LUGAS | BITUNG – Rasa syukur menyelimuti keluarga Renato Ensuy Taguriri (67), nelayan asal Kelurahan Wangurer, Kecamatan Girian, Kota Bitung, setelah pria lanjut usia itu ditemukan selamat di perairan Maluku usai dihantam cuaca buruk saat hendak kembali menuju KM Syafiq.
Renato dievakuasi awak TB Intan Megah 4, kapal tugboat bermuatan batu bara yang sedang berlayar menuju Obi Mayor, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Bersama perahu (pakura) miliknya, Renato diangkat ke atas tugboat setelah sempat terombang-ambing diterjang gelombang tinggi.
Kasat Polairud Polres Bitung IPDA Jhon Marisi, S.H., mengatakan, begitu menerima informasi keberadaan korban dari jajaran Polairud Polda Maluku Utara, pihaknya langsung melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat dan keluarga korban.
"Atas perintah Bapak Kapolres Bitung, kami langsung menghubungi keluarga korban di Kelurahan Wangurer. Pada Sabtu malam sekitar pukul 23.00 Wita, kami bersama Camat Girian Rukman Rasyid, S.Sos., dan Lurah Wangurer Sitti Mariam Lariha, SST, mendatangi rumah keluarga korban di kawasan Pantai Dodik untuk menyampaikan bahwa korban dalam keadaan selamat dan akan dipulangkan menggunakan KM Cantika Lestari yang tiba di Bitung pada Senin (13/7/2026)," ujar Jhon.
Menurutnya, koordinasi terus dilakukan hingga proses penjemputan korban berjalan lancar. Kabar keselamatan Renato menjadi kelegaan bagi keluarga yang sebelumnya hanya mengetahui informasi penemuan korban melalui media sosial.
Sementara itu, Camat Girian Rukman Rasyid, S.Sos., mengimbau para nelayan agar lebih mengutamakan keselamatan saat melaut.
"Peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Kami mengimbau para nelayan agar selalu memperhatikan kondisi cuaca, memastikan perlengkapan keselamatan tersedia, dan tidak memaksakan diri melaut apabila kondisi laut tidak memungkinkan," katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada nahkoda beserta seluruh awak TB Intan Megah 4, serta jajaran Polairud Polda Maluku Utara yang telah menyelamatkan korban dan memfasilitasi proses kepulangannya hingga kembali ke Kota Bitung.
Detik-detik Bertahan Hidup
Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, Renato mengenang saat dirinya nyaris kehilangan harapan di tengah luasnya Laut Maluku.
Menurut Renato, peristiwa itu bermula ketika dirinya diperintahkan kapten KM Syafiq untuk mengantar perbekalan dan tali menggunakan perahu pakura menuju rakit. Karena hari mulai gelap, ia memutuskan bermalam di atas rakit dan berencana kembali ke kapal pada keesokan harinya. Saat itu, jarak rakit dengan KM Syafiq diperkirakan hanya sekitar tiga hingga empat mil laut.
"Besok paginya saya berangkat mau kembali ke kapal. Baru di perjalanan cuaca langsung berubah. Angin bertiup sangat kencang dan ombak sekitar dua sampai tiga meter menghantam pakura saya," tutur Renato.
Gelombang besar membuat perahu kecil yang dikemudikannya tak lagi mampu melawan arus. Selama sekitar tiga hingga empat jam, pakura tersebut terus dihantam ombak dan terseret semakin jauh dari kapal yang menjadi tujuannya.
"Saya hanya bisa bertahan. Perahu terus terbawa arus. Saya sudah tidak tahu lagi berada di mana karena ombak sangat besar," ujarnya.
Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, secercah harapan muncul ketika TB Intan Megah 4 yang sedang melintas melihat keberadaan Renato. Nahkoda kapal, Syamsudin, segera memerintahkan seluruh awak kapal melakukan evakuasi.
Renato bersama perahu pakura miliknya berhasil diangkat ke atas tugboat. Awak kapal kemudian memberikan makanan, minuman, serta tempat beristirahat sebelum membawanya menuju Obi Mayor.
Mengenang peristiwa itu, Renato tak mampu menahan haru. Air mata mengalir saat mengenang detik-detik penyelamatan yang mengembalikannya kepada keluarga.
"Saya bersyukur kepada Tuhan karena masih diselamatkan. Terima kasih kepada nahkoda dan seluruh awak kapal tugboat yang sudah menolong saya. Kalau bukan karena mereka, mungkin saya tidak akan bisa kembali bertemu keluarga," ucap Renato sambil mengusap air matanya.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perubahan cuaca di laut dapat terjadi secara tiba-tiba. Bagi nelayan tradisional yang menggantungkan hidup dari laut, kewaspadaan, kelengkapan alat keselamatan, kecukupan bahan bakar, serta pemantauan informasi cuaca sebelum melaut merupakan faktor penting untuk mengurangi risiko kecelakaan di laut.
Kisah Renato menjadi bukti bahwa solidaritas antarpelaut masih menjadi harapan di tengah ganasnya lautan. Kepedulian nahkoda dan awak TB Intan Megah 4 berhasil menyelamatkan nyawa seorang nelayan asal Bitung yang nyaris menjadi korban keganasan ombak di perairan Maluku.
