![]() |
| Fiolin saat menerima penghargaan dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. |
LUGAS - SIDOARJO – Dahulu, Gedung Negara Grahadi hanya hadir di layar televisi bagi Fiolin Kasih Pratama. Setiap 17 Agustus, gadis asal Sidoarjo itu menyaksikan upacara peringatan kemerdekaan dari rumah, melihat para petugas berdiri tegap dan Sang Merah Putih dikibarkan dengan penuh kehormatan.
Namun, Senin pagi, 17 Agustus 2026, sesuatu yang dulu hanya bisa dilihat dari layar televisi itu berubah menjadi kenyataan.
Fiolin justru berdiri di sana.
Berseragam putih, lengkap dengan atribut Paskibra, gadis berusia 17 tahun itu berdiri tegap di antara putra-putri terbaik Jawa Timur. Ia menjadi bagian dari Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Provinsi Jawa Timur yang bertugas pada upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Gedung Negara Grahadi, Surabaya.
Di tempat yang sama, di hadapan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Fiolin menjalankan tugas yang selama ini mungkin hanya berani ia bayangkan.
Ia mengibarkan Merah Putih.
Bagi Fiolin, momen itu bukan sekadar tugas. Ada rasa syukur, bangga, bahagia, sekaligus haru yang bercampur menjadi satu.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur kepada Allah SWT karena diberikan kesehatan dan kesempatan. Saat tampil di Grahadi, perasaan saya bahagia sekali sekaligus terharu. Tapi sempat deg-degan juga karena saya berada di barisan paling depan,” tutur putri pasangan Nur Cholis dan Nur Suci tersebut.
Fiolin tergabung dalam Pasukan 17, barisan yang berada di bagian depan dalam formasi pengibaran. Bersama rekan-rekannya, ia tidak hanya bertugas pada pagi hari saat pengibaran, tetapi kembali menjalankan tugas pada sore hari ketika bendera Merah Putih diturunkan.
Tugas itu menuntut konsentrasi penuh.
Bahkan, pada saat pelaksanaan, terdapat perubahan tempo dalam Peraturan Baris Berbaris (PBB), dari 116 menjadi 110. Perubahan yang datang secara mendadak itu menjadi tantangan tersendiri bagi Fiolin dan rekan-rekannya.
Tetapi latihan panjang telah mengajarkannya satu hal: tetap tenang, fokus, dan percaya pada proses.
“Saya sangat bangga dan sangat bahagia. Sebelumnya saya hanya bisa mengikuti upacara peringatan HUT RI di Grahadi dengan menonton televisi. Namun sekarang saya sendiri yang menjadi petugas, ikut mengibarkan bendera Merah Putih di hadapan Gubernur Jawa Timur. Ini bukan mimpi, tetapi kenyataan,” ujarnya terharu.
Langkah Pertama Dimulai dari Sekolah
Tidak ada keberhasilan yang datang tiba-tiba.
Jauh sebelum mengenakan seragam Paskibra Provinsi Jawa Timur, Fiolin hanyalah seorang pelajar yang mulai mengenal dunia baris-berbaris dari kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
Setelah lulus dari SDN Sidokare 2, ia melanjutkan pendidikan ke SMPN 2 Sidoarjo. Di sekolah inilah ketertarikannya terhadap Paskibra mulai tumbuh.
Ia bergabung dalam ekstrakurikuler Paskibra dan menjadi Penegak Disiplin Siswa. Dari kegiatan tersebut, Fiolin belajar bahwa Paskibra bukan sekadar tentang berdiri tegak, berjalan serempak, atau memberikan penghormatan.
Lebih dari itu, Paskibra mengajarkannya disiplin, tanggung jawab, ketertiban, kekompakan, dan bagaimana menghargai sebuah proses.
Kecintaan tersebut kemudian dibawanya ketika memasuki SMAN 2 Sidoarjo.
Sekali lagi, Fiolin memilih Paskibra.
Latihan demi latihan dijalaninya. Tidak jarang rasa lelah datang. Tetapi ia berusaha tidak menjadikan lelah sebagai alasan untuk menyerah.
