FKKS Jakarta Timur Gelar Milad ke-14 Bersama May Day dan Hardiknas 2026, Soroti Sinergi Hadapi Tawuran hingga Pinjol Pelajar

 
Wali Kota Administrasi Jakarta Timur Munjirin.


LUGAS | Jakarta Timur — Forum Komunikasi Komite Sekolah (FKKS) Kota Administrasi Jakarta Timur menggelar peringatan Milad ke-14 yang dirangkaikan dengan Hari Buruh Internasional (May Day) serta Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, Selasa (5/5/2026), di Aula Gedung C Kantor Wali Kota Jakarta Timur.

Mengusung tema “Silaturahim dan Sinkronisasi Pendidikan: Sinergi Komite Sekolah, Kepala Sekolah, dan Pemerintah”, kegiatan ini menjadi momentum strategis memperkuat kolaborasi dalam menghadapi persoalan pendidikan yang kian kompleks—mulai dari perundungan, tawuran, hingga keterlibatan pelajar dalam praktik pinjaman online (pinjol).

Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh penting lintas sektor. Di antaranya Ketua Umum KSPSI sekaligus Menteri Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo, serta Wali Kota Administrasi Jakarta Timur Munjirin. Hadir pula Ketua DPD KSPSI DKI Jakarta sekaligus Ketua FKKS Jakarta Timur Syamsul Bahri beserta jajaran.

Selain itu, jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Jakarta Timur turut hadir, termasuk Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana yang juga menjadi pemateri utama dalam sesi sinkronisasi pendidikan, didampingi Wakil Kepala Dinas Pendidikan Sarjoko. Turut hadir pula pejabat lain seperti Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi, Kepala Badan Kesbangpol, Wakil Wali Kota, Sekretaris Kota, para asisten, camat, hingga unsur pendidikan dan masyarakat.


Wali Kota: Perkuat Kolaborasi Tangani Masalah di Luar Sekolah

Dalam sambutannya, Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin, menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi antara kepala sekolah dan komite sekolah, terutama dalam menangani persoalan yang berada di luar kewenangan sekolah.

“Bagi sekolah yang masih ada bullying, tawuran, dan muridnya mungkin ada yang terlibat pinjol dan sebagainya, saya mohon ini untuk segera merapatkan barisan antara kepala sekolah dan komite sekolah,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan oleh pihak sekolah secara internal, sehingga peran komite menjadi sangat penting dalam menjangkau aspek sosial di luar lingkungan pendidikan formal.

“Saya yakin ada hal-hal di luar kemampuan kepala sekolah untuk mengintervensi. Ini bisa dikombinasikan dengan komite agar membantu di ranah yang tidak tercampuri urusan internal sekolah,” tambahnya.


Munjirin juga mengapresiasi rencana FKKS Jakarta Timur yang akan menggelar roadshow sinkronisasi pendidikan di tingkat kecamatan.
“Saya mohon para camat dapat mendukung dan memfasilitasi kegiatan tersebut. Ini penting agar sinergi tidak berhenti di tingkat kota saja,” katanya.


Ia menutup sambutannya dengan menegaskan bahwa pendidikan adalah kerja bersama.
“Dari pemerintah, komite sekolah, dan kepala sekolah, sama-sama kita garap anak-anak kita untuk menuju generasi emas yang lebih baik ke depan.”


Nahdiana, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta



Kadisdik DKI: Jakarta Timur Tawuran Tertinggi dan Tantangan Psikososial

Usai sambutan dan sesi apresiasi, kegiatan dilanjutkan dengan paparan sinkronisasi pendidikan oleh Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana. Ia menegaskan bahwa persoalan pendidikan tidak bisa diselesaikan secara sektoral.

“Kita tidak bisa kerjakan sendiri. Kepala sekolah memang memegang kendali, tetapi masalah seperti perundungan, pelecehan, dan tawuran membutuhkan keterlibatan semua pihak,” ujarnya.


Ia mengungkapkan bahwa Jakarta Timur masih menjadi wilayah dengan angka tawuran pelajar tertinggi, yang kerap terjadi di luar jam dan lingkungan sekolah.

“Kadang terjadinya bukan di sekolah, bukan di jam sekolah. Malam hari mereka keluar lagi. Ini menunjukkan ada ruang kosong dalam pembinaan kita,” jelasnya.

Nahdiana juga menyinggung kebijakan pemerataan pendidikan sejak 2020, yang menghapus dikotomi sekolah favorit demi menciptakan sistem yang lebih inklusif.

“Tidak ada lagi sekolah favorit, semua harus dalam kuadran yang sama. Bahkan di level bawah sering muncul kreativitas,” katanya.


Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan komunikasi antar pemangku kepentingan masih menjadi pekerjaan rumah. Ia mengibaratkan FKKS yang kini berusia 14 tahun seperti remaja yang sedang berkembang.

“Kadang diajak berpikir dewasa masih childish, tapi kalau diarahkan dengan baik bisa berprestasi,” ujarnya.


Lebih jauh, ia menyoroti ancaman psikososial akibat kurangnya sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

“Ada pola asuh orang tua, sekolah, masyarakat, dan media. Kalau tidak terhubung, anak bisa mencari ‘pendidikan’ di luar yang belum tentu benar,” tegasnya.

Ia bahkan menyinggung peristiwa serius di Jakarta pada November lalu yang melibatkan anak-anak sebagai pelaku dan korban, sebagai peringatan adanya celah dalam sistem pembinaan generasi muda.


H Syamsul Bahri Ketua Umum FKKS Jakarta Timur 



Dari Seremonial ke Aksi Nyata

Kegiatan Milad ke-14 FKKS ini tidak hanya menjadi ajang peringatan, tetapi juga forum konsolidasi lintas sektor. Hadirnya unsur pemerintah, organisasi pekerja, dunia pendidikan, hingga masyarakat menjadi sinyal kuat bahwa pembangunan pendidikan membutuhkan pendekatan kolaboratif.

Melalui rencana roadshow ke tingkat kecamatan dan penguatan komunikasi antar pemangku kepentingan, FKKS Jakarta Timur menegaskan komitmennya untuk menjadi jembatan strategis dalam membangun pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat secara karakter dan sosial.

Di tengah kompleksitas tantangan zaman, satu pesan mengemuka dari forum ini: masa depan generasi muda tidak bisa diserahkan pada satu pihak saja. Ia harus dibangun bersama—dengan sinergi, kepedulian, dan keberanian untuk menutup celah yang selama ini terabaikan.


(MP)

0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1