LUGAS | BITUNG — Tawuran antar kelompok pemuda di Kompleks Unyil, Kelurahan Pateten Tiga, Kecamatan Maesa, Senin dini hari (27/4/2026), kembali menyingkap lapisan persoalan yang lebih dalam dari sekadar bentrokan jalanan. Di balik lemparan batu dan anak panah wayer, ada ruang pengawasan yang longgar—bahkan abai—dari lingkungan terdekat: keluarga.
Polres Bitung memang bergerak cepat. Sekitar pukul 02.10 WITA, laporan warga masuk melalui layanan 110. Dalam waktu kurang dari satu jam, tim gabungan yang terdiri dari Tim Tarsius dan Patroli Timur berhasil mengamankan lima terduga pelaku di kawasan berbeda. Barang bukti tak main-main: dua pisau penikam, belasan busur panah wayer, serta alat pelontarnya.
Namun, kecepatan respons aparat tak serta-merta menjawab akar masalah.
Dari penelusuran di lokasi, sejumlah warga mengaku bentrokan antar kelompok di wilayah itu bukan peristiwa baru. “Sudah sering. Biasanya malam, lewat tengah malam. Anak-anak ini seperti tidak terkontrol,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Pola yang muncul relatif seragam: kelompok pemuda dari beberapa kompleks berkumpul, dipicu dendam lama atau persoalan sepele, lalu berujung kekerasan terbuka. Senjata rakitan seperti panah wayer menjadi alat favorit—murah, mudah dibuat, dan mematikan.
Hasil interogasi awal polisi menguatkan dugaan itu. Para pelaku mengaku bergerak untuk mencari seseorang yang diduga terlibat konflik sebelumnya. Motif balas dendam—lingkaran klasik yang terus berulang tanpa intervensi serius.
Kasat Reskrim Polres Bitung, AKP Ahmad Anugrah, menegaskan bahwa proses hukum akan berjalan. “Kami tidak akan mentolerir aksi kekerasan. Semua pelaku diproses sesuai aturan,” katanya.
Tetapi penindakan, sejauh ini, masih bersifat reaktif.
Minimnya kontrol orang tua menjadi titik krusial yang jarang disentuh. Beberapa pelaku yang diamankan diketahui masih dalam usia produktif, bahkan ada yang belum mapan secara sosial maupun ekonomi. Mereka bebas berkeliaran hingga dini hari, membawa senjata, dan terlibat konflik kelompok—tanpa pengawasan berarti.
Seorang tokoh masyarakat setempat menyebut fenomena ini sebagai “krisis diam-diam” dalam pola asuh. “Orang tua banyak yang tidak tahu anaknya ke mana malam-malam. Atau tahu, tapi tidak mampu mengendalikan,” ujarnya.
Di sisi lain, ruang-ruang alternatif bagi anak muda juga nyaris tidak tersedia. Minimnya kegiatan positif, ditambah pengaruh kelompok sebaya, mempercepat eskalasi konflik kecil menjadi kekerasan massal.
Polres Bitung berjanji meningkatkan patroli dan langkah preventif. Namun, tanpa keterlibatan aktif keluarga dan lingkungan, aparat hanya akan terus berkejaran dengan peristiwa yang sama—di lokasi berbeda, dengan pelaku yang silih berganti.
Tarkam Pateten Tiga bukan sekadar soal kriminalitas. Ia adalah cermin retak dari kontrol sosial paling dasar: rumah. Ketika pengawasan orang tua melemah, jalanan mengambil alih—dan hukum datang terlambat.
