Aktif di Rantau, Warga IKM Solo Raya Ini Hadiri Acara Sarasehan Bersama Forkopimcam Pedan


PEDAN, KLATEN – Pemerintah Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten, menggelar Sarasehan Camat, Kapolsek, dan Danramil bersama ketua organisasi kemasyarakatan (ormas) serta kepala desa se-Kecamatan Pedan di Aula Kantor Kecamatan Pedan, Jumat (11/9/2026) malam. Kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat silaturahmi, komunikasi, dan sinergi lintas elemen masyarakat dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta kerukunan wilayah.

Acara dihadiri Camat Pedan Kliwon Yoso, S.I.P., M.Si., Kapolsek Pedan, AKP Nyoto, S.H,. M.H., Serma Sunarto mewakili Danramil 04/Pedan, Sekcam Pedan Sri Sumarsih, S.E., M.M., Kasi Trantib Tri Sukmana, S.E., para kepala desa se-Kecamatan Pedan, Wakil Ketua PC LDII Kecamatan Pedan, Sartono, Ketua PERSINAS ASAD Pedan, Ipda Agus Supriyanto, S.H., Relawan FORKOP, Relawan Independent, Wakil Ketua SENKOM MITRA POLRI Harjanto, serta tamu undangan lainnya dari unsur pimpinan lintas organisasi kemasyarakatan.


Dalam forum tersebut turut hadir Rizal Malin Kayo, anggota Ikatan Keluarga Minang (IKM) sekaligus Jurnalist Minang. Kehadirannya membawa semangat urang Minang di perantauan yang senantiasa menjunjung tinggi persaudaraan, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap masyarakat di tempat tinggalnya.

Rizal mengatakan, semangat tersebut selaras dengan filosofi Minangkabau, “Dima Bumi Dipijak, Di Situ Langik Dijunjuang”. Falsafah ini mengajarkan bahwa di mana pun urang Minang berada, mereka harus menghormati adat, budaya, aturan, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat setempat.


“Dima bumi dipijak, di situ langik dijunjuang. Di mana kita berada, di situ kita menghormati adat, budaya dan masyarakatnya. Sebagai urang Minang di rantau, kita harus mampu membaur, menjaga silaturahmi dan memberikan manfaat,” ujar Rizal.

Menurutnya, tradisi merantau tidak hanya berbicara tentang mencari penghidupan, tetapi juga membangun persaudaraan dan mengambil peran dalam kehidupan sosial. Karena itu, masyarakat Minang di mana pun berada diharapkan memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan serta aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.

“Kalau ada gotong royong, kegiatan sosial atau kepentingan masyarakat, kita ikut hadir. Merantau mengajarkan kita untuk menjadi bagian dari masyarakat, bukan hidup sendiri,” katanya.

Ia menilai sarasehan Kecamatan Pedan menjadi ruang yang tepat untuk mempertemukan berbagai unsur masyarakat. Perbedaan latar belakang organisasi maupun budaya justru dapat menjadi kekuatan apabila dibangun melalui komunikasi dan saling menghormati.

“Semangatnya adalah badunsanak. Berbeda organisasi bukan berarti berbeda tujuan. Kita tetap satu sebagai bagian dari masyarakat Pedan. Bersama-sama menjaga kerukunan, keamanan dan kondusivitas,” tuturnya.


Rizal mengapresiasi Pemerintah Kecamatan Pedan yang membuka ruang silaturahmi lintas organisasi tersebut. Menurutnya, sinergi pemerintah, TNI-Polri, pemerintah desa, ormas dan masyarakat merupakan modal penting dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.

“Adat tetap dijunjung, budaya tetap dihormati, dan masyarakat tempat kita berpijak harus kita hargai. Inilah makna Dima Bumi Dipijak, Di Situ Langik Dijunjuang. Urang Minang di rantau harus mampu menjadi saudara dan memberikan manfaat bagi sesama,” pungkasnya.(Rpm)

0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1