Dari Keluarga Sederhana hingga Kolonel, Kisah Andreas Suko Riyanto Mengajarkan Arti Perjuangan

 



LUGAS | MANADO — Pangkat Kolonel yang kini disandang Andreas Suko Riyanto, S.H., merupakan hasil dari perjalanan panjang lebih dari tiga dekade di TNI Angkatan Laut. Berasal dari keluarga sederhana di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Andreas pernah bercita-cita menjadi dokter. Keterbatasan biaya membuat cita-cita itu tak berlanjut. Ia kemudian memilih jalan pengabdian sebagai prajurit TNI AL.

Kini, Andreas dipercaya menjabat sebagai Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Kodaeral VIII. Di kalangan awak media di Manado, ia akrab disapa Bang Andre. Pribadinya dikenal murah senyum, mudah bergaul dan tidak berjarak ketika berkomunikasi.


Di balik sosok yang cair itu, tersimpan perjalanan karier yang panjang. Andreas menapaki jenjang pengabdian dari seorang Bintara hingga akhirnya mencapai pangkat Kolonel.

Andreas berasal dari Kediri dan merupakan alumni SMAN 3 Kediri, jurusan Biologi (A2), tahun 1992. Selepas SMA, ia sebenarnya ingin melanjutkan pendidikan ke Fakultas Kedokteran. Namun, kondisi ekonomi keluarga belum memungkinkan.

Awal 1993 menjadi titik balik dalam hidupnya. Tujuh orang teman mengajaknya mengikuti seleksi Calon Bintara (Caba) TNI AL. Andreas mencoba mengikuti seleksi tersebut. Dari kelompok yang ikut mendaftar, ia menjadi satu-satunya yang berhasil lolos.


Ia kemudian menjalani Pendidikan Dikcaba Milsuk XII/1 tahun 1993, yang diikuti sekitar 1.041 peserta.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Andreas mengawali pengabdian di KRI Siribua-859 Satrol Armabar sebagai Bintara Navigasi (Banagi).

Beberapa tahun kemudian, ia kembali mengambil kesempatan untuk meningkatkan kapasitas dan karier militernya. Pada 1998, Andreas mengikuti seleksi Calon Perwira Penerbang TNI AL. Ia lulus pendidikan dan kemudian menyandang pangkat Letnan Dua (Letda).

Kariernya sebagai perwira kemudian berkembang melalui berbagai penugasan. Saat berpangkat Letnan Kolonel, Andreas dipercaya menduduki sejumlah jabatan, di antaranya Pasops Satuan Udara Koarmada II, Komandan Puslat Penerbal, Wadan Kolat Penerbal, dan Pasops Satuan Udara Koarmada RI.

Perjalanan tersebut akhirnya membawanya ke Bumi Nyiur Melambai. Andreas kini dipercaya mengemban tugas sebagai Kadispen Kodaeral VIII.


Bagi Andreas, pencapaian pangkat Kolonel tidak datang dalam waktu singkat. Ada proses panjang yang harus dilalui, mulai dari pendidikan, penugasan, tanggung jawab hingga kepercayaan pimpinan.

Ia memegang teguh falsafah Jawa yang kerap diucapkannya, “Alon-alon waton kelakon.”

Pelan-pelan, yang penting sampai pada tujuan.

Militer di Pundak, Budaya di Hati

Di luar tugasnya sebagai prajurit, Andreas memiliki perhatian besar terhadap kebudayaan Nusantara, khususnya budaya Jawa.

Kecintaan tersebut diwujudkannya melalui berbagai aktivitas. Ia mendirikan Yayasan Panjalu Jayati Kadhiri di Kediri dan menjabat sebagai pendiri sekaligus pembina.


Andreas juga ikut mendirikan komunitas Wanita Bersanggul Indonesia (WBI) Cabang Kediri, aktif dalam dunia Tosan Aji Nusantara, serta menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan kebudayaan, termasuk kegiatan yang disiarkan melalui radio.

Ia juga aktif dalam dunia pencak silat. Andreas pernah dipercaya sebagai Ketua Komisariat di Juanda, Sidoarjo, serta Ketua Cabang di Kabupaten Kediri.

Kecintaan terhadap budaya tersebut tidak terlepas dari latar belakangnya sebagai putra Kediri. Kota yang memiliki jejak panjang sejarah Panjalu Kadhiri itu menjadi bagian dari identitas yang terus ia bawa dalam perjalanan hidupnya.


Setelah purna tugas dari TNI AL kelak, Andreas menyimpan keinginan untuk kembali ke kampung halaman. Ia ingin ikut membangun Kediri melalui jalur budaya dan pariwisata.

Pangkat sebagai Amanah

Atas kenaikan pangkat menjadi Kolonel, Andreas menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan serta terima kasih kepada pimpinan TNI AL atas kepercayaan yang diberikan.

> “Syukur yang sebesar-besarnya kepada Tuhan atas berkat kenaikan pangkat menjadi Kolonel dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada dinas atau pimpinan TNI AL atas kepercayaan dan anugerah pangkat Kolonel. Semoga bisa amanah dan ke depan bisa mengemban tugas semakin baik lagi yang bermanfaat bagi bangsa, negara serta masyarakat.”



Andreas juga menyampaikan terima kasih kepada Pamungkas TNI AL dan ASA TNI/Polri 93/94 yang selama ini memberikan doa, dukungan dan motivasi dalam perjalanan pengabdiannya.

Kisah Andreas menjadi gambaran bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi akhir dari sebuah cita-cita. Jalan seseorang dapat berubah, tetapi kesempatan tetap bisa datang ketika keberanian untuk mencoba tidak pernah hilang.

Dari seorang lulusan SMA di Kediri yang sempat mengubur cita-cita menjadi dokter karena keterbatasan biaya, Andreas memilih jalan lain. Ia memulai karier sebagai Bintara, kemudian menjadi Perwira, hingga akhirnya dipercaya menyandang pangkat Kolonel.

Yang ingin ia tekankan kepada generasi muda, khususnya mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu, adalah bahwa keberhasilan tidak harus diawali dengan keadaan yang serba cukup.

Andreas juga menegaskan bahwa sepanjang proses masuk TNI AL hingga mencapai pangkat Kolonel, dirinya tidak pernah membayar sepeser pun—nol rupiah.


Pesan itu menjadi bagian penting dari kisah panjangnya.

Sebab, di balik pangkat yang kini tersemat di pundaknya, ada proses yang tidak singkat: keberanian mengambil kesempatan, ketekunan menjalani pendidikan dan penugasan, serta kesediaan untuk terus belajar dan mengabdi.

Dari Kediri, Andreas berangkat dengan cita-cita sederhana.

Lebih dari tiga dekade kemudian, perjalanan itu mengantarkannya menjadi seorang Kolonel TNI AL.

“Alon-alon waton kelakon.”

Pelan-pelan, yang penting sampai pada tujuan.

0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1