LUGAS | BITUNG — Bertambahnya kebutuhan prajurit TNI Angkatan Darat seiring rencana pembentukan sejumlah Batalyon Teritorial Pembangunan (YonTP) tak boleh menjadi ladang bagi praktik percaloan. Pangdam XIII/Merdeka Mayjen TNI Mirza Agus, S.IP. menegaskan, penerimaan prajurit TNI AD tidak dipungut biaya alias gratis.
Penegasan itu disampaikan Mirza Agus seusai memimpin pelantikan dan pengambilan sumpah 326 Tamtama Remaja di lingkungan Rindam XIII/Merdeka, Rabu (9/9/2026). Mereka merupakan bagian dari 19.114 mantan siswa Pendidikan Pertama Tamtama (Dikmata) TNI AD Gelombang II Tahun Anggaran 2026 yang secara nasional resmi dilantik menjadi prajurit TNI AD berpangkat Prajurit Dua (Prada).
“Jangan sekali-kali masyarakat percaya kalau masuk tentara itu membayar. Jangan percaya. Semuanya gratis. Kalau ada anggota saya ataupun staf saya ataupun yang lain bermain masalah uang, saya proses sesuai hukum yang berlaku,” tegas Mirza.
Menurut dia, seluruh biaya penyelenggaraan pendidikan prajurit telah disiapkan negara. Karena itu, masyarakat yang diminta membayar dengan alasan menjamin kelulusan patut mencurigai adanya praktik penipuan atau percaloan.
“Kalau sudah membayar, itu Bapak-Ibu dibohongi. Uang Bapak-Ibu hilang, bukan untuk dipakai membayar kepada pemerintah ataupun kepada kami. Tidak ada, gratis. Semuanya sudah disiapkan oleh negara untuk biaya kami mengadakan pendidikan ini,” ujarnya.
Mirza mengatakan peringatan tersebut bukan sekadar imbauan. Ia mengungkapkan, sudah ada personel yang diproses secara hukum karena persoalan uang dalam proses penerimaan prajurit.
“Saya tidak main-main. Sudah ada dua anggota saya yang diproses sesuai hukum yang berlaku. Kita buat prajurit-prajurit yang militan, yang tangguh tanpa harus membayar dan sebagainya,” katanya.
326 Prajurit Tamtama Remaja
Pelantikan 326 Tamtama Remaja di Rindam XIII/Merdeka sekaligus menandai berakhirnya pendidikan sekitar delapan minggu. Selama menjalani pendidikan, para mantan siswa dibekali pengetahuan dan keterampilan dasar keprajuritan sebagai fondasi awal sebelum melanjutkan pengabdian di satuan masing-masing.
Dalam amanat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) yang dibacakan pada upacara tersebut, keberhasilan menyelesaikan pendidikan disebut sebagai hasil dari kesungguhan, disiplin dan kerja keras para prajurit, yang tidak terlepas dari dukungan lembaga pendidikan serta doa orang tua.
“Atas nama pribadi dan selaku Kepala Staf Angkatan Darat, saya mengucapkan selamat kepada 19.114 orang mantan siswa yang hari ini telah menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan dan secara resmi dilantik menjadi prajurit TNI Angkatan Darat berpangkat Prajurit Dua atau Prada,” demikian amanat KSAD.
Status sebagai prajurit baru sekaligus menjadi awal perjalanan pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara. Mereka dituntut menjaga kehormatan diri, nama baik satuan serta terus meningkatkan kemampuan setelah meninggalkan lembaga pendidikan.
Kebutuhan Prajurit Meningkat
Pelantikan ribuan prajurit tersebut berlangsung di tengah rencana penguatan organisasi TNI AD, termasuk pembentukan Batalyon Teritorial Pembangunan di sejumlah wilayah.
Mirza mengatakan kebutuhan prajurit pada tahun mendatang berpotensi meningkat cukup signifikan.
“Tahun depan itu jumlah prajurit yang akan diambil lebih banyak, karena pembentukan satuan batalyon teritorial pembangunan. Tahun ini ada empat satuan yang sudah terbentuk. Tahun depan itu bisa delapan, sepuluh, bahkan bisa 18 satuan,” ungkapnya.
Untuk wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara saja, kebutuhan personel disebut dapat mencapai sekitar 6.000 atau lebih prajurit yang akan menjalani pendidikan.
Kondisi tersebut membuka peluang lebih besar bagi putra-putri daerah yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti proses rekrutmen TNI AD.
“Mari sama-sama kita daftarkan. Saatnya membantu pemerintah, mengabdi kepada negara, selain dalam bentuk pertempuran juga tadi disiapkan untuk mempercepat visi pemerintah dalam pembangunan daerah,” ujar Mirza.
YonTP Tak Sekadar Pertempuran
Dalam amanat KSAD, pembentukan YonTP merupakan bagian dari pembangunan kekuatan TNI AD. Satuan tersebut tidak hanya diproyeksikan untuk menjalankan tugas pertahanan dan pertempuran, tetapi juga mendukung percepatan pembangunan yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat, khususnya di wilayah perbatasan dan daerah rawan.
“Kepercayaan yang diberikan negara kepada kalian untuk menjadi bagian dari pembentukan YonTP merupakan tugas terhormat yang harus dilaksanakan dengan penuh amanah dan tanggung jawab, disertai dedikasi yang tinggi,” demikian amanat KSAD.
Para prajurit baru juga diminta menjadikan pendidikan dasar yang telah dijalani sebagai modal awal untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan. Disiplin, kemampuan teknis serta taktik militer harus terus diasah agar mereka tumbuh menjadi prajurit profesional.
KSAD memberikan empat pesan kepada prajurit yang baru dilantik, yakni memanfaatkan setiap kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri, mengasah naluri militer serta menjaga disiplin, memberikan kemampuan terbaik bagi satuan, masyarakat dan negara, serta menjadikan setiap tantangan sebagai bagian dari pembentukan karakter dan ketangguhan mental.
Bagi Mirza Agus, meningkatnya kebutuhan prajurit tidak boleh membuka ruang bagi praktik percaloan. Justru ketika kesempatan rekrutmen semakin besar, proses seleksi harus semakin bersih dan transparan.
Sebab, pintu masuk menjadi prajurit TNI bukanlah uang atau jasa perantara. Yang menentukan adalah persyaratan, kemampuan dan hasil seleksi melalui mekanisme resmi.



