LUGAS | BITUNG — Ada catatan berbeda dalam peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Bitung tahun ini. Untuk pertama kalinya, komando upacara dipercayakan kepada seorang polisi wanita (Polwan). AKP Dwi Dea Anggraini, S.Tr.K., S.I.K., M.H., Kasat Lantas Polres Bitung, berdiri sebagai Komandan Upacara pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Senin, 17 Agustus 2026.
Penunjukan Dwi Dea menjadi Komandan Upacara bukan sekadar pergantian figur di barisan komando. Momentum itu menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan pelaksanaan upacara kenegaraan di Kota Bitung. Seorang perwira Polwan lulusan Akademi Kepolisian dipercaya memegang kendali komando pada salah satu seremoni paling sakral dalam kalender kenegaraan: memperingati detik-detik Proklamasi 17 Agustus.
Dwi Dea merupakan kelahiran Lubuk Linggau, 10 November 1995, dan abiturien Akademi Kepolisian tahun 2017. Setelah menempuh pendidikan kepolisian, ia menjalankan sejumlah penugasan hingga dipercaya mengemban jabatan sebagai Kasat Lantas Polres Bitung. Di luar tugas seremonial, posisi tersebut menuntut kepemimpinan, ketegasan dan kemampuan mengendalikan personel serta memastikan pelayanan lalu lintas berjalan di tengah aktivitas masyarakat.
Di lapangan upacara, kapasitas tersebut diterjemahkan dalam bentuk komando yang tegas dan terukur. Dengan suara komando yang mengendalikan setiap tahapan upacara, Dwi Dea memimpin pasukan mengikuti rangkaian penghormatan detik-detik Proklamasi di hadapan Inspektur Upacara, Wali Kota Bitung Hengky Honandar, S.E.
Kehadiran seorang Polwan sebagai Komandan Upacara juga memperlihatkan ruang kepemimpinan perempuan di institusi kepolisian yang terus berkembang. Dwi Dea tidak hanya tampil sebagai representasi Polwan, tetapi juga sebagai perwira yang dipercaya memegang salah satu posisi penting dalam struktur pelaksanaan upacara HUT Kemerdekaan RI di tingkat daerah.
Upacara tersebut melibatkan kekuatan lintas institusi. Pasukan terdiri atas unsur Kodim 1310 Bitung, Satuan Pertahanan Pantai Kodaeral VIII Bitung, Satuan Kapal Patroli Kodaeral VIII Bitung, Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 916/Bara Sakti, Polres Bitung, Polairud, Dinas Perhubungan, CPNS Kota Bitung, Politeknik Kelautan dan Perikanan Bitung, STIE Petra Bitung, serta pelajar SMA Negeri 2 Bitung.
Di tengah barisan tersebut, komando seorang Polwan menjadi simbol lain dari semangat regenerasi kepemimpinan. Terlebih, Dwi Dea merupakan lulusan Akpol yang kemudian dipercaya memimpin satuan lalu lintas di Polres Bitung. Penugasan sebagai Komandan Upacara mempertemukan dua sisi pengabdiannya: kepemimpinan operasional sebagai Kasat Lantas dan tanggung jawab kenegaraan dalam upacara peringatan kemerdekaan.
Momentum itu semakin kuat dengan penampilan Paskibraka Kota Bitung yang membentuk formasi angka “81”. Formasi tersebut menggambarkan usia kemerdekaan Indonesia sekaligus pesan tentang keberlanjutan estafet perjuangan kepada generasi muda.
Bagi Dwi Dea, berdiri di depan pasukan pada 17 Agustus 2026 bukan sekadar menjalankan tugas protokoler. Ia menjadi bagian dari sebuah catatan baru dalam sejarah upacara kemerdekaan di Kota Bitung—ketika seorang Polwan lulusan Akpol dipercaya memimpin komando pada detik-detik Proklamasi.
Kepercayaan tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa kepemimpinan tidak semata ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh kapasitas, disiplin dan kemampuan menjalankan amanah. Dari lapangan upacara Kota Bitung, seorang Polwan mengambil posisi di garis depan komando, memimpin pasukan dalam penghormatan terhadap perjuangan para pendiri bangsa dan perjalanan 81 tahun Republik Indonesia.
