mahar Prastowo