Bagi Fiolin, latihan adalah tempat menempa diri.
Ia bahkan mengibaratkannya sebagai Kawah Candradimuka, tempat untuk menggembleng diri agar menjadi generasi muda yang tangguh, tanggon, trengginas, dan terampil.
Semangatnya semakin tumbuh ketika melihat kakak-kakak kelasnya berhasil menembus Paskibra Tingkat Kabupaten Sidoarjo.
“Ada tiga kakak kelas saya yang lolos menjadi anggota Paskibra Tingkat Kabupaten Sidoarjo. Ketika tiba waktunya angkatan saya, ada 15 orang yang mendaftar. Yang lolos hanya 10 orang, termasuk saya,” kenangnya.
Empat Hari yang Menentukan
Menjadi Paskibra Kabupaten Sidoarjo bukan perjalanan yang mudah.
Fiolin harus melewati serangkaian seleksi selama empat hari. Tes dimulai dari Tes Intelegensia Umum (TIU) dan Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) di Gedung Serba Guna Gelora Delta Sidoarjo.
Setelah itu, masih ada pemeriksaan kesehatan, Peraturan Baris Berbaris, pengukuran berat dan tinggi badan, kesamaptaan jasmani, hingga pantukhir atau penentuan akhir.
Satu demi satu tahapan dilewati.
Hingga akhirnya, Fiolin masuk dalam kandidat yang dipertimbangkan untuk mewakili Kabupaten Sidoarjo pada seleksi tingkat provinsi.
Dari dua pasangan putra-putri kandidat yang tersedia, akhirnya terpilih pasangan Devano Al Riski Sultan Winata dan Fiolin Kasih Pratama, keduanya siswa SMAN 2 Sidoarjo.
Tantangan berikutnya menunggu di depan mata.
Seleksi Paskibra Tingkat Provinsi Jawa Timur berlangsung di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Tahapannya kembali panjang. TIU, TWK, kesehatan, PBB, kesamaptaan hingga pantukhir harus dilewati.
Fiolin kembali berjuang.
Sampai akhirnya, kabar yang ditunggu datang.
Lolos.
Fiolin resmi menjadi anggota Paskibra Provinsi Jawa Timur 2026.
Ia kemudian menjadi bagian dari 76 anggota Paskibraka Jawa Timur yang bertugas dalam rangkaian upacara HUT ke-81 RI di Grahadi.
Ketika Jadwal Latihan Bertabrakan
Ada cerita lain di balik keberhasilan itu.
Fiolin harus pandai menghadapi padatnya aktivitas. Bahkan, pernah terjadi benturan jadwal latihan antara Paskibra di SMAN 2 Sidoarjo dan latihan Paskibra tingkat kabupaten.
Ia dihadapkan pada pilihan.
Dan Fiolin memilih latihan tingkat kabupaten.
Bukan karena menganggap latihan di sekolah tidak penting, tetapi karena ia memandang tugas tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab kepada pemerintah dan negara.
“Maaf, saya masih harus banyak belajar untuk bisa memanage waktu. Namun yang jelas dan saya yakin, kuncinya adalah kesungguhan dan totalitas 100 persen pada saat berlatih,” katanya.
Kalimat itu sederhana.
Tetapi justru di situlah karakter Fiolin terlihat.
Ia tidak mengaku sudah sempurna dalam mengatur waktu. Ia tidak mengatakan dirinya paling hebat. Ia hanya percaya bahwa ketika sudah memilih sesuatu, maka harus dijalani dengan sungguh-sungguh.
Totalitas.
Doa Seorang Ibu
Di balik langkah tegap Fiolin, ada sepasang orang tua yang juga menjalani perjalanan emosionalnya sendiri.
![]() |
| Fiolin bersama kedua orang tuanya setelah menyelesaikan tugas sebagai pasukan Paskibraka di Grahadi |
Nur Cholis dan Nur Suci tidak pernah menyangka putrinya akhirnya terpilih menjadi Paskibra Provinsi Jawa Timur.
