LUGAS | TALIABU, MALUKU UTARA — Lima jam di atas speedboat bukan waktu yang sebentar, terlebih bagi seorang ibu yang sedang menunggu pertolongan untuk melahirkan.
Kondisi seperti itu pernah dihadapi warga Pulau Taliabu. Jika persalinan membutuhkan penanganan yang tidak tersedia di daerah, pasien harus dirujuk ke Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Perjalanan laut menjadi pilihan. Selain waktu tempuh, keluarga harus menyiapkan biaya sewa speedboat dan menghadapi kondisi gelombang.
Persoalan itu sudah lama diketahui Dianita Widya Gandhi.
Dian, begitu ia biasa disapa, datang ke Taliabu pada 2009, menyusul suaminya, dr. Alit Darma Asmara, yang lebih dahulu bertugas di wilayah kepulauan tersebut sejak 2007.
Saat itu Dian belum memiliki klinik. Ia bekerja sebagai bidan relawan tanpa menerima gaji. Dua tahun kemudian, ia diangkat menjadi PNS. Pendidikan terus dilanjutkan hingga ia meraih gelar doktor.
"Saya sampai di titik ini tidak mudah seperti bayangan banyak orang. Betul-betul dengan perjuangan, mulai dari nol, saat menjadi bidan relawan yang tidak menerima gaji hingga menjadi PNS pada 2009. Sekarang sudah S3," kata Dian.
Ia terdiam sejenak ketika menceritakan masa itu. Matanya berkaca-kaca.
Suaminya, Alit, datang lebih dulu ke wilayah tersebut. Dokter asal Bali itu berangkat pada 2007 sebagai dokter PTT ke Kabupaten Kepulauan Sula. Kala itu, Pulau Taliabu masih menjadi bagian dari kabupaten induk.
Alit pertama kali ditempatkan di Desa Kabau, Kecamatan Sulabesi Barat. Sekitar setahun kemudian ia ditarik ke Sanana. Pada 2009, ia diangkat menjadi dokter PNS dan mendapat penugasan di Pulau Taliabu.
Ia pernah memimpin puskesmas pembantu di Desa Gela, Kecamatan Taliabu Utara, kemudian dipindahkan ke Loseng, Kecamatan Taliabu Timur Selatan.
Setelah Pulau Taliabu menjadi kabupaten sendiri pada 2013, Alit kemudian bertugas di Bobong dan dipercaya menjadi Direktur RSUD pertama Pulau Taliabu yang berada di Desa Ratahaya.
"Saya di Pulau Taliabu ini bukan orang baru yang datang ujug-ujug menjadi seperti yang sekarang. Saya sudah banyak makan asam garam kehidupan di Pulau Taliabu," ujar Alit.
Kalimat itu muncul dari seseorang yang sudah belasan tahun berpindah tempat tugas di wilayah tersebut.
Klinik Ganesa
Dian kemudian mendirikan Klinik Ganesa di Jalan Talo, Desa Wayo, Kecamatan Taliabu Barat. Masyarakat lebih mengenalnya sebagai Klinik Ibu Dian. Klinik itu disebut sebagai klinik bersalin swasta pertama di Kabupaten Pulau Taliabu.
Keputusan mendirikan klinik tidak lepas dari persoalan yang ia temui selama menjadi bidan.
Dalam kondisi tertentu, ibu yang membutuhkan pelayanan lebih lanjut harus dibawa keluar daerah. Luwuk menjadi salah satu tujuan rujukan. Perjalanan bisa lebih dari lima jam menggunakan speedboat.
"Bagi ibu-ibu yang mau melahirkan tidak harus lagi ke Luwuk Banggai. Bisa langsung dibawa ke Klinik Ganesa," kata Dian.
Klinik tersebut juga menjadi tempat Dian membangun tim. Ia mendorong tenaga kesehatan yang bekerja di sana untuk meningkatkan pendidikan. Mereka yang sebelumnya lulusan D3 diarahkan melanjutkan ke jenjang S1.
Di sisi lain, Alit melanjutkan pendidikan di bidang obstetri dan ginekologi. Pada 25-26 Oktober 2024, ia dinyatakan lulus 100 persen dalam Ujian Kompetensi Nasional Kolegium Obstetri dan Ginekologi Indonesia di Universitas Udayana/RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah.
Kini, Klinik Ganesa menjadi bagian dari layanan kesehatan di Taliabu.
Bagi Dian, keberadaan klinik itu berangkat dari sesuatu yang ia lihat sendiri selama bertahun-tahun: seorang ibu yang membutuhkan pertolongan tidak selalu memiliki kemewahan untuk menunggu.
Kadang, yang dibutuhkan adalah tempat pertolongan yang lebih dekat.
Dan di wilayah kepulauan seperti Taliabu, dekat bukan sekadar soal jarak. Ia bisa berarti waktu yang lebih singkat, biaya yang lebih ringan, serta kesempatan yang lebih besar bagi ibu dan bayi untuk mendapatkan penanganan tepat waktu.
Laporan Sumpono | Editor: Mahar Prastowo

