LUGAS | BITUNG – Sebuah kisah bertahan hidup di tengah ganasnya laut dialami Renato Ensuy Taguriri (67), nelayan asal Wangurer, Kecamatan Girian, Kota Bitung. Setelah dilaporkan hilang saat melaut, Renato akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat di perairan Maluku oleh awak kapal tugboat TB Intan Megah 4.
Informasi yang diperoleh menyebutkan, Personel Marnit Polairud Obi KP. XXX-1007 menerima laporan mengenai penemuan nelayan tersebut pada Sabtu (11/7/2026) sekitar pukul 18.00 WIT. Laporan itu kemudian diteruskan kepada Direktorat Polairud Polda Maluku Utara untuk penanganan lebih lanjut.
Berdasarkan keterangan nahkoda TB Intan Megah 4, Syamsudin (36), kapal yang berlayar dari Samarinda menuju Obi, Halmahera Selatan, menemukan seorang nelayan yang tengah terombang-ambing di laut pada Selasa (7/7/2026) sekitar pukul 13.00 WIT di koordinat 01°30.252' LU - 126°04.443' BT.
Melihat kondisi tersebut, nahkoda segera memerintahkan anak buah kapal melakukan evakuasi. Setelah berada di atas kapal, Renato mengaku hanyut setelah perahu yang digunakannya kehabisan bahan bakar sehingga tidak mampu kembali ke daratan dan terbawa arus laut.
Namun, cerita Renato menggambarkan perjuangan yang lebih panjang. Kepada wartawan, ia mengaku telah berada di lautan selama sekitar 3-4 Jam sebelum akhirnya ditemukan.
Menurut Renato, peristiwa itu bermula ketika dirinya diperintahkan kapten KM Syafiq untuk mengantar perbekalan dan tali menggunakan perahu pakura menuju rakit. Karena hari mulai gelap, ia memutuskan bermalam di atas rakit dan berencana kembali ke kapal pada keesokan harinya. Saat itu, jarak rakit dengan KM Syafiq diperkirakan hanya sekitar tiga hingga empat mil laut.
"Besok paginya saya berangkat mau kembali ke kapal. Baru di perjalanan cuaca langsung berubah. Angin bertiup sangat kencang dan ombak sekitar dua sampai tiga meter menghantam pakura saya," tutur Renato.
Dalam kondisi tersebut, mesin perahu mengalami gangguan. saya sempat mematikan mesin untuk menghemat bahan bakar, tetapi derasnya arus terus menyeret perahu menjauh dari jalur pelayaran dan akhirnya kehilangan kontak dengan kapal.
"Saya pikir masih bisa kembali karena ombak. Ternyata arus terus membawa saya semakin jauh," tutur Renato.
Selama hanyut, saya bertahan hidup dengan persediaan seadanya sambil berharap bertemu kapal yang melintas. Harapan itu akhirnya terwujud ketika TB Intan Megah 4 melihat perahu saya dan melakukan penyelamatan.
Personel Marnit Polairud Obi kemudian berkoordinasi dengan kapal penumpang Cantika Bahari 9F serta menghubungi keluarga korban di Kota Bitung. Sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan, personel Marnit Polairud Obi bahkan berinisiatif menanggung biaya kepulangan Renato hingga kembali ke Kota Bitung.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat tingginya risiko yang dihadapi nelayan tradisional saat melaut, terutama ketika menghadapi cuaca buruk dan keterbatasan perlengkapan keselamatan. Penggunaan alat komunikasi darurat, kecukupan bahan bakar, pelampung, serta pemantauan prakiraan cuaca sebelum berlayar menjadi faktor penting untuk meminimalkan risiko kecelakaan laut.
Keselamatan Renato menjadi kabar yang melegakan bagi keluarga. Namun, peristiwa ini juga menjadi evaluasi bersama agar sistem keselamatan pelayaran nelayan kecil semakin diperkuat sehingga kejadian serupa tidak kembali terulang.
