Pendekatan tersebut diterapkan tim pengabdian kepada masyarakat Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui kegiatan penanganan pascabencana berbasis kearifan lokal di Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, pada 5–6 Agustus 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mengembangkan model penanganan pascabencana yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mempertimbangkan karakter sosial, budaya, psikologis, serta kebutuhan masyarakat setempat.
Tim pengabdian masyarakat ITB yang terdiri atas Dr. Dana Waskita, S.S., M.App.Ling., R.R. Sri Wachyuni, M.Psi., Dr. Tri Sulistyaningtyas, M.Hum., dan Andi Muhammad Yuandana Putra C., S.T., M.B.A., berkolaborasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk memperkuat kapasitas aparatur dalam menghadapi situasi bencana dan pascabencana.
Pendekatan berbasis budaya dipandang penting karena kehidupan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai yang telah tumbuh dan mengakar dalam kehidupan sehari-hari. Budaya bukan hanya menjadi identitas masyarakat, tetapi juga dapat menjadi sumber pengetahuan, memperkuat solidaritas, serta membangun ketahanan sosial ketika masyarakat menghadapi situasi sulit.
Di Sumatera Utara, nilai kebersamaan tersebut tercermin dalam berbagai tradisi lokal. Salah satunya adalah Marsialapari di Tapanuli Selatan yang menekankan semangat saling membantu dalam menyelesaikan persoalan bersama. Sementara masyarakat Batak Toba mengenal tradisi Marsiurupan yang berakar pada nilai Dalian Na Tolu.
Kedua tradisi tersebut memperlihatkan kuatnya nilai persatuan, gotong royong, dan kerja sama yang dapat menjadi modal sosial dalam proses pemulihan pascabencana.
Selain pendekatan budaya, aspek psikologis menjadi perhatian dalam model yang dikembangkan ITB. Bencana dapat meninggalkan pengalaman traumatis yang memengaruhi kondisi psikologis masyarakat. Karena itu, proses pemulihan perlu dilakukan dengan pendekatan yang mampu membangun kembali semangat, kemampuan beradaptasi, serta kesiapan masyarakat menghadapi perubahan.
Dalam konteks tersebut, kemampuan OPD dalam berkomunikasi dengan penyintas juga menjadi bagian penting. Dr. Dana Waskita dan Dr. Tri Sulistyaningtyas memberikan materi mengenai penggunaan bahasa yang tepat dalam menyampaikan informasi dan arahan selama proses pemulihan.
Bahasa yang terlalu teknis atau rumit dapat menyulitkan penyintas memahami langkah-langkah yang harus dilakukan. Sebaliknya, penggunaan bahasa yang sederhana, tepat, dan mempertimbangkan latar belakang budaya masyarakat diharapkan dapat membuat pesan pemulihan lebih mudah diterima dan diterapkan.
Model yang dikembangkan ITB juga menggunakan sejumlah metode, mulai dari studi lapangan dan observasi partisipatif, pemetaan permasalahan, diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD), hingga pendekatan psikologis melalui pelatihan, konseling, coaching, simulasi, dan permainan.
Para peserta kemudian mengikuti workshop serta pendampingan praktis yang melibatkan para ahli. Rangkaian tersebut diarahkan agar OPD tidak hanya memahami konsep penanganan pascabencana, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menerapkannya secara mandiri dan berkelanjutan.
Model ini pada akhirnya diarahkan untuk meningkatkan kompetensi OPD melalui perpaduan pendekatan psikologi dan budaya. Fokusnya mencakup peningkatan kesiapan menghadapi perubahan, motivasi berprestasi, kemampuan beradaptasi, serta kualitas pelayanan publik dalam situasi bencana dan pascabencana.
Melalui pendekatan tersebut, ITB mendorong lahirnya kapasitas OPD yang lebih adaptif, tanggap, dan tangguh. Nilai-nilai budaya yang telah lama hidup di tengah masyarakat tidak sekadar dipertahankan sebagai warisan, tetapi dapat dihadirkan sebagai kekuatan dalam membangun ketahanan masyarakat menghadapi bencana.
Dengan demikian, pemulihan pascabencana bukan hanya tentang bagaimana masyarakat bangkit dari kerusakan, tetapi juga bagaimana kekuatan sosial, budaya, dan psikologis yang mereka miliki dapat menjadi fondasi untuk kembali menata kehidupan.(TJ)
.png)