Menembus Awan Maybrat: Bandara Ayawasi Menjadi Nadi Mobilitas, Pegunungan Petik Bintang Memikat Wisatawan




LUGAS | MAYBRAT – Di balik bentang alam Papua Barat Daya yang bergunung-gunung, Bandara Udara Ayawasi menjadi salah satu simpul penting yang menghubungkan masyarakat Kabupaten Maybrat dengan Kota Sorong dan wilayah lain di Papua. Di saat yang sama, kawasan Pegunungan Petik Bintang menawarkan pesona alam yang mulai dikenal sebagai destinasi wisata dengan panorama "negeri di atas awan".

Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas III Ayawasi, Sigit Buntara, menjelaskan bahwa Bandara Ayawasi merupakan bandara yang dikelola oleh Kementerian Perhubungan Republik Indonesia dan melayani penerbangan datang maupun berangkat secara reguler.

Menurut Sigit, Bandara Ayawasi belum memiliki hanggar untuk pesawat komersial. Pesawat yang melayani rute tersebut bermalam di Bandara Domine Eduard Osok (DEO), Kota Sorong, sebagai bandara induk. Adapun hanggar yang berada di kawasan Bandara Ayawasi merupakan milik salah satu lembaga misi gereja dan digunakan untuk kebutuhan kegiatan mereka.

Maskapai Susi Air saat ini melayani penerbangan menuju Ayawasi sebanyak tiga kali dalam sepekan. Rute Sorong–Ayawasi beroperasi pada hari Rabu dan Sabtu, sedangkan rute Manokwari–Ayawasi–Sorong dilayani pada hari Selasa. Tingkat keterisian penumpang disebut berkisar antara 70 hingga 80 persen, menunjukkan bahwa transportasi udara masih menjadi pilihan utama masyarakat untuk menjangkau wilayah Maybrat.

Di area bandara, penjualan tiket juga dilayani langsung oleh Susi Air. Tarif penerbangan Sorong–Ayawasi sekitar Rp400.000 per penumpang. Setiap penumpang memperoleh jatah bagasi hingga 5 kilogram, sementara kelebihan bagasi dikenakan biaya Rp15.000 per kilogram.

Sebagai pembanding, masyarakat juga dapat menggunakan transportasi darat berupa bus Damri dengan rute Sorong–Kumurkek, ibu kota Kabupaten Maybrat, dengan tarif sekitar Rp170.000 per orang. Namun perjalanan darat memerlukan waktu lebih lama karena harus menempuh jalan pegunungan.

Di sisi lain, Kabupaten Maybrat menyimpan daya tarik wisata alam yang belum banyak dikenal, yakni Pegunungan Petik Bintang. Kawasan ini menawarkan panorama kabut yang bergerak cepat, menciptakan pemandangan dramatis yang membuat pengunjung seolah berada di atas hamparan awan.

Perjalanan menuju lokasi dari Kota Sorong memakan waktu sekitar tujuh hingga delapan jam dengan jarak sekitar 230 kilometer. Rute tersebut melewati jalan berkelok, tanjakan, serta jurang di sisi pegunungan yang menuntut kehati-hatian pengendara.

Saat mengunjungi kawasan tersebut pada Jumat (17/7/2026), rombongan menyaksikan kabut datang dan pergi silih berganti, membentuk lanskap yang terus berubah. Pemandangan itu menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung yang ingin menikmati suasana pegunungan Papua.

Wahyu Mayor, anggota Satpol PP Kabupaten Maybrat yang turut berada di lokasi, mengatakan dirinya tidak pernah bosan mengunjungi Petik Bintang karena panorama alamnya selalu berbeda setiap kali datang.

Sementara itu, seorang warga yang akrab disapa Abang Mail berseloroh agar pengunjung membawa karung "untuk memetik bintang" sebagai oleh-oleh, menggambarkan kedekatan masyarakat dengan keindahan alam kawasan tersebut.

Di balik pesonanya, akses menuju Petik Bintang masih menyimpan tantangan. Budi, warga yang mendampingi perjalanan, mengingatkan bahwa jalur menuju puncak memiliki tikungan tajam, jurang, dan tebing yang memerlukan kewaspadaan tinggi. Ia menyebut telah terjadi sejumlah kecelakaan di ruas jalan tersebut sehingga keselamatan perjalanan harus menjadi perhatian utama.

Menurut warga, kawasan itu pernah ramai dikunjungi, termasuk rombongan komunitas Vespa dari Sorong yang bermalam di lokasi. Namun hingga kini belum tersedia fasilitas penginapan maupun sarana pendukung wisata yang memadai.

Keindahan alam yang masih alami, dipadukan dengan akses udara yang terus melayani mobilitas masyarakat, menjadikan Kabupaten Maybrat memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai tujuan wisata alam di Papua Barat Daya, sekaligus tetap memperhatikan peningkatan infrastruktur dan keselamatan perjalanan.



Laporan: Sopian Hadi Santoso | Editor: Mahar Prastowo 



0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1