LUGAS | BITUNG — Merah Putih bukan sekadar kain yang menunggu dikibarkan. Di pundak para anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Bitung, ia menjadi amanah yang menuntut disiplin, tanggung jawab, dan keteladanan.
Di hadapan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pejabat Pemerintah Kota Bitung, para orang tua, pembina, dan pelatih, Wali Kota Bitung Hengky Honandar, S.E. mengukuhkan Paskibraka Kota Bitung Tahun 2026.
Pengukuhan itu menandai berakhirnya rangkaian seleksi dan pelatihan yang mereka jalani. Di balik seragam dan sikap tegap itu ada latihan, ketekunan, kedisiplinan, serta pengorbanan yang tidak sedikit.
“Pengukuhan ini bukan sekadar sebuah seremonial. Ini adalah muara dari proses seleksi yang ketat, latihan yang berat serta ketekunan, kedisiplinan dan pengorbanan yang telah adik-adik jalani selama berhari-hari,” kata Hengky dalam amanatnya.
Bagi Hengky, menjadi Paskibraka berarti menerima kepercayaan sekaligus tanggung jawab. Mereka tidak hanya bertugas mengibarkan dan menurunkan Sang Merah Putih pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi juga dituntut menjadi teladan di lingkungan masing-masing.
Disiplin, integritas, persatuan, tanggung jawab, dan semangat kebangsaan menjadi nilai yang ditekankan Hengky kepada para anggota Paskibraka.
Ia meminta mereka menjaga kehormatan diri, keluarga, sekolah, dan Kota Bitung. Pengalaman selama menjalani pendidikan dan pelatihan diharapkan menjadi bekal untuk menempuh perjalanan yang lebih panjang setelah tugas sebagai Paskibraka usai.
“Jadikanlah momen ini sebagai tonggak sejarah penting perjalanan hidup kalian menjadi Paskibraka, berarti menjadi teladan dalam disiplin, integritas, persatuan, tanggung jawab dan semangat kebangsaan,” ujar Hengky.
Pesan itu memperlihatkan bahwa tugas Paskibraka tidak berhenti pada seremoni pengibaran bendera. Bagi Pemerintah Kota Bitung, mereka adalah bagian dari generasi muda yang dipersiapkan untuk mengambil peran dalam perjalanan daerah dan bangsa.
Karena itu, Hengky menyampaikan apresiasi kepada para pembina, pelatih, pendamping, serta orang tua yang telah memberikan dukungan, doa, pembinaan, dan pengorbanan.
Di balik setiap langkah tegap seorang Paskibraka, ada keluarga yang mendukung, pelatih yang membimbing, dan proses panjang yang menempa karakter.
Hengky pun mengingatkan para anggota Paskibraka agar tidak menjadikan pengukuhan sebagai titik akhir. Pengalaman tersebut harus menjadi bekal untuk terus belajar, berkarya, dan mengukir prestasi.
“Teruslah mengukir prestasi untuk Indonesia dan Kota Bitung tercinta,” kata Hengky.
Tugas mengibarkan bendera mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun nilai yang menyertainya diharapkan tinggal jauh lebih lama: tanggung jawab, pengabdian, persatuan, disiplin, dan kecintaan kepada tanah air.
Merah Putih akan kembali berkibar di langit Bitung pada perayaan kemerdekaan.
Di bawahnya, para Paskibraka akan berdiri sebagai anak-anak muda yang telah belajar bahwa kehormatan tidak datang dengan mudah. Ia diperoleh melalui proses dan harus dijaga dengan disiplin, keberanian, serta tanggung jawab.





