LUGAS | Maybrat, Papua Barat Daya — Pagi itu, wajah-wajah baru memenuhi Aula SMP Negeri 1 Aifat. Sebanyak 36 siswa dan siswi yang baru saja menanggalkan seragam sekolah dasar melangkah memasuki babak baru perjalanan pendidikan mereka melalui kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Pelajaran 2025/2026.
Mereka datang dengan semangat yang berbeda. Seragam putih dan merah muda masih tampak baru melekat di tubuh mereka. Di kepala terpasang topi berbentuk kerucut warna-warni, sementara tangan kecil mereka menggenggam alat kebersihan seperti sapu, ember, dan gayung. Di dada masing-masing tersemat papan nama, seolah menjadi tanda awal bahwa mereka kini bagian dari keluarga besar SMP Negeri 1 Aifat.
Di aula sekolah yang berada di Jalan Frateo, Kampung Ayawasi, Distrik Aifat Utara, Kabupaten Maybrat, langkah para siswa baru itu disambut suasana penuh harapan.
Kepala SMP Negeri 1 Aifat, Apolos Taa, S.Pd., secara resmi membuka kegiatan MPLS. Dalam arahannya, ia mengajak para siswa baru mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh antusias.
"Kiranya siswa dan siswi baru dapat mengikuti kegiatan ini dengan antusias sampai selesai," ujar Apolos.
Bagi SMP Negeri 1 Aifat, setiap kedatangan siswa baru bukan sekadar pergantian generasi, melainkan bagian dari perjalanan panjang pendidikan di wilayah pedalaman Papua Barat Daya.
Apolos mengisahkan, SMP Negeri 1 Aifat merupakan salah satu sekolah bersejarah di Kabupaten Maybrat. Sekolah ini berdiri sejak 1984, ketika akses pendidikan masih menghadapi berbagai keterbatasan. Pada masa awal berdiri, bangunan sekolah masih menggunakan material papan dan tenaga pengajar didatangkan dari Kabupaten Sorong.
"Transportasi satu-satunya saat itu adalah pesawat Cesna. Banyak keterbatasan yang harus dilalui untuk menghadirkan pendidikan di daerah ini," tuturnya.
Menurut Apolos, jumlah penerimaan siswa di sekolah tersebut mengalami pasang surut dari tahun ke tahun. Namun semangat untuk mempertahankan pendidikan tidak pernah berhenti.
Ia berharap para siswa baru menjadikan para alumni SMP Negeri 1 Aifat sebagai inspirasi. Sebab, dari sekolah sederhana di tanah Maybrat itu telah lahir banyak generasi yang mengabdi di berbagai bidang.
"Contohlah siswa-siswi lulusan SMP Negeri Aifat yang banyak menjadi pejabat pemerintahan, dokter, pilot, maupun guru," katanya memberikan motivasi.
Sementara itu, ketua panitia MPLS yang didampingi sejumlah guru menjelaskan bahwa materi kegiatan disusun mengikuti kurikulum dan petunjuk pelaksanaan MPLS yang berlaku.
Materi awal yang diberikan meliputi pengenalan visi dan misi sekolah. Selain itu, para siswa juga dikenalkan dengan lingkungan sekolah, termasuk fungsi ruang laboratorium, perpustakaan, serta berbagai fasilitas pendukung pembelajaran.
"Melalui MPLS, siswa diharapkan memahami lingkungan sekolah dan aturan yang berlaku," ujar ketua panitia.
Ia menambahkan, siswa juga diberikan pemahaman mengenai perilaku hidup positif, seperti larangan mengonsumsi minuman keras dan merokok di lingkungan sekolah. Selain itu, penggunaan telepon genggam juga menjadi bagian dari pembahasan, terutama mengenai manfaat dan dampak negatifnya bagi pelajar.
Bagi para siswa baru, MPLS bukan hanya tentang mengenal gedung dan aturan sekolah. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi pintu masuk untuk mengenal nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan mimpi-mimpi yang ingin mereka raih.
MPLS SMP Negeri 1 Aifat berlangsung selama tiga hari, mulai Kamis, 9 Juli hingga Sabtu, 11 Juli 2026. Setelah itu, kegiatan belajar mengajar aktif kembali setelah masa libur panjang.
Di sebuah sekolah yang tumbuh dari keterbatasan, 36 anak Maybrat hari itu memulai langkah kecil menuju masa depan. Sebuah perjalanan pendidikan yang membuktikan bahwa harapan dapat tumbuh di mana pun, termasuk dari ujung timur Indonesia.
Laporan: Sopian Hadi Santoso
Editor: Mahar Prastowo