“Alhamdulillah, saya sebagai orang tua sangat bangga dan terharu. Tidak menyangka anak kami terpilih sebagai Paskibra Provinsi,” ujar Nur Cholis.
Ia berharap pengalaman tersebut tidak berhenti sebagai sebuah prestasi, tetapi menjadi pelajaran hidup yang akan membentuk mental putrinya di masa depan.
Bagi Nur Suci, perjalanan itu bahkan lebih menguras perasaan.
Sebagai ibu, ia sempat tidak setuju ketika Fiolin hendak mengikuti Paskibra. Bukan karena tidak mendukung cita-cita putrinya, tetapi karena khawatir melihat jadwal latihan yang begitu padat dan ketat.
Fiolin harus berangkat pagi, pulang sore, bahkan terkadang malam. Kondisi itu berlangsung selama berbulan-bulan.
Namun pada akhirnya, sang ibu memberikan restu.
Dan doa menjadi kekuatan yang terus menyertai langkah putrinya.
“Saya sebagai orang tua tentunya tidak henti untuk ibadah, sujud dan berdoa kepada Allah SWT,” ungkap Nur Suci.
Kini, setelah melihat sendiri putrinya berdiri tegap di Grahadi dan menjalankan tugas mengibarkan Merah Putih, rasa khawatir itu perlahan berganti menjadi kebanggaan.
Dari Grahadi Menuju Cita-Cita
Fiolin tidak ingin perjalanan Paskibra berhenti di Gedung Grahadi.
Ia masih memiliki cita-cita lain yang ingin diwujudkan.
Dengan postur atletis dan kegemarannya berolahraga, gadis kelahiran Sidoarjo, 8 Juli 2009, itu bercita-cita menjadi Kowal (Korps Wanita Angkatan Laut).
Bahkan sang ibu berharap suatu hari putrinya dapat diterima di Akademi Angkatan Laut (AAL) sebagai taruni dan kemudian mengabdi sebagai perwira TNI AL.
Sebuah cita-cita yang tentu membutuhkan perjuangan baru.
Tetapi Fiolin tampaknya sudah memiliki bekal penting untuk menempuh perjalanan itu: keberanian untuk mencoba, kemauan untuk berlatih, disiplin, serta kesediaan untuk menjalani proses.
Motto hidupnya pun menggambarkan tekad tersebut:
“Sekali atau Tidak Sama Sekali.”
Kepada generasi muda Indonesia yang hidup di tengah derasnya perkembangan era digital, Fiolin berpesan agar tidak takut mencoba sesuatu yang baru.
“Jangan pernah takut untuk mencoba hal yang baru. Anggap sebagai perjalanan pertama. Ambil hikmahnya sebagai pengalaman dan pelajaran hidup,” pesannya.
Mungkin, itulah yang sebenarnya terjadi dalam perjalanan Fiolin.
Sebuah keberanian untuk mencoba membawanya dari halaman sekolah menuju panggung yang lebih besar.
Dari latihan Paskibra di sekolah, menuju seleksi tingkat kabupaten.
Dari kabupaten, menuju tingkat provinsi.
Dan akhirnya, pada 17 Agustus 2026, langkah tegapnya membawanya ke halaman Gedung Negara Grahadi.
Di sana, di hadapan Gubernur Jawa Timur dan ribuan pasang mata, ia tidak lagi menjadi gadis yang hanya menyaksikan upacara dari layar televisi.
Ia menjadi bagian dari sejarah kecil dalam hidupnya sendiri.
Fiolin berdiri tegap. Merah Putih berkibar. Dan sebuah mimpi yang dulu hanya terlihat dari layar televisi, akhirnya benar-benar menjadi kenyataan.
Fiolin merupakan generus (generasi penerus) LDII Kabupaten Sidoarjo. Ia selama ini juga aktif mengikuti kegiatan mengaji di Masjid Kapasan, yang berada di bawah naungan PAC LDII Sidokare.
Penulis : Koesmoko
Editor : Yusuf Em.

