Perumda Duasudara Turun Lagi ke Madidir Ure: Uji Teknis Diperluas, Dugaan Pipa Air Dipertanyakan

 



LUGAS | BITUNG — Bunyi gemuruh disertai getaran yang meresahkan warga Lingkungan I, Kelurahan Madidir Ure, belum menemukan jawaban pasti. Setelah hampir tiga pekan memicu kecemasan, Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Duasudara Kota Bitung kembali turun ke lokasi, Senin (20/4), membawa pendekatan yang diklaim lebih komprehensif.

Kunjungan ini bukan yang pertama. Namun, kali kedua ini disebut membawa langkah lanjutan: pelibatan tenaga ahli dari kalangan akademisi untuk menelusuri sumber getaran yang hingga kini masih menyisakan tanda tanya.

Direktur Utama Perumda Air Minum Duasudara, Alfred Salindeho, menegaskan pihaknya tidak ingin bersandar pada asumsi yang berkembang liar di tengah masyarakat.

“Tim teknis dari akademisi akan kami hadirkan untuk melakukan pengecekan lebih dalam. Rencananya menggunakan alat pemetaan hingga kedalaman tertentu agar bisa memberikan gambaran yang jelas,” ujar Alfred saat dikonfirmasi, Senin.

Selama ini, dugaan paling dominan mengarah pada jaringan pipa air milik Perumda. Namun, Alfred tidak serta-merta mengamini.

Ia mengakui, di titik lokasi terdapat tiga pipa air berukuran kecil. Namun, menurutnya, secara logika teknis, sulit menjelaskan mengapa fenomena hanya muncul di satu titik, sementara jaringan pipa dengan kapasitas lebih besar tersebar di berbagai wilayah Kota Bitung tanpa menimbulkan efek serupa.

“Kalau dikaitkan dengan pipa, harusnya fenomena ini juga muncul di titik lain. Faktanya, tidak. Ini yang sedang kami dalami,” katanya.

Perumda mengklaim telah melakukan simulasi teknis, termasuk uji buka-tutup aliran air. Hasilnya, getaran memang terdeteksi, namun dalam batas yang disebut “wajar” pada sistem distribusi air bertekanan.

“Getaran pada pipa itu hal biasa dalam operasional. Tapi bunyi gemuruh yang dikeluhkan warga, itu yang perlu dipastikan. Pipa tidak mungkin menghasilkan suara seperti itu tanpa faktor lain,” ujar Alfred.

Pernyataan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa Perumda belum menarik kesimpulan final. Justru, investigasi teknis akan diperluas untuk menghindari spekulasi yang berpotensi menyesatkan publik.

Di sisi lain, warga masih menunggu kepastian. Kekhawatiran bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga potensi risiko yang belum teridentifikasi—mulai dari kemungkinan pergerakan tanah hingga gangguan infrastruktur bawah permukaan.

Langkah menggandeng akademisi dinilai sebagai upaya meredam kegelisahan sekaligus menjaga kredibilitas institusi. Namun, transparansi hasil investigasi menjadi kunci.

Perumda kini berada di persimpangan: membuktikan bahwa fenomena ini sekadar anomali teknis biasa, atau justru mengungkap persoalan yang lebih kompleks di bawah permukaan kota.

0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1