LUGAS | Jakarta – Sebuah buku dapat lahir dari penelitian, pengalaman profesional, atau pergulatan intelektual. Namun buku "SakMadyoNomics: Mutiara Hati untuk Generasi Penerus" karya Nina Tri justru lahir dari ruang yang paling sunyi: kesepian seorang ibu di usia senja yang kemudian diubah menjadi karya tulis sebagai warisan nilai bagi generasi penerus.
Buku tersebut resmi diluncurkan dalam sebuah acara di NR Resto, Padang Golf Pangkalan Jati (PGPJ), Kamis (30/07/2026) yang dihadiri berbagai tokoh dari kalangan militer, budayawan, akademisi, jurnalis, dan pegiat literasi.
Acara dibuka dengan sambutan Brigjen Marinir (Purn.) Lasmono, General Manager PGPJ, yang dibacakan Laksma (Purn) Anang Sufiantoro, dilanjutkan "Sepatah Kata" dari penulis, Nina Tri, yang mengisahkan proses lahirnya buku tersebut sebagai teman di tengah kesunyian sekaligus ikhtiar mewariskan pengalaman hidup kepada generasi muda.
Peluncuran buku dilakukan oleh Dr. Nies Endang Mangunkusumo, disaksikan para narasumber, tamu undangan, dan pegiat literasi.
Dalam sesi Sekilas Bincang Buku, hadir Frans Padak Demon, Saryanto mewakili Bambang Soelistyo (Ketua Umum SENAWANGI/Sekretariat Nasional Wayang Indonesia), Rajudin Musba dari Pejuang Arah Bangsa, Adhi Lukman dari GAPMMI serta Elman Bago, S.H., M.H., yang memberikan apresiasi terhadap isi dan pesan yang dibangun melalui buku tersebut.
Bukan Sekadar Autobiografi
Bagi Nina Tri, buku ini bukan sekadar catatan perjalanan hidup.
Dalam pengantarnya, ia mengakui bahwa proses menulis berawal dari upaya menghibur diri ketika menghadapi kesepian di masa tua. Namun, pengalaman pribadi itu kemudian berkembang menjadi refleksi yang ingin diwariskan kepada anak, cucu, dan generasi penerus sebagai bekal menghadapi kehidupan. Gagasan tersebut juga selaras dengan tujuan penerbitan buku, yakni mendukung Program Lansia Tangguh Indonesia Tumbuh, Gerakan Literasi Nasional, dan Gerakan Pembudayaan Literasi.
Curhat yang Menjadi "Kompas"
Jurnalis senior Frans Padak Demon menilai kekuatan utama buku ini justru terletak pada kejujurannya.
Menurut Frans, "SakMadyoNomics" memang berangkat dari sebuah curhat pribadi seorang lansia. Namun, curahan hati itu tidak berhenti sebagai keluhan atau nostalgia. Di tangan Nina Tri, pengalaman hidup berkembang menjadi ruang kontemplasi yang mentransfer nilai-nilai kehidupan kepada generasi berikutnya.
Frans melihat buku ini sebagai upaya mengabadikan nilai-nilai yang mulai memudar di tengah perubahan zaman: penghormatan kepada keluarga, keteguhan menghadapi cobaan, kesabaran, kasih sayang, dan semangat untuk terus berkarya meski usia bertambah.
Ia mengingatkan adagium klasik dari bahasa Latin: Verba volant, scripta manent _ Ucapan akan berlalu, tetapi tulisan akan tetap tinggal.
Menurut Frans, nilai-nilai yang selama ini diwariskan secara lisan kini memperoleh "rumah" baru melalui tulisan, sehingga dapat terus dibaca, direnungkan, dan diwariskan kepada generasi yang akan datang.
Warisan Kehidupan
Ketua Umum SENAWANGI memandang karya seperti ini memiliki arti penting dalam menjaga kesinambungan budaya dan karakter bangsa. Melalui autobiografi, pengalaman hidup tidak berhenti pada lingkup keluarga, tetapi menjadi bagian dari memori kolektif yang dapat dipelajari masyarakat.
Sementara itu, Elman Bago, S.H., M.H. mengapresiasi keberanian penulis menuangkan pengalaman hidup secara terbuka sebagai inspirasi bagi pembaca.
Peluncuran buku berlangsung hangat dan penuh suasana kekeluargaan. Setelah prosesi peluncuran oleh Dr. Nies Endang Mangunkusumo, acara dilanjutkan dengan foto bersama, ramah tamah, serta penandatanganan buku oleh penulis.
Menulis sebagai Amal Jariyah
Bagi Nina Tri, menulis bukan lagi sekadar aktivitas literasi.
Ia berharap buku ini menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman generasinya dengan generasi muda. Harapan itu sejalan dengan sabda Rasulullah SAW bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, salah satunya ilmu yang bermanfaat.
Karena itu, "SakMadyoNomics" bukan hanya autobiografi.
Ia adalah ikhtiar menjadikan pengalaman hidup sebagai ilmu yang terus memberi manfaat, sekaligus meninggalkan jejak yang tidak hilang ditelan waktu.
Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba singkat, buku ini mengingatkan kembali bahwa ada nilai-nilai kehidupan yang tidak cukup disampaikan melalui percakapan sesaat. Nilai-nilai itu perlu dituliskan, agar tetap hidup lintas generasi.
Seperti ungkapan yang dikutip dalam acara peluncuran buku tersebut:
Verba volant, scripta manent.
Ucapan boleh menghilang bersama angin. Namun tulisan akan tetap tinggal, menjadi saksi perjalanan hidup sekaligus warisan bagi masa depan.
