LUGAS | TANJAB BARAT — Tidak semua rumah di pelosok desa memiliki bendera merah putih untuk menyambut 17 Agustus.
Bagi sebagian keluarga, membeli bendera mungkin bukan kebutuhan yang mudah dipenuhi. Di tempat lain, fasilitas umum masih tampak tanpa satu pun tanda bahwa hari kemerdekaan segera tiba.
Di Desa Delima, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, kondisi itu menjadi perhatian Senkom Mitra Polri.
Kamis (13/8/2026), beberapa hari menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, personel Senkom turun langsung menyusuri jalan-jalan desa. Mereka membawa bendera merah putih dan umbul-umbul untuk dibagikan kepada warga yang belum memasangnya.
Sasarannya sederhana: rumah warga yang membutuhkan dan fasilitas umum yang belum memiliki bendera.
Bukan sekadar membagikan kain berwarna merah dan putih. Bagi Senkom, bendera adalah simbol yang seharusnya hadir di ruang-ruang kehidupan masyarakat setiap kali bangsa ini memperingati kemerdekaannya.
Ketua Senkom Mitra Polri Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Walidi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menumbuhkan semangat bela negara dari lingkungan paling dekat dengan masyarakat.
“Kami ingin memastikan setiap warga negara dan fasilitas umum, khususnya di Desa Delima, bisa terpasang bendera merah putih sebagai wujud syukur dan penghormatan kepada para pejuang kemerdekaan,” kata Walidi.
Personel Senkom tidak menunggu warga datang.
Mereka yang datang ke rumah-rumah warga.
Dari satu jalan ke jalan lain, bendera dan umbul-umbul diserahkan secara langsung kepada mereka yang belum memasang atribut kemerdekaan.
Bagi Kalimin, warga RT 06 Blok B, pemberian itu mungkin sederhana. Tetapi maknanya tidak kecil.
“Terima kasih kepada Senkom yang sudah peduli dengan kami. Bendera ini sangat berarti untuk menyemarakkan HUT RI di lingkungan kami,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Mang Atok, pengurus musala di RT 02. Bendera yang diterimanya akan dipasang di lingkungan musala.
“Kami sangat terbantu dengan pemberian bendera ini. Semoga semangat kemerdekaan terus berkobar di hati kita semua,” katanya.
Perlahan, suasana Desa Delima pun berubah.
Merah putih mulai terlihat di sejumlah rumah dan fasilitas umum. Umbul-umbul menghiasi sudut-sudut jalan. Desa yang sehari-hari berjalan dengan aktivitas rutinnya mulai mendapatkan suasana berbeda menjelang 17 Agustus.
Di situlah makna kegiatan seperti ini menjadi lebih besar daripada sekadar pembagian bendera.
Kemerdekaan memang diperingati setiap tahun. Tetapi cara masyarakat memaknainya bisa berbeda-beda.
Ada yang mengikuti upacara. Ada yang menggelar perlombaan. Ada pula yang cukup memasang merah putih di depan rumah.
Senkom memilih mendatangi mereka yang belum mampu melakukannya sendiri.
Sebuah langkah kecil dari jalan-jalan Desa Delima.
Namun dari sana, pesan tentang kemerdekaan kembali menemukan tempatnya: di rumah warga, di musala, di jalan desa, dan di tengah kehidupan masyarakat.
Sebab merah putih bukan hanya hiasan menjelang 17 Agustus.
Ia adalah pengingat bahwa kemerdekaan pernah diperjuangkan dengan pengorbanan yang jauh lebih mahal.
Dan setiap tahun, ketika bendera itu kembali berkibar, generasi hari ini seolah mendapat kesempatan untuk mengatakan: perjuangan itu tidak dilupakan.
LAPORAN: Abdullah Muslih
EDITOR: Mahar Prastowo
