LUGAS | BITUNG — Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) bersama Bank Indonesia kembali menggelar Ekspedisi Rupiah Berdaulat Tahun 2026. Ekspedisi ini menjadi bagian dari upaya memastikan ketersediaan dan kelayakan uang Rupiah hingga ke wilayah terluar, terpencil, dan terdepan (3T).
Pelepasan ekspedisi dipimpin Komandan Kodaeral VIII Laksda TNI Dery Triesananto Suhendi, S.E., M.Tr.Opsla., dalam upacara di Dermaga Samuel Languyu, Satuan Kapal Patroli (Satrol) Kodaeral VIII, Manado, Jumat, 11 September 2026.
Upacara diawali sambutan perwakilan Bank Indonesia, Joko Supratikto. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penyematan atribut Satuan Tugas (Satgas) Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026 kepada personel yang akan menjalankan misi.
Penyematan atribut dilakukan secara berjenjang. Kepala Bank Indonesia menyematkan atribut kepada Komandan KRI Sidat-851, kemudian Dankodaeral VIII kepada Ketua Tim Satgas Bank Indonesia. Selanjutnya, Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Utara menyematkan atribut kepada anggota Satgas Bank Indonesia.
Ekspedisi Rupiah Berdaulat tidak sekadar mengangkut uang tunai. Program ini merupakan kerja bersama untuk menjaga keberadaan Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah sekaligus memastikan masyarakat di wilayah sasaran memperoleh uang dalam kondisi layak edar.
Bagi TNI AL, keterlibatan dalam ekspedisi ini merupakan bagian dari dukungan terhadap pelaksanaan tugas negara di wilayah kepulauan, terutama daerah yang secara geografis sulit dijangkau melalui jalur distribusi reguler.
Dankodaeral VIII Laksda TNI Dery Triesananto Suhendi menegaskan kesiapan TNI AL mendukung program tersebut melalui penyediaan unsur kapal dan personel.
“Dalam tahun ini kita menyiapkan dua kali program Rupiah Berdaulat. TNI Angkatan Laut selalu siap menyiapkan unsur atau KRI untuk mengantar Rupiah Berdaulat ke pulau-pulau 3T, yaitu terluar, terpencil dan terdepan,” ujar Dery.
Dukungan personel juga disiapkan untuk memastikan misi berjalan aman dan lancar. Selain personel TNI AL, unsur pendukung dari instansi terkait turut dilibatkan, termasuk untuk kebutuhan kesehatan dan pengamanan selama pelayaran.
“Personel TNI AL kita siapkan, termasuk dukungan personel tambahan untuk kesehatan dan keamanan. Semuanya menjadi bagian dari kesiapan Satgas selama melaksanakan ekspedisi,” katanya.
Dery mengatakan keberadaan unsur TNI AL di wilayah terluar menjadi salah satu modal penting dalam mendukung program pemerintah yang menjangkau masyarakat kepulauan.
“Di pulau-pulau terluar memang ada pangkalan dan satuan tugas pulau-pulau terluar dari TNI Angkatan Laut,” ujarnya.
Sinergi TNI AL dan Bank Indonesia dalam Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026 sekaligus memperlihatkan bahwa distribusi Rupiah ke wilayah 3T membutuhkan lebih dari sekadar sistem logistik. Faktor geografis, keamanan, ketersediaan transportasi laut, serta keberadaan aparat negara di pulau-pulau sasaran menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Melalui ekspedisi tersebut, Rupiah diupayakan tetap hadir hingga wilayah paling luar Indonesia. Negara tidak hanya memastikan uang beredar, tetapi juga memastikan masyarakat di wilayah kepulauan memiliki akses terhadap mata uang nasional dalam kondisi yang layak.
Turut hadir dalam upacara tersebut antara lain Wakil Komandan Kodaeral VIII, Kepala Bank Indonesia Sulawesi Utara, Ketua Tim Satgas Bank Indonesia Sulut, Kepala Biro Perekonomian Sekda Provinsi Sulawesi Utara, Ir Kodaeral VIII, Kapoksahli Kodaeral VIII, para Asisten Dankodaeral VIII, Dansathantai Kodaeral VIII, Dansatrol Kodaeral VIII, Kakuwil Kodaeral VIII, Kadiskes Kodaeral VIII, Kadister Kodaeral VIII, Pjs. Karumkital dr. Wahyu Slamet Bitung, Kaakun Kodaeral VIII, serta Kafasharkan Bitung.





