Pemkot Bitung Dampingi Rombongan Pemuda Jerman Kunjungi Wisata Religi di Lembeh

 



LUGAS | BITUNG — Pemerintah Kota Bitung menyambut dan mendampingi kunjungan rombongan pemuda dari Jerman yang melakukan perjalanan ke Pulau Lembeh, Kota Bitung, Jumat (9/10/2026).

Rombongan tersebut berkunjung ke salah satu destinasi wisata religi di Kelurahan Dorbolaan, Pulau Lembeh. Kunjungan berlangsung dalam rangkaian perjalanan mereka di Sulawesi Utara sekaligus mempererat hubungan kemitraan gereja antara Indonesia dan Jerman.


Pendampingan dari Pemerintah Kota Bitung dilakukan oleh Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan, John Michael Toar Sondakh, S.Sos., M.AP., bersama Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra). Rombongan bertolak menuju Lembeh melalui Dermaga Penyeberangan Ruko, Pateten, Bitung.

John Michael Toar Sondakh mengatakan, Pemerintah Kota Bitung mengapresiasi kunjungan tersebut. Menurutnya, kedatangan rombongan dari Jerman menjadi kehormatan bagi pemerintah maupun masyarakat Kota Bitung.


“Pemerintah Kota Bitung mengapresiasi kunjungan dari turis Jerman yang datang ke wisata religi yang ada di Pulau Lembeh. Ini satu kehormatan besar bagi pemerintah dan masyarakat kota,” kata John Michael kepada **TabloidLugas.com** di Dermaga Penyeberangan Ruko, Jumat (9/10/2026).

Ia menjelaskan, kunjungan tersebut bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Kota Bitung. Rombongan juga dijadwalkan mengunjungi kawasan wisata religi di Dorbolaan, termasuk replika Bait Suci yang menjadi salah satu tujuan perjalanan mereka.

“Kunjungan ini bertepatan di rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Kota Bitung. Kemudian ada kunjungan dari pendeta-pendeta yang ada di Jerman. Mereka akan berkunjung di Dorbolaan. Ada replika Bait Suci di Dorbolaan dan mereka akan berkunjung di sana,” ujarnya.

John mengatakan, untuk lama tinggal rombongan di Bitung masih menyesuaikan agenda perjalanan mereka. Rombongan telah berada di wilayah tersebut sejak sehari sebelumnya dan pada Jumat dijadwalkan menghabiskan kegiatan di Pulau Lembeh.

“Sudah dari kemarin mereka, kemudian hari ini berkunjung. Sebentar lagi lihat apakah mereka akan menginap atau stay di sini atau ada perjalanan selanjutnya. Jadi tinggal lihat. Tapi mereka hari ini full di Pulau Lembeh,” katanya.

Empat Dekade Kemitraan GMIM-EKHN

Di balik kunjungan tersebut terdapat hubungan kemitraan gereja yang telah berlangsung sekitar empat dekade antara Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) dan Evangelische Kirche in Hessen und Nassau (EKHN) di Jerman.

Pendeta Joachim Schuh, salah satu anggota rombongan, mengatakan kunjungan kali ini membawa delapan pemuda dari gerejanya di Jerman.


Menurut Joachim, program pertukaran pemuda antara kedua gereja telah berlangsung tiga kali. Hubungan tersebut kini kembali dilanjutkan melalui kunjungan pemuda Jerman ke Minahasa.

“Kami rombongan pemuda. Ada kemitraan sudah 40 tahun antara gereja GMIM dan gereja EKHN di Jerman Barat. Acara pertukaran pemuda itu sudah terjadi tiga kali,” ujar Joachim saat diwawancarai **TabloidLugas.com** di Dermaga Penyeberangan Ruko, Pateten, sebelum menyeberang ke Pulau Lembeh.

