LUGAS | BITUNG — Kebakaran yang melanda permukiman warga di Pateten Satu, Lorong 2, Kecamatan Aertembaga, Kota Bitung, Kamis, 15 Oktober 2026, menghanguskan 15 rumah dan berdampak pada empat rumah lainnya. Sebanyak 28 kepala keluarga atau 78 jiwa tercatat terdampak. Tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut.
Hingga Sabtu, 17 Oktober 2026, total kerugian material belum dapat dipastikan. Pemerintah setempat masih melakukan pendataan terhadap kerusakan bangunan dan harta benda warga yang terdampak kebakaran.
Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Sulawesi Utara telah turun ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan tempat kejadian perkara (TKP). Pemeriksaan itu diarahkan untuk menemukan titik awal munculnya api, menelusuri pola penjalaran kebakaran, serta mengumpulkan barang bukti guna mengungkap penyebab kejadian.
Lurah Pateten Satu, Kristiani Sugianto, S.E., mengatakan pemerintah kelurahan segera melaporkan kejadian tersebut kepada camat. Laporan itu kemudian diteruskan kepada jajaran pemerintah kota untuk mempercepat penanganan warga terdampak.
Menurut Kristiani, pemerintah telah berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial, untuk menyalurkan bantuan kebutuhan dasar kepada para korban.
“Bantuan bahan makanan sudah disalurkan melalui BPBD dan Dinas Sosial. Kami berterima kasih kepada pemerintah kota yang telah membantu masyarakat Pateten Satu yang terdampak kebakaran ini,” kata Kristiani.
Bantuan yang telah diterima warga antara lain makanan siap saji, mi instan, telur, gula, minyak goreng, dan pakaian. Pemerintah kelurahan juga berupaya menyiapkan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga yang terdampak.
Namun, kebutuhan para korban belum sepenuhnya terpenuhi. Warga masih memerlukan pakaian layak pakai, perlengkapan mandi, serta popok atau pampers untuk balita.
“Kami berharap bantuan juga datang dari relawan dan para dermawan. Yang sangat dibutuhkan sekarang antara lain pakaian layak pakai, perlengkapan mandi, dan popok untuk balita,” ujar Kristiani.
Terbangun oleh Teriakan Warga
Saat itu, kata Fadlan, listrik tiba-tiba padam sehingga keadaan menjadi gelap. Ketika keluar dari kamar, ia melihat kondisi rumah telah dipenuhi asap dan api sudah berkobar.
Dalam keadaan darurat tersebut, Fadlan hanya sempat menyelamatkan tas, telepon genggam, dan dompet. Sejumlah warga turut membantu mengamankan beberapa barang lainnya. Namun, sebagian besar harta benda tidak berhasil diselamatkan dan hangus terbakar.
Kesaksian tersebut menjadi salah satu informasi yang dapat didalami dalam penyelidikan. Meski demikian, keterangan mengenai kondisi rumah saat kejadian belum cukup untuk memastikan sumber api maupun penyebab kebakaran.
Labfor Periksa Lokasi dan Barang Bukti
“Kami mencari lokasi yang pertama kebakaran. Setelah itu, kami melihat pola penjalarannya, melakukan analisis awal, mengambil barang bukti, dan akan memeriksanya lebih lanjut di laboratorium forensik,” kata Hartanto.
Ia menjelaskan, pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk mengetahui apakah kebakaran tersebut merupakan pembakaran yang disengaja atau bukan. Karena itu, kesimpulan mengenai penyebab kebakaran belum dapat disampaikan sebelum pemeriksaan lebih lanjut selesai.
Hasil analisis laboratorium diharapkan memberikan petunjuk ilmiah mengenai titik awal api dan penyebab kebakaran. Temuan tersebut selanjutnya dapat menjadi bahan bagi penyelidikan lebih lanjut oleh pihak berwenang.
Sementara itu, pemerintah setempat masih berfokus pada pendataan kerugian dan pemenuhan kebutuhan dasar warga. Bagi 28 keluarga yang terdampak, bantuan darurat menjadi kebutuhan mendesak setelah kebakaran merusak tempat tinggal dan menghanguskan harta benda mereka.
Hingga berita ini diturunkan, penyebab kebakaran dan total kerugian material belum diketahui secara pasti. Tidak adanya korban jiwa dan luka menjadi kabar melegakan di tengah besarnya kerusakan yang dialami warga Pateten Satu.






