LUGAS | BITUNG — Kedatangan kapal pesiar mewah Queen Mary 2 di Pelabuhan Samudera Bitung, Selasa, 17 Maret 2026, bukan sekadar seremoni penyambutan wisatawan mancanegara. Di balik itu, terselip upaya sistematis membangun wajah baru pelabuhan—lebih siap, lebih tertata, dan berorientasi pada layanan kelas internasional.
Peran kunci terlihat pada Pelindo IV Cabang Bitung di bawah kepemimpinan James David Hukom. Sejak pagi, seluruh elemen operasional bergerak terkoordinasi: pengaturan sandar kapal, sterilisasi area dermaga, hingga penguatan layanan penumpang yang dirancang ramah bagi wisatawan asing. Standar pelayanan tidak lagi sekadar administratif, melainkan diarahkan pada pengalaman pengguna—cepat, aman, dan nyaman.
Dengan panjang kapal mencapai 344 meter dan membawa lebih dari 3.700 orang (penumpang dan kru), kedatangan Queen Mary 2 menjadi uji kapasitas nyata bagi Pelabuhan Bitung. Pelindo memastikan kesiapan fasilitas sandar, alur logistik, serta dukungan lintas instansi seperti imigrasi, bea cukai, dan karantina berjalan tanpa hambatan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Bitung tidak lagi sekadar pelabuhan transit, tetapi mulai diposisikan sebagai destinasi.
“Pelabuhan harus menjadi etalase pertama yang mencerminkan kualitas daerah,” ujar James David Hukom dalam kesempatan terpisah, menegaskan komitmen transformasi layanan yang sedang didorong di Bitung.
Di sisi lain, sinergi dengan pemerintah daerah dan Forkopimda memperkuat aspek keamanan dan penyambutan budaya. Tari Kabasaran, Cakalang, dan Lenso yang ditampilkan di dermaga bukan hanya atraksi seremonial, tetapi bagian dari strategi menghadirkan kesan awal yang kuat bagi wisatawan.
Kedatangan kapal pesiar ini juga membuka peluang ekonomi langsung bagi sektor pariwisata dan UMKM lokal. Namun, tantangan ke depan terletak pada konsistensi: apakah standar pelayanan yang ditunjukkan hari ini mampu dijaga dalam setiap kunjungan kapal internasional berikutnya.
Pelindo IV Bitung tampaknya menyadari hal itu. Dengan pembenahan berkelanjutan dan orientasi pada pelayanan global, pelabuhan ini perlahan diproyeksikan menjadi pintu gerbang pariwisata bahari Indonesia timur—bukan hanya ramai dikunjungi, tetapi juga diingat karena kualitas layanannya.



