LUGAS | BITUNG — Bunyi rebana menggema dari Mushala Asyifa Wangurer, Kelurahan Wangurer, Kecamatan Girian, Kota Bitung, Minggu, 30 Agustus 2026. Lantunan selawat menyusul, mengiringi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah yang bertepatan dengan 12 Rabiul Awal.
Bagi jamaah di Mushala Asyifa, peringatan Maulid bukan sekadar agenda keagamaan. Momentum tersebut juga menjadi ruang untuk menjaga tradisi masyarakat Kepulauan Sangihe, salah satunya “turunan”.
Dalam kultur masyarakat Sangihe, turunan merupakan tradisi memainkan rebana yang diiringi lantunan selawat dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Secara bentuk, tradisi tersebut memiliki kemiripan dengan kesenian hadrah.
Tradisi itu masih dipertahankan oleh komunitas masyarakat Sangihe yang bermukim di Wangurer. Rebana dan selawat biasanya hadir dalam berbagai kegiatan keagamaan, terutama ketika masyarakat memperingati hari-hari besar Islam.
Rangkaian Maulid di Mushala Asyifa Wangurer diawali dengan pembacaan asmaul Nabi dan puji-pujian kepada Rasulullah SAW. Lantunan “Ya Nabi Salam Alaika, Ya Rasul Salam Alaika, Ya Habib Salam Alaika, Salawatullah Alaika” mengalun bersama tabuhan rebana.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pengguntingan rambut terhadap sejumlah anak kecil dan bayi. Setelah itu, kelompok turunan kembali memainkan rebana sembari melantunkan selawat dan pembacaan Diba’.
Tradisi tersebut menjadi semakin bermakna karena di dalam komunitas yang mengikuti kegiatan itu terdapat masyarakat Muslim Sangihe dan warga yang telah menjadi mualaf.
Maulid sebagai Ruang Berbagi
Imam Mushala Asyifa Wangurer, Ustaz Junaidy Makasaehe, turut mendampingi pelaksanaan rangkaian kegiatan Maulid yang berlangsung dalam suasana sederhana dan penuh kebersamaan.
Dalam ceramahnya, Ustaz Abdul Latif Tahir, S.Pd., M.Pd., menyoroti kesederhanaan sekaligus kebahagiaan jamaah dalam memperingati Maulid Nabi.
Ia mengatakan masyarakat Muslim keturunan Sangihe dan mereka yang telah menjadi mualaf datang membawa makanan seadanya untuk dinikmati dan dibagikan bersama.
“Dalam kegiatan hari ini, masyarakat Muslim keturunan Sangihe dan yang sudah menjadi mualaf membawa makanan seadanya. Tapi di situlah kebahagiaan kita,” kata Ustaz Latif.
Menurut dia, kebersamaan dalam kegiatan sederhana seperti Maulid justru menjadi pengingat terhadap sosok Rasulullah Muhammad SAW.
Ia berharap jamaah tidak melupakan Rasulullah SAW meskipun kegiatan yang dilakukan berlangsung sederhana.
“Saya yakin, pada suatu saat orang lain akan mengingat kegiatan sederhana seperti ini. Kita berkumpul untuk salat dan tidak lupa kepada Rasulullah Muhammad SAW,” ujarnya.
Ustaz Latif juga mengingatkan kedudukan Nabi Muhammad SAW dalam ajaran Islam. Menurut dia, Rasulullah SAW diutus bukan hanya untuk kelompok atau kaum tertentu, melainkan membawa risalah bagi seluruh umat manusia.
“Karena Rasulullah Muhammad SAW, Allah menciptakan alam raya, menciptakan seluruh makhluk dan melalui beliau agama Islam ini disampaikan. Setiap nabi diutus untuk kaumnya, kecuali Rasulullah Muhammad SAW yang diutus untuk seluruh umat manusia,” katanya.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam perayaan Maulid di Mushala Asyifa Wangurer. Kebersamaan jamaah tidak hanya dibangun melalui makanan yang dibawa dari rumah, tetapi juga melalui selawat, doa dan pengingat terhadap keteladanan Rasulullah SAW.