Ia mengatakan, kunjungan tersebut juga menjadi bagian dari persiapan pertukaran berikutnya. Pada Juni tahun depan, rombongan pemuda GMIM dijadwalkan berkunjung ke Jerman.

“Sekarang ada rombongan dengan delapan pemuda dari gereja kami yang mengunjungi Minahasa dan gereja GMIM. Tahun depan sudah ada rencana rombongan pemuda GMIM akan datang dan kami menerima di Jerman bulan Juni,” katanya.

Bukan Sekadar Berkunjung

Selama berada di Indonesia, rombongan tidak hanya melakukan perjalanan wisata. Mereka juga mengunjungi sejumlah jemaat dan mengikuti kegiatan bersama pemuda GMIM serta pemuda dari agama lain.

Joachim mengatakan, inti perjalanan tersebut adalah pertukaran pengalaman sekaligus pembelajaran mengenai kebudayaan Minahasa dan Indonesia.

“Ada beberapa kami kunjungi jemaat-jemaat dan ada acara bersama dengan pemuda GMIM, juga dengan pemuda agama lain. Tujuan pertama, pertukaran dan belajar dari kebudayaan Minahasa dan Indonesia,” ujarnya.

Ia mengaku mendapat kesan positif selama berada di Minahasa, terutama dari keterbukaan dan keramahan masyarakat.

“Kami sangat senang karena semua orang di Minahasa sangat terbuka. Itu sangat menarik kepada saya. Ramah-tamah di sini luar biasa,” kata Joachim.

Rombongan dijadwalkan berada di Indonesia sekitar satu setengah minggu. Mereka tiba pada Senin pekan ini setelah melakukan perjalanan dari Frankfurt, Jerman.

Kunjungan ke Lembeh menjadi salah satu agenda penting dalam perjalanan tersebut. Selain menikmati kawasan wisata, mereka juga dijadwalkan mengunjungi patung Yesus dan kawasan wisata religi di Dorbolaan.


Joachim mengatakan, kehadiran mereka di Lembeh juga tidak terlepas dari undangan pendeta dari jemaat GMIM setempat.

“Ada pendeta yang mengundang kami dari jemaat GMIM di sini dan kami sangat senang boleh hadir. Festival itu pasti kesan yang luar biasa, khusus untuk pemuda,” ujarnya.

Bagi delapan pemuda tersebut, perjalanan ke Indonesia juga menjadi pengalaman pertama.

“Mereka semua pertama kali di Indonesia,” katanya.

Lembeh Jadi Titik Kunjungan

Pada Jumat, rombongan memilih Lembeh sebagai tujuan utama perjalanan mereka. Dari Dermaga Penyeberangan Ruko, Pateten, mereka menyeberang menuju Pulau Lembeh untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang telah disiapkan.

Ketika ditanya mengenai pesan bagi masyarakat Bitung dan Indonesia, Joachim menyampaikan apresiasinya atas kesempatan bertemu langsung dengan masyarakat setempat.

“Kami sangat senang boleh hadir dan boleh kunjungi masyarakat Bitung dan masyarakat Lembeh,” katanya.

Ia juga sempat menyinggung kondisi cuaca yang menurutnya lebih bersahabat bagi rombongan asal Jerman.

“Hari ini juga sangat baik karena tidak sangat panas seperti kemarin, untuk kami orang Jerman, orang bule,” ujarnya.



Kunjungan tersebut memperlihatkan satu sisi lain hubungan Bitung dengan dunia luar: bukan semata soal perdagangan dan investasi, tetapi juga perjumpaan antarmasyarakat melalui gereja, pemuda, kebudayaan dan wisata religi.

Bagi rombongan Jerman, Lembeh menjadi bagian dari pengalaman pertama mereka mengenal Minahasa secara lebih dekat. Bagi Bitung, kehadiran mereka menjadi momentum memperkenalkan keramahan masyarakat sekaligus potensi wisata religi yang dimiliki daerah tersebut.

0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1