LUGAS | BITUNG — PT Futai Sulawesi Utara membantah tuduhan masih menjalankan aktivitas produksi sebelum insiden penyerangan, perusakan, dan pembakaran fasilitas perusahaan di kawasan pabriknya di Jalan Trans Sulawesi, Kota Bitung, pada Selasa malam, 14 Juli 2026. Melalui tim kuasa hukumnya, perusahaan menegaskan operasional produksi telah dihentikan sejak rapat bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Bitung pada 8 Juli 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers oleh Tim Kuasa Hukum PT Futai Sulawesi Utara yang terdiri atas D. Novian Baeruma, S.H., Jakson Wenas, S.H., dan Rudie M. Serang, CPLA, Rabu, 15 Juli 2026.
Menurut kuasa hukum perusahaan, tuduhan bahwa PT Futai masih berproduksi menjadi pemicu terjadinya aksi massa yang berujung pada pengrusakan dan pembakaran fasilitas perusahaan. Padahal, perusahaan mengklaim memiliki bukti yang menunjukkan tidak ada aktivitas produksi sejak keputusan penghentian operasional disepakati bersama pemerintah daerah.
"Bukti tersebut berupa rekaman CCTV yang memperlihatkan tidak adanya aktivitas produksi, kondisi boiler yang tidak beroperasi, serta terhentinya pasokan air bersih akibat penutupan jalur distribusi air. Secara teknis, perusahaan tidak mungkin melakukan proses produksi dalam kondisi tersebut," kata Novian.
Ia menjelaskan, sekitar pukul 22.00 Wita, sebuah kontainer yang akan memasuki area pabrik dihadang sekelompok orang. Satu jam kemudian, massa memasuki kawasan perusahaan dengan tuduhan PT Futai tetap menjalankan produksi. Perusahaan menilai tuduhan itu tidak didukung fakta.
Akibat insiden tersebut, empat gedung mess karyawan, satu gudang, dua kendaraan operasional, empat motor listrik, tiga kontainer bahan baku, serta sebagian lantai satu dan dua gedung kantor mengalami kerusakan. Selain itu, pagar depan dan belakang perusahaan dirusak, sementara sejumlah barang kantor dilaporkan hilang.
Perusahaan juga menemukan sejumlah kamera pengawas (CCTV) dalam kondisi rusak dan perangkat decoder CCTV tidak lagi berada di tempat penyimpanannya. Temuan itu, menurut kuasa hukum, akan diserahkan kepada penyidik untuk didalami sebagai bagian dari proses penyelidikan.
PT Futai memperkirakan total kerugian akibat insiden tersebut mencapai sekitar Rp15 miliar, mencakup kerugian material maupun nonmaterial. Selain kerusakan aset, perusahaan menyebut peristiwa itu menimbulkan trauma bagi karyawan, mengganggu aktivitas administrasi, serta berdampak terhadap rasa aman dan reputasi perusahaan.
Kuasa hukum mengatakan perusahaan sengaja menginstruksikan seluruh pekerja untuk tidak melakukan perlawanan demi menghindari jatuhnya korban jiwa. Seluruh karyawan diminta mengutamakan keselamatan ketika aksi massa terjadi.
Atas peristiwa itu, PT Futai telah membuat laporan resmi kepada Polres Bitung terkait dugaan tindak pidana penyerangan, pengrusakan, pembakaran, dan dugaan pengambilan barang milik perusahaan. Seluruh bukti yang dimiliki akan diserahkan kepada aparat penegak hukum.
Perusahaan menegaskan tetap menghormati proses hukum yang sedang berlangsung, termasuk berbagai keberatan masyarakat terhadap keberadaan perusahaan. Menurut kuasa hukum, setiap perbedaan pandangan semestinya diselesaikan melalui dialog, mekanisme pemerintahan, maupun jalur peradilan, bukan melalui tindakan anarkis.
"PT Futai mempercayakan sepenuhnya penanganan perkara ini kepada aparat penegak hukum dan berharap proses penyelidikan berlangsung profesional, transparan, objektif, serta memberikan kepastian hukum bagi seluruh pihak," ujar Novian.
Perusahaan juga menekankan bahwa PT Futai beroperasi di kawasan ekonomi khusus yang menjadi bagian dari upaya pemerintah menciptakan iklim investasi yang aman dan berkelanjutan. Karena itu, perlindungan terhadap keselamatan pekerja, kepastian hukum, dan keberlangsungan usaha dinilai menjadi kepentingan bersama.
Di akhir pernyataannya, PT Futai menyampaikan apresiasi kepada Wakil Wali Kota Bitung Randito Maringka, Kapolres Bitung AKBP Arie Sulistyo Nugroho beserta jajaran, serta Dandim 1310/Bitung Letkol Inf. Dewa Made DJ bersama personel TNI yang turun langsung mengamankan situasi dan membantu penanganan insiden di lokasi perusahaan.