Rebana sebagai Penanda Identitas
Di sisi lain, keberadaan tradisi turunan memperlihatkan bahwa kehidupan keagamaan masyarakat Sangihe di Wangurer tidak terlepas dari akar budayanya.
Rebana menjadi instrumen sederhana, tetapi memiliki fungsi yang lebih luas. Ia mengiringi selawat, menyatukan suara jamaah dan menjadi sarana pewarisan tradisi kepada generasi muda.
Karena itu, perayaan Maulid Nabi di Mushala Asyifa Wangurer mempertemukan dua hal yang berjalan beriringan: penguatan nilai keagamaan dan pelestarian kebudayaan.
Di Wangurer, tradisi turunan tidak diletakkan sebagai sekadar pertunjukan. Ia tetap dimainkan dalam kehidupan masyarakat, terutama ketika umat Islam berkumpul memperingati hari-hari besar keagamaan.
Tabuhan rebana dan lantunan selawat itu pada akhirnya menjadi penanda bahwa identitas budaya Sangihe masih dirawat.
Bukan lewat seremoni besar, melainkan melalui kegiatan sederhana yang terus diulang dan diwariskan.
Harapan dari Mushala Asyifa Wangurer
Di balik kesederhanaan perayaan Maulid, komunitas Muslim di Wangurer juga menyimpan sejumlah harapan untuk keberlanjutan kehidupan keagamaan mereka.
Ardi Manuel, bersama Sartika Manuel selaku Ketua/Koordinator Muallaf Keturunan Sangihe Filipin, menyampaikan harapan agar ada perhatian dari para dermawan maupun pihak-pihak yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan Mushala Asyifa Wangurer.
Mereka berharap ada tangan-tangan orang baik yang dapat membantu membangun dan memperbaiki Mushala Asyifa agar lebih layak digunakan masyarakat.
“Kami berharap ada tangan-tangan orang baik atau para dermawan yang bisa membantu membangun mushala kami ini. Karena di wilayah ini ada beberapa tempat ibadah, selain mushala kami,” ujar Sartika.
Menurutnya, keberadaan Mushala Asyifa Wangurer memiliki arti penting bagi masyarakat Muslim yang bermukim di kawasan tersebut. Mushala bukan hanya tempat melaksanakan salat, tetapi juga menjadi ruang berkumpul dan menjalankan berbagai kegiatan keagamaan.
Selain dukungan masyarakat dan para dermawan, mereka juga berharap adanya perhatian dari pemerintah, khususnya Kementerian Agama Kota Bitung.
Salah satu harapan yang disampaikan adalah agar Kementerian Agama Kota Bitung dapat membantu proses administrasi dan pendaftaran nama Mushala Asyifa Wangurer, sehingga keberadaan tempat ibadah tersebut memiliki pencatatan dan legalitas yang lebih jelas.
“Harapan kami, Kementerian Agama Kota Bitung bisa membantu dalam mendaftarkan nama mushala kami ini,” kata Sartika.
Harapan tersebut menjadi bagian lain dari cerita Maulid Nabi di Wangurer. Di satu sisi, masyarakat berusaha mempertahankan tradisi turunan sebagai warisan budaya Sangihe. Di sisi lain, mereka berupaya memastikan tempat ibadah yang menjadi pusat kegiatan komunitas dapat terus bertahan dan berkembang.
Di Mushala Asyifa Wangurer, tabuhan rebana kembali terdengar pada 12 Rabiul Awal.
Selawat dilantunkan. Makanan sederhana dibagikan. Anak-anak mengikuti prosesi pengguntingan rambut.
Dan di tengah kesederhanaan itu, sebuah komunitas terus merawat dua hal sekaligus: keyakinan dan identitas budaya.
