Jangan Biarkan Anak Mewarisi Luka Kita, Sahabat Genggam Teman Indonesia (GTI) Hadirkan dr. Aisah Dahlan


LUGAS | Jakarta Timur  -  Perempuan tidak hanya membutuhkan kemandirian ekonomi, tetapi juga ruang untuk bertumbuh, menguatkan diri, dan membangun keluarga yang sehat. Pesan inilah yang diangkat Sahabat GTI (Genggam Teman Indonesia) melalui Muslimah Inspiration Talk bertema “Luka yang Gak Sembuh, Akan Diwariskan” di HNI Plaza Ballroom, Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Selasa (13/10/2026).

Kegiatan yang dihadiri ratusan muslimah ini menghadirkan dr. Aisah Dahlan, CM.NLP., CCHt., CI, praktisi neuroparenting, serta Ustazah Ummi Yunengsih. Para peserta diajak memahami bagaimana pengalaman masa lalu dapat memengaruhi pola pengasuhan, pengelolaan emosi, dan hubungan dengan anak.

Pesan utamanya: orang tua tidak harus sempurna, tetapi perlu berani mengenali luka, memperbaiki respons emosional, dan mempraktikkan pola komunikasi yang lebih sehat agar anak tidak terus membawa pola luka yang sama.

Ketua Umum Sahabat GTI, Nining Suminar, menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan tidak cukup hanya berorientasi pada kesuksesan bisnis. “Kami ingin perempuan tidak hanya sukses berbisnis, tetapi juga mendapatkan ruang untuk belajar, saling menguatkan, dan membangun keluarga yang lebih baik. Karena keberhasilan perempuan juga berkaitan dengan kualitas kehidupan keluarga yang dibangunnya,” ujar Nining.

Senada dengan itu, Ketua Pembina Sahabat GTI, Lina Amri, menyampaikan bahwa pelaku UMKM perempuan menjalani banyak peran sekaligus. Di tengah perjuangan membangun usaha dan mengurus keluarga, mereka juga membutuhkan dukungan untuk bertumbuh secara pribadi.

“Bagi Sahabat GTI, pemberdayaan perempuan bukan hanya tentang omzet dan kemandirian ekonomi. Perempuan juga perlu ruang untuk mengenali diri, memperbaiki hubungan dengan keluarga, dan belajar menjadi lebih baik. Kami ingin ilmu hari ini benar-benar dipraktikkan di rumah, mulai dari mengelola emosi, memperbaiki komunikasi dengan pasangan, hingga berani meminta maaf kepada anak,” ungkap Lina.


Muslimah Inspiration Talk diselenggarakan melalui kolaborasi Sahabat GTI dengan Pexita Community, Queen Muslimah Community, HNI, CELLS, dan Khadijah. Kegiatan ini didukung Universitas Nusa Mandiri dan RS Bhakti Kartini, serta disponsori Cleo, Kispray, Wellmove, Wardah, Ina Cookies, Muslimadani, dan Galaxy Roll.

Dalam kesempatan itu, dr. Aisah Dahlan menjelaskan bahwa otak manusia menyimpan memori emosi di sistem limbik. Jika seorang ibu masih menyimpan trauma pengasuhan dari orang tuanya dulu — misalnya sering dibentak, tidak pernah divalidasi, atau merasa tidak cukup dicintai — maka respon otomatisnya saat stres akan sama.

Tanpa sadar kita berkata: "Dulu saya dibegitukan saja kuat, kamu harus lebih kuat." Kalimat yang terdengar mendidik, padahal sedang meneruskan luka.

Pemberdayaan perempuan tidak cukup hanya dengan seminar sehari. Dibutuhkan ekosistem yang saling menguatkan di 3 ranah:

a. Di Kehidupan Pribadi: Sembuhkan Diri Sendiri

Perempuan harus diberi ruang untuk berdamai. Bukan egois, tapi esensial. Seorang ibu yang baterai cintanya kosong tidak akan bisa mengisi baterai cinta anaknya. Mengisi ulang bisa dengan ilmu, dzikir, curhat yang aman, dan belajar memahami watak diri. Seperti yang sering disampaikan dr. Aisah Dahlan, kenali otakmu, kenali watakmu, maka kau akan lebih mudah mengelola emosi.

b. Di Keluarga: Menjadi Madrasah Pertama yang Sehat

Keluarga adalah pabrik peradaban. Pemberdayaan di keluarga berarti mengembalikan peran ibu sebagai _manajer emosi_ rumah tangga. Bukan hanya mengurus fisik anak, tapi membangun bahasa cinta yang tepat: kata-kata yang menguatkan (supportive), sentuhan fisik (pelukan 20 detik), waktu berkualitas (quality time tanpa gadget), pemberian yang bermakna, dan pelayanan dengan cinta. Ketika ibu bahagia, rumah tangga harmonis, anak tumbuh dengan tangki cinta yang penuh.

c. Untuk Generasi Berikutnya: Menyiapkan Rantai yang Tidak Putus

Inilah tujuan akhirnya. Ekosistem pemberdayaan yang kita bangun hari ini bukanlah untuk kita saja, tapi untuk menjangkau generasi berikutnya. Anak perempuan yang kita besarkan dengan penuh cinta hari ini, akan menjadi ibu yang tidak mewariskan luka 20 tahun lagi. Inilah investasi peradaban.

Melalui kegiatan ini, Sahabat Genggam Teman Indonesia (GTI) menegaskan komitmennya untuk membangun ekosistem pemberdayaan perempuan yang menyeluruh—mendorong perempuan mandiri secara ekonomi sekaligus bertumbuh dalam kehidupan pribadi dan keluarga. Sebab, ketika perempuan dikuatkan, dampaknya tidak berhenti pada dirinya sendiri, tetapi juga menjangkau keluarga dan generasi berikutnya. (AW) 
















0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1