Bandung Barat Cari Buyer dan Investor dari Dubai, KADIN Siapkan Business Matching Internasional

 


LUGAS | BANDUNG BARAT — Kabupaten Bandung Barat tak ingin lagi hanya dikenal sebagai daerah tujuan wisata. Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Bandung Barat (KBB) mulai membidik pasar global dengan mempertemukan pelaku usaha lokal, tour operator, buyer, media, dan calon investor internasional.

Strategi itu dikemas melalui West Bandung International Tourism, Trade & Investment Forum 2026, yang dijadwalkan berlangsung pada 19–25 September 2026.

Forum yang diinisiasi Ketua KADIN KBB H. Syamsul Ma’arief tersebut menempatkan business matching sebagai instrumen utama. Targetnya bukan semata mendatangkan wisatawan, tetapi menciptakan transaksi, membuka pasar baru, mengembangkan paket wisata, memperluas akses UMKM, serta menarik investasi ke Bandung Barat.

“Kami ingin membawa Bandung Barat naik kelas. Potensi pariwisata tidak boleh berhenti pada kunjungan wisatawan. Di belakangnya harus tumbuh perdagangan, investasi, UMKM, ekonomi kreatif dan lapangan kerja bagi masyarakat,” kata Syamsul.


Membidik Dubai dan Pasar Gulf

Pasar Gulf, khususnya Dubai dan Uni Emirat Arab, menjadi salah satu sasaran pengembangan jejaring bisnis.

KADIN KBB bersama PHRI KBB telah melakukan penjajakan dengan sejumlah tour operator dan pelaku industri pariwisata internasional.

Melalui program famtrip yang difasilitasi bersama KJRI Dubai dan SriLankan Airlines, para calon mitra bisnis akan diajak melihat langsung produk wisata Bandung Barat.

Sejumlah tour operator yang direncanakan terlibat antara lain SATA, Musafir Travels, Sharaf Travels, Jamal Travels, ANTA, ITL Travels, dan Orient Travels. Turut direncanakan hadir perwakilan SriLankan Airlines Dubai Office dan Vista Maritime Travel Tourism LLC.

Sementara Gulf Times diharapkan memperluas eksposur potensi wisata dan peluang investasi Bandung Barat ke pasar kawasan Gulf.

Bagi KADIN KBB, kehadiran buyer internasional menjadi penting karena promosi destinasi baru memiliki nilai ekonomi apabila berujung pada penciptaan produk dan transaksi.


Bukan Sekadar Selling Destination

Konsep yang dibangun berbeda dengan promosi pariwisata konvensional.

Delegasi internasional tidak hanya menerima materi promosi, tetapi diajak mengalami langsung destinasi. Dari pengalaman tersebut, tour operator diharapkan dapat menilai kelayakan Bandung Barat sebagai bagian dari produk perjalanan mereka.

Destinasi yang diproyeksikan masuk dalam famtrip antara lain Tangkuban Parahu, Orchid Forest Cikole, Sanghyang Heuleut, Curug Cimahi, Stone Garden, Goa Pawon, Waduk Saguling, dan Situ Ciburuy.

Untuk wisata keluarga, terdapat Dusun Bambu, Floating Market, Farmhouse, The Great Asia Africa, serta Lembang Park & Zoo.

Potensi agrowisata, perkebunan kopi dan teh, peternakan sapi perah, seni budaya Sunda, hingga kuliner tradisional juga menjadi bagian dari pengalaman delegasi.

Dengan demikian, rantai bisnis yang dibangun tidak berhenti pada kunjungan.

Famtrip → evaluasi produk → business matching → paket wisata → wisatawan internasional → investasi dan kemitraan jangka panjang.


UMKM Ikut Masuk Rantai Nilai

KADIN KBB juga ingin memastikan manfaat pembukaan pasar global tidak berhenti pada hotel, restoran atau pengelola destinasi.

UMKM dan ekonomi kreatif diposisikan sebagai bagian dari rantai pasok pariwisata.

Melalui agenda UMKM Expo, produk lokal diharapkan memperoleh kesempatan bertemu dengan calon pembeli dan mitra internasional.

Model ini membuka peluang agar wisatawan tidak hanya menghabiskan uang untuk tiket dan akomodasi, tetapi juga membeli produk lokal, menikmati kuliner, menggunakan jasa transportasi, mengikuti aktivitas wisata, serta membawa pulang produk ekonomi kreatif Bandung Barat.

Di sinilah sektor pariwisata diharapkan berfungsi sebagai mesin penggerak ekonomi daerah.


KADIN dan PHRI Bangun Ekosistem

Ketua PHRI Kabupaten Bandung Barat Eko Grafika Cikole mengatakan, industri hospitality perlu menjadi bagian penting dari strategi internasionalisasi pariwisata.

Kolaborasi KADIN dan PHRI diarahkan untuk memperkuat ekosistem yang menghubungkan destinasi, hotel, restoran, transportasi, travel agent, UMKM, dan ekonomi kreatif.

Bila konektivitas tersebut berjalan, peningkatan kunjungan wisatawan dapat memberikan efek berantai terhadap berbagai sektor usaha.


Dari Forum ke Investasi

Selain pariwisata, forum ini juga membawa agenda Investment Forum.

KADIN KBB akan memperkenalkan peluang investasi potensial di Bandung Barat kepada calon mitra internasional.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena pertumbuhan industri pariwisata membutuhkan investasi pada berbagai sektor, mulai dari akomodasi, atraksi wisata, restoran, transportasi, kawasan rekreasi hingga infrastruktur pendukung.

Dengan mempertemukan investor dan pemilik proyek sejak awal, forum diharapkan dapat membuka pembicaraan bisnis yang lebih konkret.


Pemerintah Membuka Jalan, Dunia Usaha Menggerakkan

Forum ini melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, antara lain Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, KJRI Republik Indonesia di Dubai, SriLankan Airlines, KADIN Indonesia, PHRI KBB, Gulf Times, serta international tour operators dan travel agencies dari Dubai/UAE.

KADIN KBB memosisikan kolaborasi tersebut sebagai rantai konektivitas:
Pemerintah → Dunia Usaha → International Tour Operator → Investor & Buyer → West Bandung.

Peran pemerintah diharapkan membuka akses dan menciptakan iklim yang mendukung. Sementara dunia usaha menjadi penggerak yang mengubah akses tersebut menjadi produk, transaksi, investasi, dan lapangan kerja.


West Bandung Goes Global

Syamsul menegaskan, target forum ini bukan sekadar membuat Bandung Barat lebih dikenal.

“Ini bukan hanya tentang mendatangkan wisatawan ke Bandung Barat. Kita ingin mendatangkan juga investor, buyer, business partner dan jaringan internasional ke Bandung Barat,” ujarnya.

Karena itu, keberhasilan forum nantinya tidak cukup diukur dari jumlah delegasi yang hadir atau banyaknya pemberitaan.

Ukuran yang lebih penting adalah berapa kerja sama yang lahir, berapa paket wisata yang berhasil dibuat, berapa UMKM yang memperoleh akses pasar, dan berapa investasi yang dapat ditindaklanjuti.

Dengan pendekatan tersebut, West Bandung International Tourism, Trade & Investment Forum 2026 diarahkan menjadi lebih dari sekadar agenda promosi.

Forum ini menjadi upaya membawa produk lokal Bandung Barat masuk ke meja bisnis internasional—dengan Dubai dan kawasan Gulf sebagai salah satu pintu masuknya.


Laporan: Muhammad Ramlan | Editor: Mahar Prastowo


0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1